Berita

Dedi Mulyadi/Net

Nusantara

PILKADA JABAR

Dedi Mulyadi Bukan Tokoh Ecek-ecek, Golkar Blunder!

SENIN, 06 NOVEMBER 2017 | 15:30 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Keputusan DPP Partai Golkar mengusung Walikota Ridwan Kamil sebagai calon gubernur Jawa Barat mendapat reaksi keras dari banyak pihak termasuk dari kader Golkar sendiri.

Didepaknya Ketua DPD Partai Golkar Jabar Dedi Mulyadi sebagai bakal calon gubernur dianggap tindakan harakiri politik yang keterlaluan.

Ini dianggap akan meruntuhkan dominasi Golkar, padahal Jabar merupakan lumbung suara Golkar nasional dan dalam Pilpres 2014 lalu kekalahan Jokowi di Jabar terbilang cukup telak, semua itu diakui sebagai salah satu kontribusi Golkar Jabar yang solid.


Pengamat politik dari Lembaga Survei Politik Indonesia (LSPI) Jabar, Fadlullah Mujani mengatakan keputusan politik yang kontroversial akan selalu ada risikonya. Risiko politik bagi Golkar yang paling besar adalah ditinggalkan para pendukungnya di Jabar.

Fadlullah menjelaskan bahwa Golkar adalah partai massa, itu artinya keanggotaannya beda dengan partai kader. Para pendukung, simpatisan dan kelompok kepentingan yang sama akan hengkang ketika keputusan politik yang diambil berbeda dengan kemauan mereka apalagi sampai melukai hati mereka.

"Dedi Mulyadi itu bukan tokoh ecek-ecek, masa ditinggal begitu saja. Saat mana dia sudah bekerja melakukan sosialisasi dan hasilnya cukup bagus. Kita bisa baca di media massa, survei Indo Barometer kemarin jelas mengkonfirmasi kalau gerakan Dedi Mulyadi itu hasilnya positif, elektabilitasnya naik menyalip Dedi Mizwar," ujarnya saat paparan dalam diskusi politik "Siapa Bisa Kalahkan RK" yang digelar di Bandung, Senin (6/11).

Fadlullah juga menjelaskan, tidak serta merta orang yang elektabilitasnya tinggi akan menang. Ada soal strategi, taktik, manajemen pemenangan dan jaringan, belum lagi soal isu negatif yang melekat pada kandidat.

Adalah nyata terjadi dimana calon yang dominan dan diyakini akan menang justru tumbang, itu bisa dilihat di Pilkada Banten dan DKI Jakarta.

"Jelas sekali Rano Karno amat dominan dan dalam survei tidak pernah kalah, tetapi dia bisa tumbang seperti Ahok yang juga dominan di Pilkada DKI. Keduanya tumbang kalah perang dan pulang dengan impian melayang. Semua karena dalam politik, hitungan di atas kertas bisa berubah cepat di lapangan tergantung situasi dan kondisinya," pungkasnya dilasnir dari KBP.

Terkait siapa figur yang bisa mengalahkan Ridwan Kamil, peneliti LSPI Pusat Rachmayanti Kusumaningtyas menambahkan, perlunya bersatu dua Dedi. Jika Dedi Mulyadi dan Dedi Mizwar bersatu maka peluang untuk mengalahkan Ridwan Kamil cukup tinggi.

Kedua figur itu menurut Rachmayanti memiliki kelebihan yakni simbol kesundaan dan urang lembur (orang kampung) ada pada Dedi Mulyadi sementara figur agamis ada pada Dedi Mizwar itu karena peran dan iklan yang selama ini beredar di masyarakat.

"Soal siapa di posisi apa bergantung pada partai politik yang menggodognya. Jika merujuk pada survei Indo Barometer yang dirilis kemarin, Dedi Mulyadi ada di posisi kedua dan Dedi Mizwar ketiga. Kita akan keluarkan data kita sebentar lagi, sekarang sedang turun ke lapangan tim surveinya," ujarnya.

Diskusi tersebut juga menyimpulkan pentingnya terbentuk poros baru untuk melawan dominasi Nasdem-Golkar di pihak Ridwan Kamil. Disarankan agar PDI Perjuangan dapat berkoalisi dengan partai yang ada seperti Demokrat, PKS dan bahkan Gerindra.

Partai-partai itu dapat bersatu dan mencomot dua tokoh yang elektabilitaanya ada di posisi dua dan tiga kemudian digabungkan. Dengan demikian Pilkada Jabar 2018 akan berlangsung dinamis dan semarak. [rus]

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

UPDATE

Moreno Soeprapto, Potret Etika Buruk Wakil Rakyat

Senin, 21 September 2026 | 06:25

Suara Rakyat Jangan Dimubazirkan

Senin, 21 September 2026 | 06:05

Ketika Pakar Saking Pintarnya Jadi “Goblok”

Senin, 21 September 2026 | 05:44

Masa Depan Pelabuhan Indonesia antara Peluang dan Tantangan

Senin, 21 September 2026 | 05:13

Serangan Babi Hutan Persoalan Serius bagi Petani

Senin, 21 September 2026 | 05:00

Merapi Empat Kali Luncurkan Lava Pijar dalam 6 Jam

Senin, 21 September 2026 | 04:39

Pramono Lagi Menempatkan Jakarta dalam Peta Persaingan Kota Global

Senin, 21 September 2026 | 04:23

Membaca Berhadiah Koin

Senin, 21 September 2026 | 04:02

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1448 H Jatuh 8 Februari 2027

Senin, 21 September 2026 | 03:06

Selengkapnya