Berita

Wiranto/Net

Wawancara

WAWANCARA

Wiranto: Urusan Rohingya Kita Tidak Boleh Emosi, Main Asal Tarik Dubes, Usir Dubes Saja

RABU, 06 SEPTEMBER 2017 | 09:15 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Bekas Panglima ABRI ini angkat bicara terkait kasus Rohingya. Wiranto meminta masyarakat tenang saja. Pemerintah tengah melakukan langkah-langkah untuk membantu pemerintah Myanmar dalam batas-batas hukum internasional.

 Untuk itu dia berharap ak­si organisasi kemasyarakatan (ormas) yang dikabarkan akan mengirimkan ribuan anggotanya ke Myanmar untuk menjadi relawan lebih baik dibatalkan. Seperti diketahui, aksi kekerasan di Rakhine, Myanmar, hingga Minggu (27/8) semakin mem­prihatinkan. Berikut penuturan Menko Polhukam, Jenderal (Purn) Wiranto terkait kasus pembantaian di Rohingya:

Apa saja bantuan yang su­dah dikirim pemerintah ke Rakhine, Myanmar?
Presiden sudah menjelaskan bulan Januari hingga Februari sudah mengirim bantuan bikin sekolah, bikin rumah sakit seka­rang sedang negosiasi mau bantu apalagi. Jadi begini, masyarakat tenang-tenang saja, pemerintah Indonesia sangat peduli terh­adap kemanusiaan dan sudah melakukan langkah-langkah yang sangat baik. Presiden sudah perintahkan menteri-menterin­ya untuk melakukan langkah-langkah yang intinya peduli kepada musibah kemanusiaan di Myanmar sesuai dengan hara­pan. Tapi kan ada tata caranya.

Presiden sudah menjelaskan bulan Januari hingga Februari sudah mengirim bantuan bikin sekolah, bikin rumah sakit seka­rang sedang negosiasi mau bantu apalagi. Jadi begini, masyarakat tenang-tenang saja, pemerintah Indonesia sangat peduli terh­adap kemanusiaan dan sudah melakukan langkah-langkah yang sangat baik. Presiden sudah perintahkan menteri-menterin­ya untuk melakukan langkah-langkah yang intinya peduli kepada musibah kemanusiaan di Myanmar sesuai dengan hara­pan. Tapi kan ada tata caranya.

Lantas bagaimana dengan adanya ormas yang berencana mengirim relawan ke Myanmar?
Kelompok masyarakat, saya imbau nggak usah ada aksi sendiri-sendiri. Sampaikan saja kepada pemerintah, (ke) Menko Polhukam, kalau memang jelas­nya ke kantor saya kita bincang­kan, ketimbang panas-panas ya mungkin nilainya nggak terlalu tinggi, tapi kalau kita bincangkan positif bisa kita ambil langkah-langkah bersama apa sih yang harus kita lakukan, kita menden­garkan suara rakyat kok. Untuk itu elemen masyarakat kemudian jangan bergerak sendiri-sendiri seakan-akan nggak ada negara, nggak ada pemerintah.

Ada keinginan dari beberapa pihak agar pemerintah mengusir duta besar Myanmar untuk Indonesia, bagaimana itu?
Pemerintah kita yang amanat­nya bebas aktif ikut melak­sanakan ketertiban dunia, pasti ada tindakan tapi tidak boleh gegabah. Tidak boleh kemudian emosi. Tarik dubes, usir dubes. Nah ini kalau ditarik dubesnya tidak ada hubungan diplomatik, kalau mau mengirimkan bantuan pakai apa? Padahal dibutuhkan bantuan untuk pengungsi di Rohingya. Nah harus cerdas, bijak dan tidak emosi.

Kemarin saya mendampingi Presiden untuk memberikan statement press bahwa kita su­dah berbuat banyak untuk peris­tiwa kemanusiaan di Myanmar. Saya harapkan juga langsung reda. Tidak usak menjelek-jelekan bangsa sendiri dengan permasalahan di luar negeri.

Hingga kini kantor kedutaan Myanmar di Indonesia masih terus didemo oleh masyarakat yang tidak terima dengan aksi kekerasan di Myanmar?

Kalau demo yang tidak liar, terus demo yang tidak merusak, demo itu tertib silakan saja. Lagi pula demo itu kan merupakan hak asasi, silakan saja tapi tertib jangan menganggu ketentraman masyakat yang lainnya.

Terus kalau sampai ada bom molotov?
Nah itu nggak boleh, itu bukan demo, kalau sudah bom pakai bahan peledak merusak itu bukan demo. Jadi pasti akan tetap kita tangkap.

Nah, kabarnya ormas Front Pembela Islam (FPI) meng­klaim anggotanya dari beber­apa daerah berencana berang­kat ke Myanmar, apa sikap pemerintah tentang itu?
Indonesia kan punya aturan. Indonesia itu negara hukum punya pemerintahan tidak bisa satu kelompok masyarakat liar ke sana kemari tanpa ada satu aturan-aturan yang harus di­patuhi dari negeri ini.

Kalau mereka benar-benar nekat tetap menyiapkan diri berangkat ke Myanmar?
Biar saja mereka siap-siap mau ke sana, siap mau bela itu pernyataan spontanitas karena semangat, tapi pelaksanaannya tidak bisa seperti itu, butuh satu mekanisme yang harus dipatuhi dari peraturan dan perundang-perundangan di Indonesia.

Anda yakin FPI nggak akan berangkat ke sana?
Tunggu dulu, saya akan bicara dengan mereka. ***

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Dede Indra: Polri Serius Perangi Narkoba!

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:26

Grup Salim Guyur Rp2,25 Triliun untuk Buyback Saham, Ini Efeknya bagi LSIP, INDF, dan ICBP

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:13

Fokus Penuhi Kebutuhan Domestik, RI Mulai Rem Ekspor Gas ke Singapura

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:35

98 Resolution Network Soroti Tata Kelola SDA dan Ekonomi Kerakyatan di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:07

TRUK dan PNSE Rajai Daftar Saham Top Gainers Sepekan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:46

Harga iPhone Duo di Indonesia, Mulai Rp 45 Juta hingga Rp 75 Juta

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:30

Tanpa Suara, BYD Atto 1 Seruduk Mobil dan Lindas Pengemudi Ojol

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:26

5 Gunung di Pulau Jawa Dilanda Karhutla Pekan Ini

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:23

Cara Cek Sebaran Asap Karhutla lewat Website BMKG dan NASA

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:02

Mengenal Virus Shamonda yang Ditemukan pada Pasien Meninggal di Prancis

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 11:59

Selengkapnya