Berita

Politik

Menteri Hanif Dorong Transformasi Digital Bagi Pekerja

JUMAT, 22 DESEMBER 2017 | 03:20 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Era transformasi ke dunia digital jadi ketakutan tersendiri bagi para pekerja di lingkungan produksi atau pabrik. Bukan tak bisa bersaing, tapi biaya operasional yang lebih efisien jadi alasan sebagian besar perusahaan di dunia industri.

Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri mengatakan, penerapan strategi transformasi digital penting untuk menjaga agar jangan terjadi guncangan di industri.

"Baik dalam arti bisnis shock dan kalah bersaing dan kemudian tutup. Atau man power shock perusahaan bisa survive tapi ada phk besar-besaran. Kita ingin semua itu diantisipasi, " kata Menteri Hanif dalam kongres Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia  (SPSI) di Ancol, Jakarta Utara, Rabu (20/12).


Hanif melanjutkan, yang tidak kalah pentingnya adalah akses pelatihan kerja harus terus dilakukan untuk meningkatkan skill bagi angkatan kerja baru atau yang lama.

"Sehingga pekerja yang level pendidikan rendah, kalau ada akses pelatihan yang baik, bisa meningkat kualitas pekerjaannya, hasil meningkat, kesejahteraan meningkat," beber Hanif.

Meski begitu, Hanif mengaku era digital atau robotisasi sudah bisa dirasakan. Namun memang belum merata di semua wilayah Indonesia. Yang penting, kata dia, saat ini langkah antisipasi sudah harus dijalankan.

"Kita sudah bisa rasakan tapi belum disemua tempat tapi ini kan trend ke depan jangan sampai kita kelagapan begitu sudah booming semua. Ketika ini sudah muncul harus kita antisipasi. Jadi dalam lima tahun sampai sepuluh tahun  kedepan kita ready, " ujar dia.

Di tempat yang sama, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia  (SPSI) Andi Gani Nena Wea mengatakan, pemerintah harus segera merespon atas fenomena digitalisasi untuk menyelamatkan para pekerja. Untuk itu dalam kongres ke 9 yang digelar SPSI di Ancol isu era digital juga dibahas serius.

"Sekarang diseluruh dunia ada ketakutan digitalisasi atau robot. Ada pabrik yang awalnya pekerjanya ada 10 ribu orang sekarang hanya 5 ribu orang dan diganti robot. Ini pemerintab harus merespons karena akan banyak pekerja kehilangan pekerjaan dan mengantisipasi dengan keterampilan, " beber Andi.[dem] 

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Status Hukum dan Akuntansi Danantara Alami Kebingungan

Minggu, 26 Juli 2026 | 03:23

Koops TNI Habema Berhasil Evakuasi Dua Korban Aksi Kekerasan di Yahukimo

Minggu, 26 Juli 2026 | 02:57

Pembangunan Papua Harus Dimulai dari Pendidikan Anak

Minggu, 26 Juli 2026 | 02:42

Pengusutan Diskriminasi WNI di Bali Penting Buat Jaga Wibawa Hukum

Minggu, 26 Juli 2026 | 02:24

Dari Ekopol Kolonial Menuju Berdaulat

Minggu, 26 Juli 2026 | 01:57

Generasi Emas Institute jadi Harapan Baru Anak Muda Menatap 2045

Minggu, 26 Juli 2026 | 01:33

Lahirnya Generasi Hebat OAP Tolok Ukur Keberhasilan PSN Papua

Minggu, 26 Juli 2026 | 01:10

Polda Jabar Selidiki Penemuan Jenazah Seorang Satpam di Waduk Jatiluhur

Minggu, 26 Juli 2026 | 00:53

Cegah Bad Mining Lewat Koperasi

Minggu, 26 Juli 2026 | 00:35

Dana Keistimewaan Yogyakarta Sukses Berdayakan Masyarakat

Minggu, 26 Juli 2026 | 00:12

Selengkapnya