Berita

Kesehatan

Tidak Ada Garansi PICU Bisa Selamatkan Pasien

SABTU, 16 SEPTEMBER 2017 | 17:45 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

. Penanganan di Ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) bukan jaminan untuk menyelamatkan nyawa seorang pasien.

Begitu jelas dokter spesialis anak, Paulus Linardi menanggapi kasus kematian bayi Tiara Debora yang ramai jadi perbincangan karena diduga telat dimasukkan ke dalam Ruang PICU.

Paulus menjelaskan bahwa sesuai prosedur yang ada pasien yang dalam keadaan kritis bisa ditolong di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Dokter akan menstabilkan kondisi pasien yang kritis dan menunggu tindakan lebih lanjut, sebelum masuk ke ruang PICU.


"Prosedur tindakan pertama ini ke IGD lebih dulu untuk menstabilkan kondisi. Lalu kalau ada perawatan lebih lanjut, apa pasien harus menjalani perawatan intensif atau tidak itu tergantung kondisi pasien," ujarnya saat dihubungi wartawan, Sabtu (16/9).

Jika kemudian pasien dikategorikan harus mendapatkan intensif, berarti memang harus masuk PICU. Namun, ruang PICU tidak memberikan jaminan pasien bisa stabil total dalam waktu seketika sebagaimana yang kini menjadi anggapan masyarakat.

Bisa saja, sambungnya, di dalam ruangan tersebut pasien mengalami perburukan dan penurunan kondisi kesehatan.

"Seperti jantungnya semakin lemah atau kondisi organ tubuh lain juga lemah, hingga tidak berfungsi. Jadi, tidak ada garansi PICU menyelamatkan pasien," tegasnya.

Senada dengan itu, spesialis anak, Reni Wigati juga menjelaskan bahwa dalam kondisi gawat darurat, pasien harus dapat diselamatkan dengan diberikan pertolongan di IGD. Dokter biasanya memasang alat bantu napas agar pasien kuat.

"Kalau di IGD pasien bisa selamat ya tidak usah masuk PICU. Karena nyawanya masih bisa ditolong di sini," bebernya.

Reni mengimbau kepada orangtua yang memiliki anak berpenyakit jantung bawaan untuk tanggap dengan deteksi dini. Semakin kecil usia anak, akan semakin mudah tidak stabil.

"Kalau anaknya sesak napas, rewel yang tak biasa harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan. Jangan tunggu kondisinya sangat darurat karena menyulitkan," tutupnya. [rus]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR: Korporasi Penyebab Karhutla Harus Diberi Sanksi Berat

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 16:22

Pantau Karhutla Riau, Menteri Jumhur Diperlihatkan Inovasi Green Policing

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:22

Tanpa Masker, Prabowo Tinjau Langsung Karhutla di Kalbar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:09

Sasar Ribuan Korban Gempa Nagekeo, BHS dan DLU Kirim Bantuan Logistik Hingga Mainan Edukatif

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:57

Karhutla Meluas hingga Permukiman Warga Banjarbaru

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:47

Segel 4 Lahan Konsesi, Menteri LH Bertolak ke Kalimantan Usai Pantau Karhutla Riau

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:29

Efek El Nino dan B50 Bikin Harga CPO Terbang ke Level Tertinggi

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:11

Kabut Asap Karhutla Makin Parah, Kabupaten Kotim Hentikan Sekolah Tatap Muka

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:40

Kalah Gugatan Privasi, Pangeran Harry Wajib Bayar Rp317 Miliar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:24

Aliansi Mahasiswa DIY Soroti Ancaman Perampasan Ruang Hidup di Pracimantoro

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:12

Selengkapnya