Berita

Foto/Net

Kemenkop UKM Dukung Kemandirian Industri Otomotif

KAMIS, 03 AGUSTUS 2017 | 09:22 WIB | LAPORAN: DEDE ZAKI MUBAROK

. Meski potensinya besar dan tersebar di banyak tempat, namun sebagian besar Koperasi dan UKM yang bergerak industri komponen otomotif, masih menghadapi permasalahan seperti permodalan, kapasitas SDM, iklim usaha, akses pemasaran.

Di sisi lain bisnis otomotif dan industri pendukungnya seperti komponen otomotif saat ini mengalami peningkatan cukup baik, dan prospek bisnis otomotif dimasa mendatang juga masih sangat bagus.

"Karena itu Koperasi dan UKM bidang komponen otomotif, kita genjot kapasitasnya bahkan kita siapkan untuk mendukung kemandirian industri otomotif nasional yang berdaya saing," kata Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kemenkop dan UKM, I Wayan Dipta usai membuka 'Temu Bisnis Perluasan Kerjasama Koperasi dan UKM di bidang Industri Komponen Otomotif", di Bekasi, Jawa Barat, Rabu (2/8).


Menurut ia, guna mewujudkan komitmen tersebut dibutuhkan strategi dan upaya yang terencana, terpadu lintas sektor, bertahap dan berkesinambungan dalam rangka peningkatan kapasitas dan wawasan Koperasi dan UKM bidang industri komponen otomotif. Karena itu dalam temu bisnis Kemenkop dan UKM bekerjasama dengan Kantor PPN/Bappenas, Departemen Perindustrian, Institut Otomotif Indonesia (IOI), Bakrie Autopart dan Toyota.

Selain di Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Karawang (Jabar), sentra Koperasi dan UKM di bidang komponen otomotif juga terdapat Kabupaten Klaten dan Kabupaten Tegal (Jawa Tengah), Kabupaten Sukabumi (Jabar) Jogjakarta dan Kabupaten Sidoarjo (Jatim).  Sedang koperasi dan UKM di bidang komponen otomotif ini antara lain, Ikapeksi (Ikatan Pengusaha Kenshusei Indonesia), Kopik Pulogadung, Apek (Asosiasi Pengusaha Enginering Karawang), Asosiasi UKM Pendukung Industri, Koperasi Industri Komponen Otomotif (KIKO) Jakarta, PIKKO (Perkumpulan Induatri Kecil Menengah Komponen Indonesia), dan Asosiasi Pengusaha Engineering Karawang.

"Di acara ini juga dihadirkan CEO bidang otomotif dari APM (Agen Pemegang Merek) yang beroperasi di Indonesia guna memberikan gambaran tentang anatomi bisnis komponen otomotif yang ketat dengan aspek kualitas sehingga IKM tidak saja paham, juga bisa memberikan wawasan yang lebih utuh," kata I Wayan Dipta.

Belum Terintegrasi

President Institut Otomotif Indonesia (IOI) I Made Dana Tangkas menilai, perkembangan industri komponen di Indonesia tidak lepas dari pertumbuhan permintaan (demand) yang masih cukup tinggi, mengingat populasi kendaraan di dalam negeri yang cukup banyak.

"Indonesia kini menjadi pasar otomotif  terbesar di Asia Tenggara dengan penjualan 1,05 juta di 2016, mengalahkan Thailand yang 800 ribu dan Malaysia yang 600 ribu. Industri komponen kita termasuk didalamnya koperasi dan UKM, belum bisa optimal menggarap pasar yang besar itu antara lain karena belum adanya integrasi atau belum terpadunya  antara sesama pelaku di bdang komponen otomotif ini," ujarnya.

Made mengakui, 95 persen pasar industri otomotif dan turunannya masih didominasi Jepang, sisanya oleh Eropa, Korea dan AS. Namun bukan berarti Koperasi dan UKM bidang komponen otomotif tidak bisa berperan.

"Mereka sudah mampu menghasilkan komponen tier 1 maupun Tier 2, untuk memasok industri besar seperti Toyota dan Honda. Namun ke depan, mereka juga akan kita rangkul untuk mendukung industri otomotif di pedesaan, dimana kita sekarang sedang merintis pembuatan angkutan pedesaan," tambahnya.

Untuk itu ia menyarankan senra industri UKM berhimpun dalam satu wadah organisasi khususnya koperasi, sehingga memiliki bargaining lebih dan skala yang lebih besar dibanding harus berjuang sendiri.

Deputi Bidang Produksi dan Pemasraan I Wayan Dipta pu menjanjikan memberikan kemudahan dalam proses perijinan  pendirian koperasi maupun sertifikat merek. "Kita siap membantu UKM bidang komponen otomotif yang akan membentuk koperasi, dan nanatinay diarahkan bisa memasok bahan baku ke industri besar di otomotif," katanya.

Direktur Bidang Pengembangan UKM dan Koperasi Kantor PPN/Bappenas, Dading Gunadi menilai, keberadaan koperasi dalam satu sentra industri bukan hanya sekedar alat mengurai ketimpangan di pedesaan namun juga akan memberikan dampak yang luar biasa terhadap bergeraknya roda perekonomian  di daerah tersebut. [rus/***]

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

UPDATE

KSP Bocorkan Poin Penting Taklimat Presiden Prabowo

Kamis, 12 Maret 2026 | 17:30

Pembangunan Huntara Ditarget Rampung Seluruhnya Sebelum Lebaran

Kamis, 12 Maret 2026 | 17:25

Rancangan Perpres Tugas TNI Atasi Terorisme Tuai Kritik

Kamis, 12 Maret 2026 | 17:23

Safari Ramadan di Tujuh Provinsi, PTPN IV Bahagiakan Anak Yatim

Kamis, 12 Maret 2026 | 17:01

Pengemis Musiman Eksploitasi Anak Kembali Marak Jelang Lebaran

Kamis, 12 Maret 2026 | 17:00

Ketua Bawaslu Ungkap Kelemahan Norma Penanganan Pelanggaran Pemilu

Kamis, 12 Maret 2026 | 16:59

Bukan Teladan, Pimpinan DPD Kompak Belum Lapor LHKPN

Kamis, 12 Maret 2026 | 16:44

Gibran Silaturahmi ke Habib Ali Kwitang Jelang Lebaran

Kamis, 12 Maret 2026 | 16:31

Guru Honorer Layak Dapat THR

Kamis, 12 Maret 2026 | 16:22

Ramadan jadi Momentum Edukasi Penggunaan Air dengan Bijak

Kamis, 12 Maret 2026 | 16:17

Selengkapnya