Berita

Asrorun Ni'am Sholeh/Net

Wawancara

WAWANCARA

Asrorun Ni'am Sholeh: Imunisasi Itu Mubah Untuk Jaga Kesehatan, Tapi Harus Dipastikan Vaksinnya Halal & Suci

SENIN, 07 AGUSTUS 2017 | 09:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Umat Islam masih mempertanyakan kehalalan vaksin Measles Rubella atau MR. Tengok saja di Daerah Istimewa Yogyakarta ada empat pondok pesantren yang menolak imu­nisasi Rubella. Empat ponpes yang menolak menyelenggara­kan imunisasi, satu di Kabupaten Sleman dan tiga di Kabupaten Bantul. Alasan penolakan mereka adalah karena bahan-bahan yang digunakan dianggap tidak halal.

Hal serupa terjadi di Bekasi, Jawa Barat. Dua sekolah swasta di Kota Bekasi menolak pro­gram imunisasi campak dan rubella. Alasannya mereka ragu dengan keaslian dan kehalalannya. Apalagi beberapa waktu lalu marak vaksin palsu. Menanggapi persoalan kehalalan vaksin Measles Rubella, berikut penuturan Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Ni'am Sholeh;

Katanya MUI sudah menge­luarkan fatwa soal imunisasi ini, apa betul?
Jadi Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah melakukan pem­bahasan dan juga menetapkan fatwa terkait hukum imunisasi. Fatwa nomor 4 itu kami keluar­kan pada Januari 2016.

Jadi Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah melakukan pem­bahasan dan juga menetapkan fatwa terkait hukum imunisasi. Fatwa nomor 4 itu kami keluar­kan pada Januari 2016.

Apa isi fatwanya?

Intinya imunisasi itu diboleh­kan untuk kepentingan menjaga kesehatan. Akan tetapi harus dipastikan, vaksin yang diguna­kan untuk kepentingan imunisasi itu halal dan suci. Jadi poinnya di situ ya.

Artinya imunisasi ini sudah halal dan diperbolehkan?

Pokoknya berdasarkan fatwa nomor 4 tahun 2016, imunisasi pada prinsipnya dibolehkan atau mubah di dalam rangka menjaga kesehatan masyarakat. Itu saja intinya.

Tapi bukannya vaksin ini be­lum ada sertifikasi halalnya?
Sebagai Sekretaris Komisi Fatwa MUI saya belum menerima informasi soal masalah sertifikasi itu.

Berarti kandungan vaksin­nya juga tahu?
Kami di Komisi Fatwa MUI belum mendapat informasi utuh terkait jenis vaksin yang dipakai, dan juga kandungannya.

Tapi kok sudah diboleh­kan?
Jadi prinsipnya vaksin untuk imunisasi wajib menggunakan vaksin yang halal dan suci. Vaksin yang belum terverifikasi halal itu bisa digunakan apa­bila, digunakan pada kondisi al-dlarurat atau al-hajat, belum ditemukan bahan vaksin yang halal dan suci, serta adanya keterangan tenaga medis yang kompeten dan dipercaya bahwa tidak ada vaksin yang halal.

Al-dlarurat atau al-hajat itu kondisi yang seperti apa?

Al-dlarurat adalah kondisi keterpaksaan yang apabila tidak diimunisasi dapat mengancam ji­wa manusia. Kemudian al-Hajat adalah kondisi keterdesakan yang apabila tidak diimunisasi maka akan dapat menyebabkan penyakit berat atau kecacatan pada seseorang.

Sebelum ini MUI pernah enggak mengeluarkan fatwa untuk obat yang kandungan­nya tidak 100 persen halal?

Kehalalan itu tidak mengenal 100, 80, atau 50 persen. Jadi antara halal dan tidak halal saja. Setengah halal itu kan enggak ada. Ada fatwa terkait dengan penggunaan vaksin polio IBT (pemberian vaksin dengan cara suntik-red) dan OBT (pemberian vaksin dengan cara oral-red) ta­hun 2005. Untuk penjelasannya bisa dilihat sendiri dari fatwa yang dikeluarkan.

Seperti kita ketahui, sampai sekarang masih terdapat pe­nolakan di sejumlah tempat terhadap kegiatan imunisasi ini. Apa rekomendasi MUI untuk menyikapi hal ini?
Terkait hal ini kami men­yarankan supaya pemerintah dan tokoh agama dan masyarakat wajib melakukan sosialisasi pelaksanaan imunisasi. Selain itu pemerintah juga harus men­jamin ketersediaan vaksin halal untuk kepentingan imunisasi bagi masyarakat. Terkait hal ini, pemerintah harus segera mengimplementasikan kee­wajiban sertifikasi halal untuk seluruh vaksin, termasuk me­minta produsen untuk segera mengajukan sertifikasi produk vaksin. Dengan begitu, pro­dusen vaksin bisa diwajib untuk berusaha produksi vaksin yang halal. ***

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Dede Indra: Polri Serius Perangi Narkoba!

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:26

Grup Salim Guyur Rp2,25 Triliun untuk Buyback Saham, Ini Efeknya bagi LSIP, INDF, dan ICBP

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:13

Fokus Penuhi Kebutuhan Domestik, RI Mulai Rem Ekspor Gas ke Singapura

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:35

98 Resolution Network Soroti Tata Kelola SDA dan Ekonomi Kerakyatan di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:07

TRUK dan PNSE Rajai Daftar Saham Top Gainers Sepekan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:46

Harga iPhone Duo di Indonesia, Mulai Rp 45 Juta hingga Rp 75 Juta

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:30

Tanpa Suara, BYD Atto 1 Seruduk Mobil dan Lindas Pengemudi Ojol

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:26

5 Gunung di Pulau Jawa Dilanda Karhutla Pekan Ini

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:23

Cara Cek Sebaran Asap Karhutla lewat Website BMKG dan NASA

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:02

Mengenal Virus Shamonda yang Ditemukan pada Pasien Meninggal di Prancis

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 11:59

Selengkapnya