Berita

Foto/Net

Nusantara

Duh, Politik Uang Di Pilkada Diprediksi Sulit Dibendung

SENIN, 29 JANUARI 2018 | 10:55 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Praktik politik uang di Pilkada Serentak 2018 diprediksi masih terjadi dan sulit dibendung. Sebab, ada anggapan bahwa membeli suara merupakan jalan pintas untuk mendulang suara sehingga dijadikan strategi pe­menangan.

"Dalam penyusunan strategi pemenangan, sudah merencana­kan dan menyiapkan alokasi anggaran untuk membeli suara," kata pengamat politik dari Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo mengatakan, kata Karyono kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Menurut Karyono, dalam berbagai fakta empirik, pemilihpragmatis kian meningkat. Meskipun, jika dilihat dari hasil survei tentang pengaruh politik uang tidak terlalu signifikan dalam mempengaruhi pemilih sehingga kandidat yang melaku­kan politik uang dalam berbagai bentuk dan metode tepat sasaran mampu mendongkrak suara.


"Fenomena ini seolah terjadi anomali antara temuan survei dengan realita. Mungkin ini dis­ebabkan adanya faktor psikolo­gis, karena responden cenderung gengsi jika menjawab akan menerima pemberian uang dan akan memilih kandidat pemberi uang," paparnya.

Karyono mengemukakan, politik uang bukan satu-satunya faktor menentukan kemenangan. Banyak faktor lainmenentukan kemenangan pasangan kandidat.

Sementara, Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif mengakusiap menangkap calon kepala daerah yang memainkan politik uang atau money politics untuk mendapatkan dukungan suara. "Kalau ada kandidat me­nawarkan uang dalam pemilihan nanti, tolak uangnya dan lapor­kan orangnya. Bila menawarkan untuk membeli suara, uang ditolak dan laporkan orang yang menawarkan itu," tegasnya.

Saat ini, KPK bekerja sama dengan Mabes Polri telah memiliki tim khusus, yakni Satuan Tugas (Satgas) dalam mengawalpilka­da mulai dari awal sampai seng­keta di Mahkamah Agung (MA) tersebar di seluruh Indonesia.

Soal teknis penanganan poli­tik uang, satgas yang dibentuk dan bertugas di daerah-daerah pelaksanaan pilkada di seluruh Indonesia akan menindaklanju­tinya. Tapi, dirinya enggan mer­inci serta membocorkan dimana personel tersebut ditempatkan.

Selain itu, lanjutnya, pelapo­ran politik uang harus disertakan dengan alat bukti kuat, seperti foto maupun video sehingga tim langsung menindak, menangkap pelakunya, termasuk orang me­nyuruhnya. ***

Populer

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

UPDATE

Strategi Perang Laut Iran Miliki Relevansi dengan Indonesia

Minggu, 19 April 2026 | 05:59

Inflasi Pengamat dan Ilusi Kepakaran di Era Digital

Minggu, 19 April 2026 | 05:45

Relawan MBG Kini Wajib Didaftarkan BPJS Ketenagakerjaan

Minggu, 19 April 2026 | 05:23

PB HMI Ajak Publik Pakai Rasionalitas Hadapi Polemik JK

Minggu, 19 April 2026 | 04:55

Perlawanan Iran: Prospek Tatanan Dunia Baru

Minggu, 19 April 2026 | 04:35

PDIP Setuju Parpol Wajib Lapor soal Pendidikan Politik Pakai Uang Negara

Minggu, 19 April 2026 | 04:15

JK: Rismon Mau Ketemu Saya dengan Tujuh Orang, Saya Tolak!

Minggu, 19 April 2026 | 03:53

Komnas HAM Desak Panglima TNI Evaluasi Operasi Militer di Papua

Minggu, 19 April 2026 | 03:30

Belajar dari Era Jokowi, PDIP Ingatkan Partai Koalisi Pemerintah Jangan Antikritik

Minggu, 19 April 2026 | 03:14

Indonesia Harus Belajar Filsafat dan Strategi dari Perang Laut Iran 2026

Minggu, 19 April 2026 | 02:55

Selengkapnya