Berita

Prof Andi Faisal Bakti/Net

Nusantara

Perang Bintang Yang Sinarnya Masih Redup

Pertarungan Di Jawa Barat (2/selesai)
KAMIS, 11 JANUARI 2018 | 09:28 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Oleh: Prof Andi Faisal Bakti

Pilkada rasa Pilpres akan terjadi di Pilgub Jawa Barat 2018. Dua tokoh bangsa, Megawati Soekarnoputri akan adu jago dengan Prabowo Subianto. Menariknya, masing-masing ketum partai itu sama-sama menurunkan jenderal TNI. Perang bintang siap dimulai.

Prabowo versus Mega sama-sama menurunkan purnawirawan bintang dua. TNI Mayjen (Purn) Sudrajat dijagokan Prabowo, sedangkan Mega memilih Mayjen (Purn) TNI Tubagus (TB) Hasanuddin. Namun, pemilihan wakil tidak sama. Prabowo menyandingkan Sudrajat dengan Wakil Walikota Bekasi Ahmad Syaikhu, sedangkan Mega memilih jenderal bintang dua dari kepolisian, Irjen Anton Charlian, mantan Kapolda Jabar. Komposisi ini menarik, baik Prabowo dan Mega sama-sama berharap ketegasan seorang jenderal mampu menarik perhatian warga Jabar. Prabowo membalutnya dengan sosok islami dan Mega menyempurnakannya dengan kearifan lokal. Anton, juga terkenal Nyunda-nya.


Masalahnya, baik jagoan Prabowo dan Mega terkendala soal popularitas. Dibandingkan dengan dua paslon lainnya, Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi, jago Mega dan Prabowo saat ini kalah tenar.

Sudrajat, sekalipun sudah dilaunching Prabowo bulan lalu, warga Jabar banyak yang belum mengenalnya. Pun dengan TB Hasanuddin. Tubagus itu gelar di Banten. Bisa saja ada sebutan itu 'bukan kita' bagi warga Jabar. Sekalipun TB menjabat di DPR, dia kurang menggaung di daerah.

Melihat kurang kuatnya pamor personal jagoan masing-masing, rasa percaya diri Prabowo dan Mega menarik ditelusuri. Sejarah mencatat, PDIP adalah partai pemenang Pileg 2014 di Jabar meraih 18,95 persen suara dengan raihan 20 kursi DPRD Jabar. Tanpa koalisi, PDIP bisa mengajukan calonnya sendiri.

Prabowo juga punya alasan. Selang tiga bulan berikutnya, di Pilpres 2014 Prabowo-Hatta unggul dengan perolehan suara 14.167.381 atau 59,78 persen. Sementara, pasangan Jokowi-JK mendapat suara 9.530.315 atau 40,22 persen.

Inilah mengapa Pilgub Jabar serasa Pilpres. Siapa sutradara terbaiknya. Prabowo atau Mega. Pemenang Jabar ini juga ukuran memenangkan Pilpres 2019. Apalagi Jabar merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbesar se-Indonesia, dengan 35 juta pemilih.

Tapi itu sejarah. Pilkada Jabar masih lima bulan lagi. Siapa yang paling hebat meracik program kerja dan menjaga isu bisa mengambil celah menyaingi popularitas Kang Emil, yang selalu unggul di setiap survei, juga Demiz, Wakil Gubernur Jawa Barat.

Analisa saya di Pilgub Jabar, jagoan Mega yang paling berat. Bisa dibilang sulit menandingi popularitas Emil atau Demiz. Apalagi, basis massa Jabar islami. Belum lagi, masih terngiang peristiwa aksi 212, reaksi atas penistaan agama yang dilakukan Ahok. Jabar bisa dibilang penyumbang massa terbesar di Aksi Bela Islam.

Nah, politik aliran dan komunal (islam) ini yang bisa digunakan Sudrajat-Syaikhu untuk meroketkan namanya. Apalagi Syaikhu merupakan tokoh PKS yang memiliki kader militan. Diusung Gerindra-PAN-PKS, dipastikan mesin partai jagoan Prabowo cepat panas di Jabar. Meski TB-Anton juga punya mesin partai solid, PDIP.

Tapi, jika tidak ada kejutan di Pilgub Jabar, bisa diprediksi pemenangnya antara Emil atau Demiz. Kejutan bisa muncul jika ada gerakan massa besar seperti yang terjadi di Jakarta, Anies-Sandi mengalahkan Ahok-Djarot. Prabowo menang, Mega kalah. Isu ini bisa saja muncul.

Kenapa saya bilang TB-Anton sulit menang, karena sosok PDIP dengan Mega bisa menjadi sasaran serang basis massa Islam. Jika isu primordial ini dipelihara, Prabowo bisa menjadi bintangnya.

Efeknya, Sudrajat-Syaikhu menjadi populer dan bisa menyaingi kekuatan individu Emil atau Demiz. Jadi, ini tergantung ke mana arah suara islam. Jika ada kejutan, jagoan Prabowo menang. Tapi, untuk jagoan Mega, ada atau tidak ada kejutan paling sulit untuk menang. ***

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

CELIOS Ungkap Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026

Rabu, 22 April 2026 | 14:13

Penambahan Komando Teritorial Berpotensi Seret TNI ke Politik Praktis

Rabu, 22 April 2026 | 14:05

Mega Syariah Bukukan Akuisisi Dana Pihak Ketiga Rp709 Miliar

Rabu, 22 April 2026 | 14:01

Prabowo Bakal Perbanyak Konser K-Pop di Indonesia

Rabu, 22 April 2026 | 13:49

Konsumsi BBM Harus Bijak di Tengah Gejolak Harga

Rabu, 22 April 2026 | 13:48

Komisi X DPR Sesalkan Dugaan Kecurangan Peserta UTBK Undip

Rabu, 22 April 2026 | 13:48

YLKI Sebut Pajak Tol Salah Sasaran dan Memberatkan Rakyat

Rabu, 22 April 2026 | 13:38

IHSG Sesi I Terkoreksi ke Level 7.544 di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Timur Tengah

Rabu, 22 April 2026 | 13:24

Purbaya Pastikan Nasib Utang Whoosh Sudah Rampung

Rabu, 22 April 2026 | 13:10

Prabowo Jajaki Peluang Kirim WNI Ikut Program Kosmonaut Rusia

Rabu, 22 April 2026 | 12:58

Selengkapnya