Berita

Ilustrasi/Net

Politik

UU Pemilu Yang Baru

JUMAT, 21 JULI 2017 | 13:31 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

SEMALAM, 20 Juli 2017, beberapa fraksi DPR-RI memutuskan UU Pemilu. Salah satu narasinya, Presidential Treshold 20% Kursi DPR atau 25 persen Suara Pileg (2014).

Empat fraksi (Gerindra, PKS, PAN, Demokrat) memilih Walk Out. Saat menuruni eskalator, Anggota Dewan Partai Gerindra disambut iring-irangan Mars Garuda Yaksa.

Ketok Palu dilakukan Ketua DPR-RI slash warga kehormatan NU cum tersangka mega korupsi e-KTP (Gus Nov).


Seorang netizen menulis: Hasil Sidang Paripurna tidak syah. Ta-Tib Sidang Paripurna menyatakan "Dalam pelaksanaan Rapat Paripurna dipimpin oleh pimpinan DPR dan dihadiri oleh paling sedikit 3 (tiga) orang pimpinan DPR."

Saat pengambilan keputusan, Sidang Paripurna dipimpin Gus Nov dan Fahri Hamzah (PKS). Minus Fadli Zon. Ex petenis Irawati Moerid berkata, "Fahri Hamzah gagal menjadi Semut Sulaiman".

Profesor Yusril Izha Mahendra langsung merespon. "Saya akan melawan UU Pemilu yang baru disahkan," katanya.

Alasannya, UU Pemilu ini melanggar Pasal 6A ayat (2) UUD 45 yang menyatakan:

"Pasangan calon presiden dan wakil presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum"

Menurut Prof Yusril, Pemilihan Umum yang dimaksud berdasarkan Pasal 22E ayat 3 UUD 45 menyatakan bahwa pemilu untuk memilih anggota DPR dan DPRD.

Anggota Dewan produser UU Pemilu (baru) memaknai pemilu sebagai "Pemilu Lima Kotak" (Serentak). Rujukannya adalah Slamet Effendi Yusuf, Mantan Ketua Rapat Amandemen UUD 1945 sekaligus Mantan Wakil Ketua PBNU.

Mantan Anggota Dewan Dua Periode dari PPP, Habil Marati (Hamar) menyatakan Para Fraksi pengusung UU Pemilu (baru) melanggar sila ke 4 Pancasila. "Ngaku pancasila tapi anti pancasila piye toh iki," kata Hamar (Miras?).

Selain melanggar Pasal 6A UUD 45 dan Sila ke 4, sejumlah netizen menyatakan UU Pemilu (baru) ini melawan putusan MK No. 108/PUU-XI/2013 dalam uji materil UU No. 42 thn 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Terhadap UUD 1945 yang memutuskan bahwa dalam Pemilu Presiden Wakil Presiden tidak diperlukan lagi Presidential Treshold dan Parlementiary Treshold.

Sosmed rame menuding Presential Treshold 20 persen ini sebagai strategic conspiracy menggolkan Calon Tunggal (Jokowi). Tudingan ini dibantah Cahyo Kumolo. Alasannya, Pilpres lalu juga menggunakan prosentase ini.

Menurut saya, UU Pemilu ini memang menguntungkan Mas Joko. Pasangan Calon Prabowo-Agus Yudhoyono nyaris impossible dibanding kombinasi Joko Widodo-Agus Yudhoyo. Bila demikian, tidak tertutup kemungkinan ada skenario Calon Tunggal (Joko-Agus) di Pilpres 2019.[***]


Penulis Merupakan Aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KomTak)




Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya