Berita

Foto/Net

Politik

Stop Tradisi Aneh Ahok

SABTU, 28 OKTOBER 2017 | 00:02 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

KERJA Gubernur itu 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Sama kaya presiden. Hanya beda cakupan. President for the whole nation. Gubernur hanya sebatas provinsi.

Gubernur bukan buruh pabrik. Tidak mesti absent finger. Kerja "nine to five" atau pukul 7 sampe 5 sore bukan job-desk gubernur.

Salah satu kegiatan ngaco Ahok adalah terima antrian masyarakat. Demi pencitraan. Antrian panjang pengaduan berarti kinerja buruk jajaran di bawah gubernur.


Tapi Ahok ingin tampak sebagai gubernur yang bisa diakses semua orang. Hasilnya jeblok. Non-sense. Kalah sudah digit. Semua orang tahu itu pencitraan basi. Tradisi ini meaningless.

Anies-Sandi mesti stop that madness. Banyak orang hanya ingin selfi dengan gubernur. Buat gaya-gayaan. Foto sama gubernur bisa dipake buat nakut-nakutin tetangga.

"Tradisi aneh Ahok" ini menyedot tenaga yang tidak perlu. Harus bangun pagi. Ngantor sebelum jam 7 pagi supaya dapet predikat "Gubernur Rajin". Padahal, kerja gubernur bisa sampe larut malam. Rapat-rapat, sidak, kasih ceramah, blusukan, konsolidasi dan lain sebagainya.

Alhasil, stamina pasti drop. Emosi ngga stabil. Cepat marah. Labil. Konsentrasi buyar. Agitated mind. Reckless. Syarafnya kena. Akibat kurang tidur. Di situ, sumber semua blunder Ahok. Jakarta tidak butuh gubernur sok rajin. Smart work is much-much-much better than hard work.

Saya tidak pernah dengar Mas Joko cuti. Sama kaya Pa Harto sampe Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden Amerika masih punya tradisi liburan.

Tapi, vacations don’t stop presidents from making major decisions. Misalnya, Presiden Reagen memutuskan to fire striking air-traffic controllers in 1981 ketika dia "liburan" di Camp David.

Nancy Reagen benar saat berkata, "Presidents don’t get vacations�"they just get a change of scenery".

Saya hanya pernah sekali ketemu Anies. Di acara yang dihadiri Pak Prabowo Subianto. Ibu Mien Uno arranged foto bersama. Cuma salaman dan say hello.

Tapi saya kira, baik Anies mau pun Sandi adalah orang-orang yang mudah diakses. Tanpa harus mengikuti Ahok, saya yakin mereka tetap akan dekat dengan masyarakat.

Anies-Sandi bisa saja mengadakan acara gathering setiap Jum'at. Ngumpul bareng warga di Balaikota. Lalu sholat Jumat bersama. Di situ, warga bisa menumpahkan apa saja. Selfi bisa dilakukan di mana dan kapan saja. Acara temu warga bisa juga dilakukan dengan "Open House" rumah dinas.

Pengaduan masyarakat bisa di-handle dengan membuka loket-loket pengaduan di Balai Kota. Jika perlu, Gerakin Relawan. Bikin sistem yang memungkinkan masyarakat bisa follow up pengaduannya.

Setiap pengaduan tertulis harus diterima dengan stempel. Tim relawan akan melaporkan semua pengaduan itu kepada gubernur. Informasi adanya lurah korup atau Aparatur Sipil Negara yang minta pungli bisa disalurkan dengan mekanisme ini.

Jalanan Jakarta masi berlubang. Banyak orang kaya baru (OKB) parkir mobil sembarangan. Ngga punya garasi tapi beli 2-3 mobil. Jalan jadi sempit. Rentan gesekan.

Driver Ojek Online ngumpul di trotoar. Mestinya, para provider ojek online itu diharuskan bikin pangkalan-pangkalan ojek. Lampu-lampu halte banyak yang mati. Begitu juga soal pengaturan lampu merah.

Di ruas jalan sekitar Tugu Tani, dari arah Gambir, lampu hijau hanya aktif sekitar 5 detik. Lalu merah lagi. Jiaaah...Terjadilah bottle neck.

Pertemuan dengan masyarakat harus intens. Anies-Sandi mesti banyak mendengar keluhan warga. Datangi mereka. Pro aktif. Jemput bola. Dan itu bisa dilakukan tanpa harus meneruskan cara-cara seperti yang dilakukan Ahok.

Saya berharap Anies-Sandi tidak terpasung apalagi tersandera tradisi aneh Ahok. Dia gubernur gagal. tidak usah ditiru.

Penulis adalah anggota Komunitas Tionghua Anti Korupsi (Komtak)

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya