Berita

Net

Nusantara

Impor Beras Pukul Harga Gabah Petani

SELASA, 30 JANUARI 2018 | 14:51 WIB | LAPORAN:

Kebijakan impor beras sebanyak 500 ribu ton yang dilakukan Kementerian Perdagangan jelas-jelas merugikan petani. Salah satunya turunnya harga gabah di kalangan petani Jawa Tengah.

Padahal bahwa Jateng akan panen raya padi dengan luas mencapai sekitar 300 ribu hektare dengan produksi sekitar 6 ton per hektare.
 
"Dengan kondisi ini pasokan panen nantinya mencapai 900 ribu ton, namun harga Gabah Kering Panen (GKP) di petani turun sekitar Rp 800 per kilogram," ujar anggota Komisi B DPRD Jateng Ikhsan Mustofa kepada wartawan, Selasa (30/1).


Dia menjelaskan, di Kabupaten Kudus, panen raya padi dominan varietas ciherang dan IR64 dengan produktivitas 7-8 ton per hektare. Panen Januari seluas  1.730 hektare setara 6.228 ton beras, Februari 7.163 hektare setara 25.780 ton beras dan Maret 2.293 hektare setara 8.251 ton beras.

"Bila dibandingkan dengan konsumsi penduduk ‎841.499 jiwa dibutuhkan 6.513 ton beras per bulan, sehingga Februari surplus 19.267 ton beras dan Maret surplus 1738 ton. Ini bukan ilusi panen, harga gabah mulai turun," beber Ikhsan.

Panen padi di Jateng Januari 2018 seluas 109 ribu hektare, Februari 2018 seluas 329 ribu hektare dan Maret 293,6 ribu hektare. Produksi Januari adalah 613 ribu ton GKG setara 370 ribu ton beras, Februari 1.92 juta ton GKJG setara beras 1,16 juta ton beras, dan Maret 1,73 juta ton GKG setara 1,05 juta ton beras. Konsumsi beras penduduk Jateng sebanyak 34,49 juta jiwa adalah 267 ribu ton per bulan.

Lanjut Ikhsan, atas kondisi tersebut sebenarnya tidak perlu ada impor beras, mengingat konsumsi penduduk khususnya di Jateng mengalami surplus.

"Jadi bulan Januari terjadi surplus beras 102 ribu ton, Februari 891 ribu ton dan Maret 778 ribu ton. Namun harga gabah mulai turun sebelumnya pernah Rp 6.000 dan kini sekitar Rp 5.300 per kilogram. Di Kudus ini surplus beras, Jawa Tengah juga surplus dan harga mulai turun Rp 700," imbuhnya. [wah]

Populer

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

UPDATE

Strategi Perang Laut Iran Miliki Relevansi dengan Indonesia

Minggu, 19 April 2026 | 05:59

Inflasi Pengamat dan Ilusi Kepakaran di Era Digital

Minggu, 19 April 2026 | 05:45

Relawan MBG Kini Wajib Didaftarkan BPJS Ketenagakerjaan

Minggu, 19 April 2026 | 05:23

PB HMI Ajak Publik Pakai Rasionalitas Hadapi Polemik JK

Minggu, 19 April 2026 | 04:55

Perlawanan Iran: Prospek Tatanan Dunia Baru

Minggu, 19 April 2026 | 04:35

PDIP Setuju Parpol Wajib Lapor soal Pendidikan Politik Pakai Uang Negara

Minggu, 19 April 2026 | 04:15

JK: Rismon Mau Ketemu Saya dengan Tujuh Orang, Saya Tolak!

Minggu, 19 April 2026 | 03:53

Komnas HAM Desak Panglima TNI Evaluasi Operasi Militer di Papua

Minggu, 19 April 2026 | 03:30

Belajar dari Era Jokowi, PDIP Ingatkan Partai Koalisi Pemerintah Jangan Antikritik

Minggu, 19 April 2026 | 03:14

Indonesia Harus Belajar Filsafat dan Strategi dari Perang Laut Iran 2026

Minggu, 19 April 2026 | 02:55

Selengkapnya