Berita

Karl Marx/Net

Politik

Unbelievable Karl Marx

SENIN, 02 OKTOBER 2017 | 13:12 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

KARL Marx, seorang pemarah, perokok berat, alkoholic, orang stres, jarang mandi, kena penyakit kulit dan liver. Bisul kronik serang badannya, di dagu, hidung, jidat, bahkan penis. Tahun 1867, Marx nulis surat kepada Friedrich Engels. Dia bilang, "The bourgeoisie will remember my carbuncles until their dying day".

"Carbuncles" artinya bisul (boils).

Karl Marx mengklaim teorinya sebagai karya scientific. Komunis, dulu dan sekarang, serempak bilang: Amiiiin...!! Sekaligus menuding pendapat non-marxist sebagai "tidak ilmiah".


Teori Marx sebetulnya invalid thoughts. Semua teorinya berasal dari "deductions based on second-hand knowledge" atau "vindication rather than investigation". Nggak berasal dari investigasi, riset dan fakta. Thus, artinya "tidak ilmiah".

Marx mencetuskan teori. Friedrich Engels diminta mencari 'proof' sebagai validasi teori tersebut. Ini metode terbalik dari ilmiah. Opposite to science. Absurd memang. That's Marxist.

Bukan cuma Marx, pengikutnya juga begitu. Stalin nggak pernah berusaha cari tau apa kebutuhan rakyat. Dia hanya melihat statistik. Sebelum berkuasa, Lenin terkenal sebagai "a library socialist" yang nggak pernah mengunjungi pabrik.

Sama seperti Lenin, sebagai "pembela buruh", Marx ngga pernah ke pabrik. Shocking Truth. Soal ini ngga pernah dibuka oleh para propagandis "communist ideas". Engels pernah empat kali minta Marx mengunjungi pabriknya. Marx ngga mau. FA Hayek adalah orang yang buka rahasia ini.

Aneh tapi nyata, Marx nggak punya teman berprofesi sebagai buruh. Lenchen (the family maid) adalah satu-satunya "working class" yang dikenal Karl Marx.

Lenchen adalah nama kecil "Helene Demuth" (1820-1890), pembantu Jenny von Westphalen (istri Karl Marx). Mary Gabriel dalam bukunya "Love and Capital" menulis "He (Marx) was having sex with Lenchen on Dean Street".

Dengan Lenchen, Marx punya tiga anak. Salah satunya, Frederick Demuth (1851-1929). Marx minta Engels mengakui "Freddy" sebagai anaknya. Stalin mengubur dokumen soal ini, karena dinilai sebagai aib.

Pengetahuan Karl Marx soal dinamika bisnis dan industrialis patut diragukan. Teorinya lebih pantas disebut "propaganda". Dia ngga pernah konsultasi dengan Frederik Philips (sepupu Marx) yang mendirikan Philips Company di tahun 1891. Lampu-lampu Phillips itu produknya.

Contoh lain betapa 'unscientific' otak Karl Marx bisa dilihat dari pendapatnya soal negro. Di suratnya kepada Engels, dalam rangka menyerang Ferdinand Lassalle, Marx menulis:

"It is now quite plain to me-as the shape of his head and the way his hair grows also testify-that he is descended from the negroes who accompanied Moses’ flight from Egypt (unless his mother or paternal grandmother interbred with a nigger). Now, this blend of Jewishness and Germanness, on the one hand, and basic negroid stock, on the other, must inevitably give rise to a peculiar product. The fellow’s importunity is also nigger-like."

Bagi Marx, bentuk kepala dan rambut sudah cukup sebagai bukti bahwa Lassalle adalah keturunan negro yang ikut Nabi Musa exodus dari Mesir. Menurutnya, keturunan hybrid antara Yahudi, Jerman dan Negroid adalah produk aneh. Ngga berlebihan bila ada yang berpendapat bila Karl Marx adalah seorang rasis.

Selama hidupnya, Marx ngga pernah kerja. Seperti rayap, dia menggerogoti uang orang tuanya. Marx pernah bilang, keluarganya cukup kaya. Karena itu, sudah jadi tugas mereka untuk mendanai perjuangannya. Ini khas komunistik agitator: "Jadi Parasit Sosial". Mengharuskan orang kaya mendanai "perjuangan kelas" mereka. Kalo ngga mau, mereka bakal distigma sebagai "kontra revolusioner". Kepala para "capitalist roader" ini akan dipenggal saat komunis berkuasa.

Karl Marx mati sebagai orang miskin. Hutangnya di mana-mana. Orang tua dan mertuanya stop kasi pinjaman. Bikin Marx defood (kelaparan).

Pernah suatu kali, Engels nyaris frustasi. Istrinya meninggal dunia. Marx kirim ucapan turut berduka cita. Hanya satu baris. Selanjutnya oret-oretan Marx adalah soal pinjem duit. Akhirnya Engels sadar, Marx bercita-cita jadi pengangguran abadi.

Di tahun 1869, Engels memutuskan membiayai Marx. Biaya itu berasal dari keuntungan bisnisnya. Artinya, Marx hidup dari exploitasi kaum buruh yang banting tulang dan peras keringat di pabrik-pabrik milik Engels. Ini bener-bener absurd. Marx, sebagai pioneer anti eksploitasi buruh justeru hidup, ngerokok, minum wine dan makan lemak dari "nilai lebih" (value added atau Mehrwert) hasil kerja kaum buruh. Ngga perlu kerja dan berkeringat. Hanya orang gila yang mengidolakan Karl Marx. [***]

Penulis adalah aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KOMTAK)

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya