Berita

Ahmad Zainuddin/Net

Kesehatan

Komisi IX: Penanganan Wabah Difteri Harus Dievaluasi

SENIN, 25 DESEMBER 2017 | 08:10 WIB | LAPORAN:

Jumlah warga terserang penyakit difteri terus bertambah. Wilayah dengan status Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri pun semakin meluas menjadi 28 provinsi.

Anggota Komisi Bidang Kesehatan DPR, Ahmad Zainuddin mengatakan, penanganan wabah difteri harus dievaluasi. Sebab menurutnya, wabah difteri yang sudah berlangsung lebih dari sebulan ini terus meluas dan bertambah korbannya.

"Kita semua prihatin, wabah ini belum juga berkurang. Karenanya penanganan difteri harus terus dievaluasi agar semakin baik dan efektif," ujar Zainuddin di sela-sela kegiatan resesnya di Ciracas, Jakarta Timur, Minggu kemarin (24/12).


Politisi PKS ini menilai, upaya pemberantasan wabah difteri belum efektif karena terkesan hanya dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Padahal semua pemangku kepentingan harusnya terlibat aktif. Lembaga negara baik kementerian maupun non-kementerian dan institusi swasta hingga tokoh-tokoh masyarakat secara terintegrasi harus ikut serta dalam pemberantasan difteri.

Pemberian vaksi anti-difteri memang domain dari Kemenkes. Namun, terang dia, upaya sosialisasi, mobilisasi masyarakat dan pencegahan dapat dilakukan pihak lain.

"Saya melihat presiden belum terlalu concern soal ini. Padahal Indonesia sekarang terbanyak kedua penderita difteri di dunia setelah India, dan terbesar dalam sejarah kita sejak tahun 1945," imbuhnya.

Selain itu, menurut Zainuddin, pemerintah juga harus mengevaluasi terkait maraknya sikap anti-imunisasi di masyarakat. Karena jika sikap ini terus meluas, bukan tidak mungkin seluruh provinsi akhirnya berstatus KLB dan bisa muncul wabah lainnya.

Salah satu pemicu anti-imunisasi di masyarakat menurutnya, munculnya persepsi ketidakhalalan vaksin.

"Ini faktor yang juga harus diperhatikan, sertifikasi halal setiap vaksin. Pemerintah harus mengakomodasi suara masyarakat agar sikap anti-imunisasi tidak terus meluas. Bukankah pemerintah menilai wabah terjadi karena maraknya anti-vaksin?" pungkas Zainuddin.

Jumlah kasus difteri meningkat hingga 600 kasus dan 40 di antaranya meninggal dunia. Wilayah yang ditetapkan status KLB difteri juga bertambah menjadi 28 provinsi.[wid]


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Gibran Tanpa Ijazah

Senin, 05 Oktober 2026 | 00:26

Prabowo dan Presiden FIFA Bakal Saksikan Laga Indonesia Versus Thailand

Senin, 05 Oktober 2026 | 00:07

GPNN: Listyo Berhasil Ubah Kultur Kerja Polri

Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:47

Wantimpres Bukan Sekadar Membenarkan Keputusan Kekuasaan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:20

Indonesia Akhiri Asian Games 2026 dengan 5 Emas

Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:03

95 Persen Aspirasi Buruh Diklaim Masuk RUU Ketenagakerjaan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:45

DPR Yakin Merger BUMN Mampu Dongkrak Dividen

Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:19

Putusan Sidang Etik Mantan Kasat Reskrim Jakpus Dipertanyakan Kuasa Hukum

Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:56

Densus 88 Sikat 11 Tersangka Terorisme di Enam Provinsi

Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:35

Ketum PPP Targetkan Satu Fraksi di DPRD Surabaya pada Pemilu 2029

Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:23

Selengkapnya