Jenderal Gatot Nurmantyo/Net
Bekas Kepala Staf TNI Angkatan Darat ini mengatakan, dirinya tak mau gegabah dalam menetapkan tersangka baru dari kalangan militer dalam kasus dugaan korupsi pembeÂlian Helikopter Agusta Westland (AW) 101 dari kalangan militer. Dia menjelaskan, Pusat Polisi Militer (POM) TNI intensif menyidik kasus tersebut.
Selain soal kasus Helikopter AW 101, Jenderal Gatot juga mengomentari tentang kemungÂkinan TNI mengirimkan pasukan perdamaian ke Rakhine State, Myanmar untuk membantu etnis Rohingya. Berikut penuturan Jenderal Gatot Nurmantyo;
Bagaimana kelanjutan penyidikan kasus dugaan korupsi pembelian Helikopter AgustaWestland (AW) 101?
Jadi begini, saya tidak biÂsa menentukan ada tersangka atau tidak, tapi POM TNI telah melakukan penyelidikan bekÂerja sama dengan Oditur Militer, Mahkamah Militer, serta Badan Pembinaan Hukum Tentara Nasional Indonesia (Babinkum TNI), yang dilakukan dengan sangat teliti, mengapa demikian? Karena sekali kita menyampaikan tersangka, maka beban psikologis bagi yang bersangkutan dan keluarganya itu sangat besar, jadi tidak boleh salah ini. Tidak bisa secepat cepatnya, jadi secara profesional kita akan melakukan penyidikan, mempertimbangkan dari berbagai aspek, sehingga kita tidak salah menetapkan.
Jadi begini, saya tidak biÂsa menentukan ada tersangka atau tidak, tapi POM TNI telah melakukan penyelidikan bekÂerja sama dengan Oditur Militer, Mahkamah Militer, serta Badan Pembinaan Hukum Tentara Nasional Indonesia (Babinkum TNI), yang dilakukan dengan sangat teliti, mengapa demikian? Karena sekali kita menyampaikan tersangka, maka beban psikologis bagi yang bersangkutan dan keluarganya itu sangat besar, jadi tidak boleh salah ini. Tidak bisa secepat cepatnya, jadi secara profesional kita akan melakukan penyidikan, mempertimbangkan dari berbagai aspek, sehingga kita tidak salah menetapkan.
Oh ya terkait konflik Rohingya, apakah TNI berÂencana mengirimkan pasukan perdamaian ke Rakhine?Kemungkinan itu pasti ada, karÂena undang-undang kita mewajibÂkan, tapi semuanya itu tergantung PBB, karena pasukan perdamaian di bawah kendali PBB. Dan PBB serta TNI selalu siap, kapan pun diperlukan kita siap.
Sudah ada rencana?Belum ada rencana, tapi kami siap. Kalau diminta, kapan pun kami siap. Kami hanya menyamÂpaikan kami siap
Kalau soal rencana mengirimkan anggota TNI ke Marawi Filipina untuk membantu menumpas militan ISIS?Sampai sekarang belum ada, karena proses ini kan proses yang panjang, tidak mungin kita ujuk-ujuk mengirimkan (TNI), karena Filipina kan juga punya undang-undang. Tidak boleh semacam ini. Indonesia juga sama, kalau kita mengirimkan pasukan perdamaian, itu tidak masalah. Tapi kalau kita menÂgirimkan operasi-operasi militer itu kita dilarang, kan gitu, kita dilarang, maka harus ada undang undang, tapi TNI setiap saat siap, karena TNI harus demikian, 24 jam siap.
Oh ya, apakah dalam perayaan HUT TNI nanti akan memamerkan Alutsista?Alutsita yang dimiliki, jadi ini bukan besar-besaran, jadi ini keÂwajiban TNI, untuk mempertangÂgungajwabkan kepada seluruh rakyat Indonesia, melaporkan, ini loh TNI ini sekarang. Bagaimana perkembangannya, kemudian baÂgaimana pasukannya, agar benar-benar mengetahui, dan mencintai TNI, tapi bukan besar-besaran.
Tentunya ada demonstrasi. Kalau kita lihat alutsista, alutsista itu untuk apa sih, misal pesawat untuk apa, untuk pertempuran atau pertahanan di udara, untuk dari udara nembak ke laut, angÂkatan laut bagaimana sih, sama juga, untuk pertempuran laut, unÂtuk menembak dari laut ke udara, angkatan darat juga sama. Semua kemampuan itu sedapat mungkin bisa diperlihatkan.
Apakah ada alutsista yang baru?Alat utama sistem persenÂjataan yang baru pasti ada, walaupun tidak signifikan, gitu ya. Itu hanya contohnya, udara ada ya, kemudian kapal selam, kemudian fregat ada.
Bagaimana dengan pengadaan pesawat tempur Sukhoi SU-35?Kita tunggu sudah menunggu, TNI sudah menunggu kurang lebih delapan belas bulan, kita punya satu skadron yang tidak beroperasional sama sekali, kasihan penerbangnya. Satu tahun saja tidak terbang, dia harus berlatih lagi kurang lebih empat bulan, sekarang bayangin kalau sudah delapan belas bulan, delapan belas bulan skadron itu ditutup, karena F5 tidak bisa terÂbang lagi, penggantinya Sukhoi 35, sampai sekarang belum ada kejelasan. Tapi mudah mudaÂhan Departemen Pertahanan, Kementerian Perdagangan menÂcintai TNI, dengan cepat mewuÂjudkannya, karena memang sudah sangat butuh perkembanÂgan industri startegis, kita sudah benar, mempersiapkan senjata kita. ***