Berita

MG International/net

Hukum

Dramaturgi BNN Diskotik MG: Apaan Masyarakat Yang Salah?

RABU, 20 DESEMBER 2017 | 07:56 WIB | OLEH: DJOKO EDHI ABDURRAHMAN

ADA yang salah dari Humas BNN. Kasus psikotropika Diskotik MG International Club menyalahkan masyarakat karena apatis sehingga MG bisa beroperasi 2,4 tahun: tak terendus BNN. Jika tak salah adalah pernyataan Kombes Sulis.

Berani bertaruh salah berat si Sulis. Mengapa masyarakat yang jadi keliru? Sejak kapan masyarakat diikutkan dalam operasi perang narkoba?

Saya sejak 2005 jadi Ketua Dewan Penasihat SIAN BNN. Ini ormas pertama di bawah BNN ketika Kapolrinya Jenderal Sutanto dan didirikan oleh Sutanto.


SIAN adalah akronim dari Seniman Indonesia Anti Narkoba, didirikan sewaktu Jenderal Mangku Prastika jadi Kalahar BNN.

SIAN BNN itu hidup tak mau, matipun segan, karena setelah Sutanto, masyarakat tak dilibatkan dalam operasi pemberantasan narkoba. Yaitu, biaya perang terhadap narkoba internasional itu, ditambah aset rampasan dari BD (bandar), tak cukup untuk sekadar dibagi-bagi di internal. Apalagi mengikutkan masyarakat. Sebagian besar BNN memang jadi kaya raya, tapi partisipasi masyarakat kian tak ada, kian eksklusif, tanpa idealisme, tinggal urusan bagi-bagi. Mengapa sekonyong-konyong masyarakat yang jadi tertuduh? Salah berat si Sulis.

Mustahil 1000%, BNN tak tahu soal MG dini hari. Mana ada pesta triping ratusan orang tak ketahuan cepu kalau bukan piaraan? Mengada-ada! Mana ada triper yang mampu menutup mulutnya setelah pakau? Mana ada diskotik yang tak ada cepunya, apalagi di Jakarta Barat. Bikin cerita saja tak beres. Belajar dari penulis skenario Pak Bro yang setidaknya tidak paradoks. Piaraan disebut rahasia, berkamuflase,  ayak-ayak wae BNN.  Lalu, pemiliknya kabur pula. Padahal TO nya menangkap ratusan orang. Pasti restiknya baru keluar kardus dong lalu jadi penjaga ATM. Ong-boongan, kata orang Madura.

Tadinya saya percaya Jenderal Buwas. Sekarang tidak lagi. Rezim BNN ini sudah persis sama tipologinya dengan kekuasaan Jenderal Gores Mere, yang kini jadi pembisik Presiden Jokowi.

Lalu kekuasaan itu dua putaran diganti kekuasaan Jenderal Anang Iskandar yang diametral habis dengan Gores. Lalu masuk Jenderal Buwas, yang lebih mirip Jenderal Ronin.

Banyak harapan disandangkan ke Buwas yang awalnya idealis, bahkan pemakai yang adalah victim mau ia hukum mati pula. Ohh, lone wolf. Darah segar. Berani lawan Tommy Winata dan Iwan Bule adalah prestasi sendiri. Yakinlah kita, dramaturgi narkoba dapat diakhiri sang Jenderal Ronin.

Saya pun berdoa, semoga BNN benar bertumbuh kembang menjadi jati diri DEA, dipimpin Jenderal Ronin. Apalagi didampingi Jenderal Depari yang rambutnya disanggul, ala gondrong 1970-an. Habislah BD dilibas BNN. Sampai Diskotik MG digerebeg, muncul big question: kok makin gawat dramaturginya?

Data Narkoba lebih miris. Tak ada narkoba berkurang sama sekali. Malah kian banyak di pasar. Padahal di TV, yang ditangkap banyak banget. Barang bukti kembali ke pasar, sampai bongkok pun, takkan ada narkoba yang berkurang. Sudah masanya mencari Jenderal Ronin baru, agar Buwas bisa jadi Cawapres saja daripada rusak semua! [***]

Penulis adalah Anggota Komisi III DPR 2004 - 2009, Wakil Sekretaris Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama, PBNU.


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Kasus Bansos, Kabulog Jateng hingga Pejabat Pemkab Brebes dan Jember Diperiksa KPK

Rabu, 09 September 2026 | 14:28

Purbaya Bakal Tarik Dana Daerah yang Mengendap Rp100 Triliun di Bank

Rabu, 09 September 2026 | 14:26

Rumah Digeledah, Direktur PT CMC Diperiksa KPK Hari Ini

Rabu, 09 September 2026 | 14:06

Rugikan Negara Rp35,7 Miliar, KPK Panggil Direktur PT Brantas Abipraya

Rabu, 09 September 2026 | 13:49

Kata Bonjopi, Persib si Raja Comeback

Rabu, 09 September 2026 | 13:39

Punya 12 Pabrik Sawit, Legislator Nilai Sintang Cocok Jadi Basis Produksi B50

Rabu, 09 September 2026 | 13:29

Pakistan: Serangan Houthi ke Saudi Bisa Aktifkan Pakta Pertahanan Mekkah

Rabu, 09 September 2026 | 13:27

PISA 2025 Tak Banyak Bergerak, Indonesia Sedang Menormalisasi Krisis Pembelajaran

Rabu, 09 September 2026 | 13:02

Penyaluran B50 Tembus 3,4 Juta KL, 94 Persen SPBU Sudah Salurkan Biodiesel

Rabu, 09 September 2026 | 12:47

Tim SAR Diminta Maksimalkan Pencarian Lima Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Rabu, 09 September 2026 | 12:38

Selengkapnya