Berita

Darmin Nasution/Net

Politik

Darmin Nasution Pantas Ditendang Dari Kabinet

SABTU, 12 AGUSTUS 2017 | 21:51 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

. Kabar berhembus reshuffle kabinet akan dilakukan setelah Hari Kemerdekaan 17 Agustus bulan ini. Diantara menteri yang disebut-sebut pantas ditendang adalah Darmin Nasution.

"Sejak didapuk sebagai Menko Perekonomian pada Agustus 2015, kinerja Darmin di bawah banderol. Ekonomi yang telanjur dijanjikan meroket tidak kunjung terwujud. Jadi bisa dipahami kalau nama Darmin termasuk yang paling banyak dinominasikan untuk diganti," kata Direkrut Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS) Edy Mulyadi, Sabtu (12/8).

Dikatakan Edy, pembangunan infrastruktur untuk memperbaiki kualitas konektivitas yang diharapkan, meleset. Tahun lalu ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,02 persen, lebih rendah dibandingkan 5,56 persen pada 2013. Sementara di kurtal II tahun 2017 ini pertumbuhan ekonomi flat di angka 5,1 persen, melambat dibandingkan kuartal II tahun lalu yang sebesar 5,18 persen.


"Ekonomi jalan di tempat, beban rakyat makin berat. Pertumbuhan ekonomi yang hanya sekitar 5 persen menunjukkan tak adanya terobosan dari Darmin," papar Edy.

Data yang dirilis BPS soal angka kemiskinan adalah bukti lain kegagalan Darmin. Dalam laporannya, BPS menyebut Indeks Kedalaman Kemiskinan naik 1,83 dan Indeks Keparahan Kemiskinan naik 0,48.

"Belasan paket ekonomi yang digelontorkan adem-ayem belaka. Hanya program revaluasi aset yang berhasil mengatrol aset BUMN naik Rp 800 triliun lebih. Pajak yang diterima negara dari program ini sekitar Rp 32 triliun. Tapi untuk soal ini, Rizal Ramli yang saat itu Menko Maritim sebagai sosok penggagasnya. Bukan Darmin," masih kata Edy.

Di dalam RPJMN 2015-2019, pemerintah ingin pertumbuhan ekonomi 2017 sebesar 7,1 persen. Namun nyatanya kata Edy, dengan kinerja Darmin yang di bawah bandrol pertumbuhan ekonomi hanya 5,1 persen.

Edy tidak kaget kinerja buruk Darmin. Target yang dipatok di tangan Darmin kerap meleset. Saat Darmin menjadi Dirjen Pajak (2006-2009), misalnya, penerimaan pajak meleset Rp 41 triliun dari target. Kegagalan serupa kembali Darmin diulangi pada 2007. Saat itu realisasinya hanya Rp 382 triliun, atau kurang Rp 13 triliun dari target.

"Kalau sudah gagal untuk apa dipertahankan. Saatnya Presiden Jokowi memberhentikan Darmin," kata Edy. [rus]

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya