Berita

Nusantara

LIRA Minta KPK Telisik Dugaan Mahar Politik Rahmat Effendi Di Pilkot Bekasi

SELASA, 09 JANUARI 2018 | 03:07 WIB | LAPORAN:

Lembaga Swadaya Masyarakat Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Sekjen PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kritiyanto dan Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi.


Walikota LIRA Kota Bekasi Daeng Syahrir meniljelaskan keduanya diduga melakukan transaksi jual beli 12 kursi PDIP rekomendasi di Pilkada Kota Bekasi.

Dugaan tersebut didasari kecenderungan berubahnya arah dukungan PDIP ke pasangan Rahmat Effendi (petahana) dan Tri Adhianto, kader PAN yang menjabat sebagai Birokrat Kota Bekasi.

Menurut Daeng, Hasto selaku pemangku kebijakan di PDIP diduga menerima sejumlah uang dari Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi sebagai penyelenggara negara. Uang tersebut disinyalir merupakan imbalan agar PDIP mengeluarkan rekomendasi untuk Rahmat dan Tri Adhianto.

"KPK harus menangkap Hasto dan Pepen karena keduanya dicurigai melakukan transaksi berupa uang agar rekomendasi PDI Perjuangan turun untuk Pepen dan Tri Adhianto," ujarnya kepada wartawan, Senin (8/1).

Daeng menambahkan sebagai Walikota Lira, dirinya mengemban tugas untuk mengontrol kinerja para pejabat di wilayah Kota Bekasi. Termasuk para elit politik yang melakukan konspirasi politik praktis. 

Daeng menambahkan sebagai Walikota Lira, dirinya mengemban tugas untuk mengontrol kinerja para pejabat di wilayah Kota Bekasi. Termasuk para elit politik yang melakukan konspirasi politik praktis. 

Dirinya berharap KPK menelisik dugaan mahar politik di Pilkot Bekasi. Apalagi kata dia, KPK sendiri memiliki komitmen menciptakan iklim penyelenggaraan negara yang bebas dari tindakan korupsi di Indonesia.

"Ini akan saya laporkan secara resmi ke KPK. Saya kira tidak ada keraguan lagi bagi KPK untuk mencokok dua orang tersebut. Karena bermain uang dalam urusan Pilkada. Kalau baru maju sudah bicara suap, apalagi nanti kalau sudah menjabat. Nah KPK sudah sewajarnya dan seharusnya bertindak tanpa ada keraguan," pungkasnya. [nes]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Pledoi Petrus Fatlolon Kritik Logika Hitungan Kerugian Negara

Kamis, 23 April 2026 | 00:02

Tim Emergency Response ANTAM Wakili Indonesia di Ajang Dunia IMRC 2026 di Zambia

Kamis, 23 April 2026 | 00:00

Diungkap Irvian Bobby: Noel Gunakan Kode 3 Meter untuk Minta Rp3 Miliar

Rabu, 22 April 2026 | 23:32

Cipayung Plus Tekankan Etika dan Verifikasi Pemberitaan Media Massa

Rabu, 22 April 2026 | 23:29

Survei TBRC: 84,6 Persen Publik Puas dengan Kinerja Prabowo

Rabu, 22 April 2026 | 23:18

Tagar Kawal Ibam Trending X Jelang Sidang Pledoi

Rabu, 22 April 2026 | 23:00

Dorong Transparansi, YLBHI Diminta Perkuat Akuntabilitas Publik

Rabu, 22 April 2026 | 22:59

Penyelenggaraan IEF 2026 Bantah Narasi Sawit Merusak Lingkungan

Rabu, 22 April 2026 | 22:52

Belanja Ramadan-Lebaran Menguat, Mandiri Kartu Kredit Tumbuh 24,3%

Rabu, 22 April 2026 | 22:32

Terinspirasi Iran, Purbaya Kepikiran Pajaki Kapal yang Lewat Selat Malaka

Rabu, 22 April 2026 | 22:30

Selengkapnya