Berita

Salamuddin Daeng/net

Bisnis

Jokowi Sendiri Yang Memukul Daya Beli Masyarakat

SABTU, 15 JULI 2017 | 07:53 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Laporan Bank Dunia menyatakan bahwa Indonesia menghadapi dua masalah yang serius dan sulit ditemukan jalan keluarnya. Yaitu, inflasi yang tinggi dan daya beli masyarakat yang turun.

Padahal, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh konsumsi. Konsumsi menyumbang 53 persen PDB. Kalau daya beli jatuh maka otomatis pajak jatuh.

"Siapa yang memukul daya beli masyarakat ? Jokowi sendiri. Pertama, Presiden dengan tanpa ragu ragu dan penuh keberanian menaikkan harga bahan bakar minyak tepat di awal pemerintahanya," kata analis ekonomi, Salamuddin Daeng, lewat pesan elektronik.


Menurut dia, itu adalah tindakan super konyol karena pada saat itu harga minyak mentah sedang jatuh. Justru negara-negara lain menggunakan kesempatan itu untuk menekan biaya produksi, menekan harga, sekaligus mengangkat daya beli yang tengah jatuh, yang merupakan masalah ekonomi yang dihadapi oleh sebagian besar negara.

"Lebih dungu lagi pemerintah menaikkan harga listrik hampir setiap bulan sementara harga energi primer jatuh. Kebijakan ini telah memukul daya beli dan sekaligus melipatgandakan inflasi yang terus ditutup-tutupi dengan manipulasi statistik," jelasnya.

Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang terjadi sekarang hanya ditopang oleh tambahan utang pemerintah yang bernilai lebih dari Rp 1000 triliun dalam 2,5 tahun terakhir, dan kemungkinan Rp 1500 triliun dalam 3 tahun anggaran. Sandaran ekonomi pada utang tidak akan berdampak pada penerimaan pajak uang yang berarti. Pada tahap selanjutnya utang akan menjadi beban fiskal.

Sementara, utang tidak digunakan sebagai belanja dalam kegiatan yang menciptakan multiplier effect terhadap ekonomi dalam negeri. Utang sebagian besar digunakan untuk membeli barang-barang impor yang menciptakan dampak berganda bagi keuntungan bagi negara lain.

Jadi, ambruknya penerimaan pemerintah sekarang yang menimbulkan defisit hingga 2,92 persen PDB, dugaan saya lebih dari 3 persen PDB, adalah karena ulah pemerintah sendiri, yakni membongi rakyat dan menipu diri sendiri setiap hari. Kalau mau keadaan membaik cobalah bersikap jujur dan jangan suka menipu," kata Salamuddin.

Cara pemerintah dalam menggunakan anggaran pun membabi buta seakan menganggap anggarannya masih besar. Padahal, akan timpang jika dibandingkan dengan masa pemerintahan sebelumnya dengan penerimaan pajak Rp 1000 triliun dengan nilai tukar rupiah terhadap USD rata-rata Rp 8000. Sekarang, penerimaan pajak hanya berkisar Rp 1000 triliun sampai Rp 1100 triliun, tetapi kurs Rp 13500/USD. Dengan demikian, kualitas anggaran pemerintahan Jokowi menurun hampir separuh.

"Anggaran Jokowi berdasarkan selisih kurs tersebut secara riil hanya 60 persen dari anggaran yang dimiliki pemerintahan sebelumnya. Bagaimana mungkin pemerintahan ini dengan gagah berani membangun infrastruktur dengan menyandarkan pada bahan baku dan barang modal impor," terangnya.

Cara semacam itu, pungkas Salamuddin, hanya akan menguntungkan penerimaan pajak di negara lain yang menjadikan Indonesia sebagai pasar. Haluan ekonomi semacam ini akan menyebabkan defisit anggaran tahun 2018 semakin parah. [ald]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK-PPATK Diminta Pastikan Harta AHY dan Ibas dari Sumber Halal

Senin, 06 Juli 2026 | 17:38

KPK Dikabarkan Kembali Gelar OTT di Sumut

Kamis, 02 Juli 2026 | 20:50

UPDATE

Uang Tunai Rp476 Miliar, Emas Batangan, Dokumen dan Foto Keluarga Disita dari Rumah di Sentul

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:24

Beredar Kabar Mantan Sekjen MPR Maruf Cahyono Hari Ini Ditahan

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:15

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Audit BPK Pemkab Muara Enim

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:11

ASN PPPK Layak Peroleh Jaminan Pensiun

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:09

Koruptor Berkedok Penegak Hukum Pengkhianat Terbesar Bangsa

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:07

Tanya Seputar Jaksa

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:00

Respons Santai Usulan Jawa Barat jadi Tatar Sunda, DPR: Fokus Kerja Sajalah!

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:57

MPR dan MK Sepakat Tak Saling Intervensi Kewenangan Lembaga

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:41

Masih Digodok DPR, Publik Diminta Tak Khawatir Usulan Kenaikan BPIH 2027

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:31

KPK Sita 12 Ribu Dolar Singapura dari Ketua DPRD Kuansing

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:22

Selengkapnya