Berita

Ilustrasi/Net

Nusantara

Kekerasan Atas Perempuan Dan Anak Masih Memprihatinkan

SABTU, 27 JANUARI 2018 | 06:17 WIB | LAPORAN:

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Fatayat NU Anggia Ermarini menilai dalam lima tahun terakhir, persoalan perempuan dan anak di Indonesia menunjukkan kondisi yang semakin berat. Meski dalam jumlah kasus yang terdata tampak menurun, namun jenis kasus yang dialami perempuan dan anak semakin bervariasi dalam bentuk kekejaman yang semakin parah.

Dalam catatan catatan tahunan Komnas Perempuan tahun 2017, secara kuantitas kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan terjadi sepanjang tahun 2016 berjumlah 259.150 kasus.

Jumlah ini menurun dari laporan catatan tahunan Komnas Perempuan tahun 2016 yang menyebutkan kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun 2015 berjumlah 321.752 kasus. Menurut Anggia, menurunnya angka ini karena adanya perubahan pola pendokumentasian di sejumlah lembaga negara.


"Tetapi faktanya jumlah kasus pengaduan langsung korban kepada Komnas Perempuan justru menunjukkan adanya peningkatan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (26/1).

Hal serupa terjadi dalam jumlah kasus kekerasan terhadap anak yang tercatat dalam Komisi Perlindungan Anak Indonesia.

Anggia menekankan pada tahun-tahun belakangan ini, Indonesia juga merasakan betul pengaruh perkembangan teknologi informasi.

Teknologi informasi telah menjadi wahana berbagai perdebatan dari yang paling bermutu hingga paling remeh temeh atau bahkan negatif.

Menurut dia, perkembangan teknologi seharusnya dapat dimanfaatkan untuk upaya penghapusan segala bentuk kekerasan, ketidakadilan, dan kemiskinan dalam masyarakat khususnya bagi perempuan dan anak dengan mengembangkan wacana kehidupan sosial yang konstruktif, demokratis, dan berkeadilan gender.

Selain itu, penting pula memastikan pendidikan bagi perempuan untuk membuka mata dan kesadaran, sebagai kunci untuk mengatasi kemiskinan, kebodohan, dan ketidakpedulian terhadap gerak perubahan zaman.

"Di zaman ini, merupakan arena atau medan gerakan Fatayat yang harus dicermati dengan kritis serta seksama agar Fatayat NU mampu merumuskan respon gerakan dengan baik dan relevan," tandasnya. [nes]

Populer

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

UPDATE

Strategi Perang Laut Iran Miliki Relevansi dengan Indonesia

Minggu, 19 April 2026 | 05:59

Inflasi Pengamat dan Ilusi Kepakaran di Era Digital

Minggu, 19 April 2026 | 05:45

Relawan MBG Kini Wajib Didaftarkan BPJS Ketenagakerjaan

Minggu, 19 April 2026 | 05:23

PB HMI Ajak Publik Pakai Rasionalitas Hadapi Polemik JK

Minggu, 19 April 2026 | 04:55

Perlawanan Iran: Prospek Tatanan Dunia Baru

Minggu, 19 April 2026 | 04:35

PDIP Setuju Parpol Wajib Lapor soal Pendidikan Politik Pakai Uang Negara

Minggu, 19 April 2026 | 04:15

JK: Rismon Mau Ketemu Saya dengan Tujuh Orang, Saya Tolak!

Minggu, 19 April 2026 | 03:53

Komnas HAM Desak Panglima TNI Evaluasi Operasi Militer di Papua

Minggu, 19 April 2026 | 03:30

Belajar dari Era Jokowi, PDIP Ingatkan Partai Koalisi Pemerintah Jangan Antikritik

Minggu, 19 April 2026 | 03:14

Indonesia Harus Belajar Filsafat dan Strategi dari Perang Laut Iran 2026

Minggu, 19 April 2026 | 02:55

Selengkapnya