Berita

Net

Politik

Patung Dan Nasionalisme Yang Tergadaikan

SELASA, 01 AGUSTUS 2017 | 17:16 WIB | OLEH: HABIL MARATI

SIAPAKAH sebenarnya yang paling diuntungkan terhadap kekuasaan Jokowi ini? Apakah keluarga Jokowi? Kelihatannya bukan. Lalu apakah PDIP juga diuntungkan dengan kekuasaan Jokowi? Kelihatannya juga tidak. PDIP sebagai pemenang Pemilu saja gagal kok jadi Ketua MPR dan DPR. Apakah Umat Islam dan Pribumi diuntungkan dengan kekuasaan Jokowi ini? Kelihatannya juga tidak. Lalu siapa dong yang diuntungkan dengan kekuasaan Jokowi ini?

Secara politik Umat Islam dibenturkan dengan kekuasaan Jokowi, akibatnya politik gaduh dan gaduh, dan ketika politik sedang gaduh, lalu sekonyong konyong muncul Meikarta dan patung Jenderal perang China di Tuban, ini siapa yang design?

Patung-patung China seperti Patung Jendral China yang dibangun di Tuban serta patung Phon Antui di Taman Mini ini apa hubungannya dengan Bangsa Indonesia ? Dan apa hubungannya dengan kedaulatan rakyat Indonesia? Patung-patung China ini menjelaskan apa tentang Indonesia? Dan Apa tujuan keberadaan patung-patung ini?


Terus terang, saya merasa nasionalisme saya terusik, jiwa saya berontak. Dimana pun di negara mana pun yang memiliki harga diri sebagai bangsa tidak akan pernah mengizinkan mendirikan patung pahlawan negara Asing didirikan di negaranya. Mengapa Jokowi tidak memerintahkan keamanan untuk merobohkan patung raksasa China yang di Tuban itu? Bukan kah ini menunjukan intervensi nasionalisme China ke dalam wilayah kedaulatan Bangsa Indonesia?

Patung-patung ini jangan dikira tidak memiliki arti politik, ekonomi, nasionalisme dan kedaulatan. Patung-patung ini bisa saja sebagai simbol bahwa secara politik sebagai penaklukan wilayah kedaulatan Indonesia, bisa saja bahwa sang Jendral perang China yang patungnya di Tuban itu dulu mungkin bercita-cita ingin menaklukan dan menguasai Indonesia secara politik tapi gagal. Patung Jendral perang China di Tuban itu sebagai kebangkitan Nasionalisme China perantauan dan China daratan untuk menjadikan Indonesia sebagai daerah koloni baru mereka, ini mungkin saja kalau di lihat dari spectrum ekonomi dan investasi.

Demikian juga bahwa patung Jendral perang China yang di Tuban itu adalah sebuah simbolik pernyataan hegemonisme baru dari orang orang China tertentu perantauan di Indonesia terhadap penguasaan politik, kekuasaan dan ekonomi para China a Nasional terhadap Negara Indonesia.

Kehadiran tokoh-tokoh China berupa patung di Indonesia justru akan melahirkan bangkitnya rasa nasionalisme di kalangan bangsa Indonesia ujung ujungnya akan memicu lahirnya anti asing aseng di Indonesia. Tidak ada satu alasan apapun yang memperbolehkan pendirian patung Jendral China di Indonesia. Indonesia tidak mengenal Jendral China tersebut.

Indonesia sebuah negara yang memiliki kedaulatan dalam semua hal. Maka keberadaan patung Jendral perang China tersebut telah melanggar kedaulatan sejarah bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia tidak mengenal Jendral perang China yang patungnya didirikan di Tuban tersebut dan tidak memiliki ikatan sejarah maupun pradaban terhadap bangsa Indonesia.

Akultrasi serta penampakan patung-patung Jendral perang China di Indonesia membuktikan bahwa China memang memiliki kepentingan besar atas amandemen UUD45 menjadi UUD2002  dengan tujuan, mereka akan menjadi Indonesia sebagai kolonialisme ekonomi, sebagai kolonialisme politik serta sebagai kolonialisme ideologi.

Hal ini bisa kita bukti kan bahwa saat ini orang-orang China telah menjadikan tanah tumpah darah Indonesia sebagai pusat kejahatan siber, pusat lapangan kerja bangsa China, pusat perbedaan Narkotika, pusat ekonomi dan sedang mengarah juga menjadi pusat patung-patung tokoh tokoh China. Untuk kejahatan siber ada sekitar 300 orang di tangkap di Surabaya, Medan dan Jakarta.

Begitu mudah orang-orang China ini masuk ke Indonesia dalam jumlah besar untuk melakukan tindakan kriminal  di Indonesia. Belum lagi kejahatan pemalsuan dokumen tenaga kerja oleh para buruh kasar China di Indonesia. Dengan demikian sangat jelas bahwa motivasi pendirian patung-Jendral perang China di Tuban merupakan pernyataan hegemonistik akan ras yang sempit dan ini sangat mengancam bangsa Indonesia asli, serta persatuan itu sendiri.

Sampai detik ini pun saya tidak melihat ada korelasinya antara sejarah kemerdekaan Bangsa Indonesia dengan pendirian patung besar Jendral perang China tersebut di Tuban. Justru yang bisa kita tangkap dan analisis akan keberadaan patung patung tersebut adalah bahwa para aseng ini telah berhasil memonopoli ekonomi Nasional Indonesia, menguasai dan menentukan perpolitikan Indonesis, menetrasi sejarah Kemerdekaan bangsa Indonesia dengan memasukan kontribusi Jendral perang China kedalam sejarah kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Para aseng ini sedang dalam proses menuju kesana yaitu penetrasi sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia. Patung jendral perang China yang didirikan di Tuban tersebut telah mengancam kedaulatan rakyat Indonesia. Dan oleh karena itu semua patung patung simbolik China yang tidak memiliki ikatan sejarah Kemerdekaan bangsa Indonesia harus dimusnahkan dari Bumi Pertiwi Indonesia ini. [***]

Penulis adalah mantan anggota DPR RI

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Kampus Demokrasi Obama

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:54

Presiden Prabowo Kemudikan Kapal Indonesia Menuju Ekonomi Pancasila

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:36

Merekonstruksi Ulang Konsolidasi Kebangsaan

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:18

Keberadaan DSI Perlu Dievaluasi Ulang dalam Tata Niaga Sawit

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:59

Usaha Jufriyah Terus Keruk Cuan Bersama BRI

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:34

Perdamaian AS-Iran Tanpa Israel

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:16

Turnamen Tenis Meja Masduki Cup 2026 Mengukir Asa Menuju Pentas Dunia

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:55

BRI Consumer Expo 2026 Makassar Hadirkan Berbagai Solusi Finansial

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:35

Koperasi Menjaga Keseimbangan

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:15

Gaya Hidup Sehat dan Kebersamaan Harus jadi Kebutuhan

Selasa, 23 Juni 2026 | 02:55

Selengkapnya