Berita

Net

Nusantara

USBN Untuk SD Hanya Memberatkan Siswa Dan Guru

SENIN, 08 JANUARI 2018 | 20:00 WIB | LAPORAN:

Rencana pemerintah menerapkan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) untuk tingkat Sekolah Dasar memicu polemik.

Penerapan USBN yang akan menguji delapan mata pelajaran ini dinilai akan memberatkan siswa dan guru.

Menruut peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Sugianto Tandra, pemerintah perlu mempertimbangkan dengan matang apakah kebijakan itu akan memunculkan kondisi pembelajaran yang menambah stres anak didik, seperti yang kerap dikeluhkan selama ini. Apalagi, kebijakan juga mempertimbangkan penambahan beban yang diujikan yang dikhawatirkan memberatkan anak didik maupun guru.


"Ujian seharusnya tidak mesti didesain seperti itu, apalagi untuk diadakan setiap tahun. Selain penambahan beban yang perlu dipertimbangkan, perlu dipertimbangkan pula ujian yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Dalam kurun waktu tiga tahun tersebut anak bisa juga dipacu untuk giat belajar, bahkan lewat kondisi yang lebih kondusif. Terpenting, kondisi pembelajaran yang terbangun malah mungkin lebih efektif menanamkan hal-hal ini pada anak, seperti tumbuhnya rasa ingin tahu yang besar, rasa senang dan motivasi besar untuk belajar. Hal-hal tadi lebih penting daripada yang sekedar mengharuskan mereka menghafal," terangnya kepada redaksi, Senin (8/1).

Sugianto mengatakan, pemerintah seharusnya menerapkan kebijakan yang bisa memastikan anak didik belajar tanpa stres atau tertekan. Oleh karena itu, penambahan beban yang diujikan menjadi tidak tepat.

"Ujian seperti ini seharusnya tidak dilaksanakan setiap tahun, bisa dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Dalam kurun waktu tiga tahun tersebut anak dipacu untuk giat belajar. Tapi pemerintah jangan sampai lupa menanamkan hal ini pada anak, yaitu menumbuhkan rasa ingin tahu yang besar, senang belajar dan termotivasi untuk mencari tahu. Hal-hal tadi lebih penting daripada hanya menghafal," paparnya.

Ide untuk memberikan pertanyaan esai dalam USBN juga perlu didukung dengan pelajaran seperti menulis akademik. Hal itu perlu diajarkan sejak kecil, misalnya bagaimana menulis esai sederhana dalam lima paragraf.

"Selain itu, apakah guru sudah dilatih untuk mengajar menulis seperti ini. Penting karena pertanyaan esai perlu jawaban yang selain dipikirkan secara kritis juga butuh teknik," ujar Sugianto.

Dengan adanya panduan menulis akademis yang memadai, jawaban yang diberikan siswa tidak melulu dengan menghafal. Siswa diharapkan juga bisa menuliskan esai dengan gaya bertutur mereka. Ke depan, keterampilan menulis esai ini juga tidak hanya bermanfaat untuk mengikuti ujian tapi juga untuk jenis karya penulisan lainnya.

"Hal itu adalah keterampilan yang sangat penting dibangun, yaitu membekali anak untuk belajar pada tahap lanjut," tegas Sugianto.

USBN sendiri direncanakan untuk menggantikan Ujian Sekolah (US). Sebelumnya, USBN hanya untuk jenjang SMP/SMA/SMK dan sederajat. USBN SD akan diterapkan pada ujian akhir tahun ajaran 2017/2018 dengan menguji delapan mata pelajaran, yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, PKN, Seni Budaya dan Prakarya, Pendidikan Jasmani Olah Raga dan Kesehatan serta Pendidikan Agama. Pada US tahun ajaran 2016/2017, siswa SD hanya mengerjakan tiga mata pelajaran, yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA. [wah]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Pledoi Petrus Fatlolon Kritik Logika Hitungan Kerugian Negara

Kamis, 23 April 2026 | 00:02

Tim Emergency Response ANTAM Wakili Indonesia di Ajang Dunia IMRC 2026 di Zambia

Kamis, 23 April 2026 | 00:00

Diungkap Irvian Bobby: Noel Gunakan Kode 3 Meter untuk Minta Rp3 Miliar

Rabu, 22 April 2026 | 23:32

Cipayung Plus Tekankan Etika dan Verifikasi Pemberitaan Media Massa

Rabu, 22 April 2026 | 23:29

Survei TBRC: 84,6 Persen Publik Puas dengan Kinerja Prabowo

Rabu, 22 April 2026 | 23:18

Tagar Kawal Ibam Trending X Jelang Sidang Pledoi

Rabu, 22 April 2026 | 23:00

Dorong Transparansi, YLBHI Diminta Perkuat Akuntabilitas Publik

Rabu, 22 April 2026 | 22:59

Penyelenggaraan IEF 2026 Bantah Narasi Sawit Merusak Lingkungan

Rabu, 22 April 2026 | 22:52

Belanja Ramadan-Lebaran Menguat, Mandiri Kartu Kredit Tumbuh 24,3%

Rabu, 22 April 2026 | 22:32

Terinspirasi Iran, Purbaya Kepikiran Pajaki Kapal yang Lewat Selat Malaka

Rabu, 22 April 2026 | 22:30

Selengkapnya