Berita

Politik

Menteri Kebingungan Dan Membingungkan

SELASA, 10 OKTOBER 2017 | 18:46 WIB | OLEH: GEDE SANDRA

BLOOMBERG kemarin (9/10) menyajikan berita tentang kebingungan Menteri Keuangan Indonesia tentang melemahnya konsumsi masyarakat. Menkeu menyatakan bahwa seluruh factor-faktor yang diperlukan untuk mendukung konsumsi ada di sana. Ini adalah sesuatu yang membingungkan,  

Memperkuat gambaran tentang melemahnya daya beli masyarakat, Bloomberg juga menyajikan grafik yang membandingkannya dengan dan pertumbuhan ekonomi seperti di bawah:

Terlihat bahwa konsumsi masyarakat pada era Pemerintahan Jokowi telah jatuh pada kisaran 4,95 persen pada semester pertama 2017.  Sementara pertumbuhan ekonomi juga tidak pernah mencapai setidaknya 5,5 persen, sangat jauh (diskon 40 persen) di bawah target pertumbuhan ekonomi 7 persen seperti dicanangkan Jokowi pada awal pemerintahan tiga tahun yang lalu.


Bagaimanapun tampak juga perekonomian di era pemerintahan SBY pernah lebih baik. Terutama setelah tahun 2010. Indonesia setidaknya pernah menikmati pertumbuhan ekonomi hingga 6,5 persen tahun 2011, yang mengatrol juga pertumbuhan konsumsi masyarakat ke kisaran 5,9 persen pada tahun yang sama. Pesan yang muncul dari grafik milik Bloomberg tersebut adalah pertumbuhan ekonomi dan konsumsi masyarakat memiliki tingkat korelasi yang tinggi. Bila perekonomian bergerak, maka masyarakat lebih percaya diri dalam melakukan konsumsi.

Hanya memang kondisi saat SBY sangat terbantu dengan boomingnya harga komoditi perkebunan andalan kita. Begitu harga komoditi jatuh, di tahun 2014 pertumbuhan ekonomi Indonesia sempat merosot di bawah 5 persen. Pemerintahan Jokowi mewarisi era yang sulit, yang sayangnya tidak dibantu tim ekonomi yang kompeten. Sehingga tim tersebut bisanya hanya kebingungan.

Dikatakan pemerintah telah melakukan serangkaian jurus, dari 16 Paket Ekonomi hingga menurunkan suku bunga Bank Sentral sebanyak delapan kali. Tapi tetap saja masyarakat enggan menarik simpanannya di bank untuk konsumsi yang lebih agresif. Sementara industri retail mengalami pertumbuhan negatif -hanya e-commerce yang tumbuh positif, sayang porsinya masih sangat kecil bila dibandingkan keseluruhan retail (antara 2-3 persen).

Sebenarnya sederhana menjelaskan situasi yang berkembang. Tabungan yang naik adalah kelas nasabah yang memiliki simpanan di atas Rp 5 miliar. Artinya ini kelas menengah atas khawatir pajak atas kekayaan mereka dikejar lagi oleh pemerintah.Akibatnya  angka penjualan durable goods seperti mobil dan sepeda motor anjlok. Dua item yang sering jadi tolok ukur dari konsumsi masyarakat. Sementara PPN memang naik karena pabrikan wajibkan distributor untuk tetap membeli (stockings) demi kejar target. Tetapi justru dari distributor ke retailers mandek karena penjualan lesu.

Yang satu kebingungan, satunya lagi buat kita bingung. Ya, Menteri Badan Usaha Milik Negara membingungkan kita. Bagaimana tidak, hanya terjadi di Indonesia ada menteri yang tetap bertahan walaupun sudah hampir dua tahun ditolak rapat oleh DPR. Ia ditolak DPR karena dipandang terlibat dalam skandal perpanjangan kontrak JICT yang telah diaudit BPK dengan kesimpulan merugikan negara. Sementara kinerja beliau jelas biasa saja. Tahun 2015 dan 2016 ia telah menyuntik 45 BUMN dengan dana Penyertaan Modal Negara (PMN) berturut-turut Rp 39,9 triliun dan Rp 44,5 triliun. Aneh sekali, masih terdapat 24 BUMN yang merugi hingga  Rp 5,8 triliun di tahun 2017. Semakin membingungkan mengapa sosok ini dipertahankan di kabinet.

Pekan lalu politisi budayawan Eros Djarot menulis di situs watyutink.com, judulnya 'Membaca Sri dan Rini, lewat Jokowi'. Disimpulkannya, alasan Menteri BUMN tetap dipertahankan karena terlanjur menjadi lady who knew too much. Atau istilah gaulnya 'pegang kartu'. Mungkin dapat menjadi alasan kebingungan kita.   

Persatuan Menteri Kebingungan dan Menteri Membingungkan memang akan sulit menghasilkan sesuatu hal yang konkret. Contohnya tentang negosiasi Freeport. Publik dikejutkan ternyata tentang masalah divestasi saham Freeport belum selesai. Padahal bulan lalu seluruh media menggembar-gemborkan keberhasilan negosiasi Indonesia dengan Freeport dengan dua menteri ini selaku penanggung jawab. Sehingga Presiden Jokowi diberitakan agar Menteri Jonan kembali membantu Menteri Kebingungan dan Menteri Membingungkan ini dalam negosiasi Freeport. [***]   

(Penulis adalah pengamat ekonomi politik Universitas Bung Karno, peneliti Lingkar Studi Perjuangan)

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya