Berita

RMOL

Politik

Prof. Bahtiar: Yang Menganggap Ideologisasi Agama Musuh NKRI Tidak Paham Sejarah

JUMAT, 14 JULI 2017 | 04:54 WIB | LAPORAN:

Slogan 'Saya Pancasila Saya Indonesia' merupakan bentuk pernyataan dari orang-orang yang tidak paham sejarah bangsa, selain juga merusak integrasi nasional.

Demikian disampaikan Guru Besar Ilmu Politik UIN Jakarta Prof. Dr. Bahtiar Effendi dalam seminar bertajuk 'Merawat Identitas Kebangsaan dan Meneguhkan NKRI' di kampus Universitas Hamka, Jakarta, Kamis (13/7).

Juga hadir sebagai pembicara dalam seminar yang digelar IMM DKI Jakarta dan Pusat Studi Buya Hamka tersebut Dr. M. Alfan Alfian (Majelis Hikmah PP Muhammadiyah),  Andar Nubowo, DEA (Direkur Lazismu),  dan dr. Rizki Edmi Edison, Ph.D (Dewan Riset Neurosains). Sementara dosen Uhamka  yang juga mantan Ketua Umum IMM Ciputat, Tohirin, M. Pd, sebagai moderator. 


"Bicara Pancasila juga tidak cukup di kelas, sebab yang demikian hanya akan bicara sisi filosofisnya saja. Tetapi harus dengan bahasa dan kenyataan sosial ekonomi masyarakat," ungkap Prof. Bahtiar, yang juga Ketua PP Muhammadiyah ini.
 

Menurutnya, pihak-pihak yang menyebut kesenjangan sedang terjadi di Indonesia selama ini adalah tidak mengerti akan Pancasila. Pasalnya, perbedaan yang amat jauh lebih disebut sebagai intoleransi dalam ekonomi.

"Dan itu (intoleransi dalam ekonomi) justru yang bertentangan dengan Pancasila," ujar Prof. Bahtiar.

Karena itu, dia berharap ada mahkamah ideologi yang berfungsi mengoreksi penerapan kebijakan-kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan Pancasila. Seperti memisahkan politik dari agama yang berarti sekuler dan bertentangan dengan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

"Kemudian ada yang memperhadapkan NKRI dengan ideologisasi agama sebagai musuh, adalah tidak paham sejarah. Sebab musuh NKRI adalah federalisme, bahkan Soekarno-Hatta pun tidak bisa mempertahankan NKRI ketika menerima Republik Indonesia Serikat," jelas Prof. Bahtiar.

Justru, sambungnya, Ketua Fraksi Masyumi di  Parlemen M. Natsir yang berjuang pada April 1950 dan disetujui pada Agustus 1950 dengan mosi integralnya mengembalikan Indonesia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Karena itu, Soekarno bilang yang pantas memimpin pemerintahan adalah Natsir pada saat itu," ungkapnya.

Prof. Bahtiar juga menyoroti tentang buruknya sistem politik di Indonesia karena menganut sistem winner takes all, akhirnya yang terjadi politik balas dendam.

"Semua lawan politik disingkirkan meski selisih tidak sampai 10 persen. Lantas di mana pengakuan 46 persen suara tersebut. Kemudian yang parah, semua dikuasai oleh teman-teman, relawan. Entah mampu, bisa ataupun tidak tidak penting," imbuhnya. [wah]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Lazismu Kupas Fikih Dam Haji: Daging Jangan Menumpuk di Satu Titik

Jumat, 15 Mei 2026 | 02:12

Telkom Gandeng ZTE Perkuat Pengembangan Infrastruktur Digital

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:51

Menerima Dubes Swedia

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:34

DPD Minta Pergub JKA Dikaji Ulang dan Kedepankan Musyawarah di Aceh

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:17

Benarkah Negeri ini Dirusak Pak Amien?

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:42

Pendidikan Tinggi sebagai Arena Mobilitas Vertikal Simbolik

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:37

KNMP Diharapkan Mampu Wujudkan Hilirisasi Perikanan

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:22

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

Pembangunan SR Masuk Fase Darurat, Ditarget Rampung Juni 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 23:33

Harga Minyakita Masih Tinggi, Pengangkatan Wamenko Pangan Dinilai Percuma

Kamis, 14 Mei 2026 | 23:18

Selengkapnya