Berita

Politik

Sekjen PDI Perjuangan: Berpolitik Bukan Semata Kekuasaan!

SELASA, 10 OKTOBER 2017 | 16:35 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Di hadapan ratusan kader PDI Perjuangan di Garut, Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menjelaskan soal pentingnya menggunakan politik sebagai alat perjuangan.

Tetapi, katanya mengingatkan, berpolitik tidak selalu berarti kekuasaan karena politik juga soal kebudayaan dan bagaimana memastikan bekerjanya ekonomi gotong royong di tengah rakyat.

"Politik itu tidak semata kekuasaan dan merebut kekuasaan. Politik juga soal kebudayaan; soal disiplin; soal tertib untuk tidak membuang sampah di selokan atau sungai. Politik merupakan keseluruhan hal tentang kehidupan dan penghidupan rakyat jelata", kata Hasto Kristiyanto saat memberi arahan pada acara "Konsolidasi Organisasi Internal Partai" di Graha Intan Balarea, Garut, Jawa Barat (Selasa, 10/10).


Memelihara lingkungan tetap bersih, lanjut Hasto, merupakan salah satu faktor penting agar alam raya Indonesia yang begitu indah dapat terawat baik. PDI Perjuangan bertekad membumikan politik guna menjawab berbagai persoalan rakyat bawah. PDI Perjuangan juga menaruh perhatian terhadap upaya menjaga kebersihan sungai.

"Sungai adalah halaman terdepan kita. Jangan pernah buang sampah di sungai. Buanglah sampah pada tempatnya, agar kita terbiasa hidup bersih. Bersih secara lahir dan batin," kata Hasto mengingatkan.

Menjelaskan soal politik dan budaya, Hasto mencoba mengangkat kembali ruh perjuangan partai yang berasal dari wong cilik.

"Jangan pernah menyakiti rakyat kecil. Mereka harus menjadi dasar kebijakan politik partai", kata Hasto sambil menjelaskan tayangan film pendek berjudul "Bung Karno: Aku Melihat Indonesia".

Hasto mengatakan, penting bagi partai untuk menjadikan wong cilik sebagai tempat berkhidmat. Bagaimanapun, berpartai harus memikirkan kesejahteraan rakyat.

"Partai jangan ramai saat menjelang pilkada saja. Partai harusnya berjuang membangun peradaban. Sekolah Partai, kaderisasi kepemimpinan Partai dan sekolah para calon kepala daerah adalah jalan politik membangun peradaban yang menjadi ciri PDI Perjuangan," bebernya.

Warga PDI Perjuangan, lanjut Hasto, mewarisi semangat nasionalisme yang telah dibangun oleh Bung Karno untuk bangsa ini. Dengan rekam sejarah yang panjang itu, maka semangat kepartaian tidak seharusnya melemah.

"Dan untuk membumikan Pancasila, maka mestinya nasionalisme kita harus terus berkobar-kobar," terang Hasto.

Dalam penjelasan tentang Pancasila, Hasto menegaskan betapa Pancasila hadir sebagai pemersatu bangsa yang majemuk ini. Indonesia hanya mungkin tetap utuh, kata Hasto, kalau bangsa ini istiqamah mengikuti jalan Pancasila agar semakin berdaulat, berdikari dan berkebudayaan. Pada kesempatan tersebut, Hasto juga menjelaskan pentingnya kader memahami bagaimana sejarah mencatat kedekatan Bung Karno dengan Muhammadiyan dan NU.

"Api nasionalisme Islam Bung Karno mampu menekan pimpinan Uni Sovyet saat itu untuk menemukan makam Imam Al Buchori," jelasnya.

Demikian halnya dengan Ibu Megawati, sangat menaruh perhatian yang sangat besar terhadap Muhammadiyah dan NU. Hal ini sebagai kelanjutan tradisi Bung Karno yang belajar Islam dengan ulama-ulama besar Islam seperti HOS Tjokroaminoto, KH Hasyim Asyari dan KH Achmad Dahlan.

"Dalam alam pikirnya, Bung Karno banyak mengambil inspirasi dari Muhammadiyah dan dalam kultur beragama yang berkebudayaan Bung Karno dekat dengan NU," tutur Hasto.

Atas dasar hal tersebut, Hasto meminta agar seluruh kader Partai membangun dialog dan hadir sebagai jembatan persaudaraan bagi persatuan dan kesatuan bangsa.

Pada akhir acara tersebut diadakan gotong royong untuk pembangunan kantor Partai, dan secara spontan terkumpul dana perjuangan sebesar Rp 550 juta. [ysa]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya