Berita

Foto/Net

Politik

Wiranto: HTI Sudah Jelas Anti Pancasila Dan NKRI

Keputusannya Digugat Ke MK
KAMIS, 27 JULI 2017 | 09:24 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemerintah siap menghadapi gugatan-gugatan terkait pembubaran ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Pemerintah berkeyakinan pembubaran itu semata mata untuk menjaga stabilitas keamanan negara.

 Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto mempertanyakan sejumlah pihak yang masih membela ormas yang anti Pancasila.

"Ormas ini sudah jelas anti Pancasila, NKRI. Bukti pidatonya juga sudah tersebar kemana-mana. Kok masih aja dibela?," kata Wiranto saat memberi pembekalan kepada para rektor, ketua, direktur, dan koordinator Kopertis Perguruan Tinggi di kantor Kemenhan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, ke­marin.


Bekas Panglima ABRI ini juga menepis anggapan, pemerintah telah mengambil keputusan sepi­hak terkait pembubaran tersebut. Termasuk adanya pelanggaran undang-undang, serta ketidak­manusiawian dalam proses pem­bubaran.

"Pembubaran HTI ini semata-mata untuk menjaga stabilitas keamanan negara. Pembubaran ini juga sesuai aturan. Makanya, saya juga bingung. Tapi nggak apa-apa, itu hak mereka," pung­kasnya.

Namun demikian, Wiranto menyambut baik para pihak yang mengajukan gugatan uji materi ke Mahkamah Konstitusi (MK) terkait penerbitan Peraturan Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas). Pemerintah juga menyambut baik adanya gugatan terkait pembubaran HTI, dan pemerintah siap menghadapi gugatan-gugatan tersebut di MK.

"Kita uji aja di persidangan, mana yang benar, dan pemerintah sudah memikirkan secara matang termasuk untung-ruginya," ujarnya.

Selain itu, Wiranto berharap bela negara terus ditingkatkan dan disebarluaskan agar makin banyak masyarakat yang sadar dan terhindar dari ancaman yang membahayakan kedaulatan bangsa. Seperti radikalisme, narkoba, hingga teroris yang masih marak terjadi belakangan ini.

"Sekarang sudah saatnya bela negara dipraktikkan dalam ke­hidupan masyarakat agar anca­man tersebut hilang. Misal, setiap masuk kampus, saya Indonesia, saya Pancasila, masuk pesantren, saya bela Indonesia, saya Pancasila. Turun dari angkot, saya Indonesia, saya Pancasila, kalau begitu terus akan mengalir dan kita ingat terus," ujarnya.

Selain itu, Wiranto juga meng­ingatkan kembali amanat pendiri bangsa (founding fathers) Bung Karno dan Hatta dalam pembu­kaan UUD 1945. Sebagaimana yang tertuang pada alinea kedua yang bunyinya,

"Dan pergerakan kemerde­kaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerda­kaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur," ujarnya.

"Saya rasa amanat ini masih relevan. Kalau kita merujuk pada kalimat tersebut dapat disampaikan bahwa pada intinya, tujuan akhir yang ingin kita capai sebagai bangsa setelah merdeka adalah masyarakat adil dan makmur," terangnya.

Wiranto menjabarkan untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur, harus didahului oleh persatuan dan kedaulatan. Sebaliknya kalau warga negara tercerai berai, maka keadilan dan kemakmuran yang dicita-citakan takkan pernah tergapai.

Dia menyayangkan kata per­satuan itu lebih mudah diu­capkan daripada dilakukan. Menurut mantan ajudan Presiden ke-2 RI Soeharto itu, orang yang mau bersatu harus paham dulu bahwa yang namanya perbedaan itu rahmatan lilalamin (berkah bagi alam semesta).

"Beragam agama, suku, etnis dan sebagainya itu sesuatu yang given (dianugerahkan-red) dari Allah SWT. Kata persatuan juga mengadung pengertian kerelaan untuk berkorban demi kepentingan bersama," sambungnya.

Selanjutnya, orang yang mau bersatu seharusnya tidak mem­persalahkan lagi kuantitas, mayoritas dan minoritas. Akan tetapi, orang yang cinta persatuan cirinya adalah lebih mementingkan kon­tribusi yang disumbangkan untuk menjaga persatuan itu. ***

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Galang Kekuatan Daerah, Reynaldo Bryan Mantap Maju Jadi Caketum HIPMI

Sabtu, 16 Mei 2026 | 08:13

Anak Muda Akrab dengan Investasi, tapi Tanpa Perencanaan Finansial

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:59

Cuaca Ekstrem di Arab Saudi, DPR Ingatkan Jemaah Haji Waspadai Heatstroke

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:46

Dolar AS Menguat 5 Hari Beruntun Dipicu Lonjakan Minyak dan Efek Perang Iran

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:33

Sindikat Internasional Digrebek, Komisi XIII DPR Minta Pemerintah Serius Berantas Judol!

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:19

STOXX hingga DAX Ambles, Investor Eropa Dibayangi Risiko Inflasi

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:03

Pesanan Hukum terhadap Nadiem Bernilai Luar Biasa

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:44

Volume Sampah di Bogor Melonjak Imbas MBG

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:37

Industri Herbal Diprediksi Berkembang Positif

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:23

Adi Soemarmo Masuk Tiga Besar Embarkasi Haji Tersibuk

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:16

Selengkapnya