Berita

Foto/Net

Dunia

Ratusan Onta Mati

Buntut Saudi Vs Qatar
KAMIS, 13 JULI 2017 | 09:02 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Perseteruan Arab Saudi dengan Qatar secara diplomatik ternyata tidak hanya berlaku untuk pemerintah dan rakyatnya. Binatang pun ikut kena imbasnya. Bulan lalu, pemerintah Saudi resmi menyetop seluruh jalur manusia, perdagangan, hingga ternak terhadap Qatar. Dengan alasan apapun, ketika ada sesuatu dari Qatar hendak masuk ke Saudi, langsung disetop dan diminta kembali pulang.

Peraturan itu langsung berimbas kepada peternak onta asal Qatar. Pasalnya, peternak onta membutuhkan hamparan padang rumput luas untuk makan dan bermain. Masalahnya, Qatar bukan negara besar. Sebagai negara terbilang maju, keberadaan lahan lapang pun tidak ada.

Sudah menjadi kebiasaan para peternak onta numpang ke Saudi sekadar untuk tempat makan. Mereka pun sudah lama melintasi perbatasan. Tidak sedikit peternak Qatar membawa ternaknya melintasi gurun Arab menuju padang rumput.


Nah, begitu Saudi memasang border atas Qatar, peternak pun kelimpungan. Sejak bulan lalu, tercatat ada 20 ribu onta ditolak masuk ke Saudi dan terlantar di perbatasan. Belakangan, Saudi melunak, mereka mengizinkan onta masuk untuk makan dengan jumlah dan waktu terbatas.

Peristiwa itu berlangsung pekan lalu, saat itu Saudi mengizinkan 9000 onta masuk ke area Saudi dalam waktu 36 jam. Sayang, banyak onta tumbang tidak kuat. Mereka dipaksa berjalan dalam kondisi haus dan lapar. Banyak onta mati di jalan.

"Saya baru kembali dari Arab Saudi dan saya melihat lebih dari ratusan unta mati di jalanan," kata seorang peternak asal Qatar, Hussein al-Marri, seperti dilansir independent, kemarin. Peternak lain lainnya mengatakan, dia kehilangan 50 ekor domba, lima ekor unta, dan 10 lainnya hilang.

Sebuah rekaman video menunjukkan, hewan-hewan itu digiring ke sebuah kandang besar saat pintu perbatasan dibuka di jam-jam tertentu. Artinya, hanya beberapa ratus ekor saja yang bisa melintasi perbatasan setiap hari dan banyak dari hewan-hewan itu mati kehausan atau akibat luka yang tak tertangani.

Sebenarnya, Qatar sudah berupaya melakukan penyelematan dengan membuat tenda raksasa, namun gagal. Setelah sebulan lamanya, hingga kemarin sudah ratusan ekor unta tumbang. Mereka mati kelaparan dan kehausan. Sekalipun mendapatkan tenda megah dari pemerintah Qatar.

Sebagian besar unta-unta ini digunakan untuk diambil susunya dan dibiakkan untuk kepentingan balap unta yang sangat populer di Qatar. Tercatat sebanyak 150.000 ekor unta asal Qatar berada di wilayah Arab Saudi dan belum jelas apakah seluruh hewan ini akan diusir kembali.

Bulan lalu, Arab Saudi dan beberapa negara Timur Tengah – antara lain Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Mesir – memutuskan hubungan diplomatik dan perhubungan dengan Qatar, yang dituduh mendukung terorisme seperti Al Qaeda, ISIS, Hamas, dan Ikhwanul Muslimin.

Qatar sudah membantah tuduhan itu dan berupaya untuk menerobos blokade akibat pemutusan hubungan mengingat kebutuhan mereka akan pangan dan bahan baku impor. Namun, pemutusan diplomasi tetap berlaku hingga saat ini.

Pada 23 Juni lalu, Saudi Cs mengultimatum Qatar untuk memenuhi beragam tuntutan jika tidak ingin dikucilkan. Jika Qatar melakukan, pemutusan hubungan diplomatik dan pelarang perjalanan yang diterapkan sebulan lalu akan dicabut. Tapi, Qatar enggan memenuhinya.

Tuntutan itu antara lain, Qatar harus menutup pangkalan militer Turki, membatas hubungan dengan Iran, dan memutus semua kaitan dengan Ikhwanul Muslimin. Selain itu, Qatar juga diminta menolak menaturalisasi warga negara dari Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Bahrain sekaligus mengeluarkan warga keempat negara tersebut dari Qatar.

Empat negara tersebut meminta Qatar menyerahkan semua individu yang dicari keempat negara atas alasan terorisme, menghentikan pendanaan kepada entitas ekstremis yang disebut Amerika Serikat sebagai kelompok teroris.

Qatar juga harus menyediakan semua informasi terperinci tentang sosok-sosok yang didanai Qatar, terutama sosok oposisi dari Arab Saudi dan tiga negara Arab lainnya. Qatar juga harus bergabung ke Dewan Kerja sama Teluk dalam aspek politik, ekonomi dan bidang lainnya, menghentikan pendanaan ke perusahaan media, Al Jazeera, Arabi21 dan Middle East Eye, dan membayar sejumlah uang sebagai kompensasi. ***

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

UPDATE

Perang di Meja Runding

Kamis, 09 April 2026 | 06:16

Kecanggihan Alat Perang AS-Israel Bisa Dikalahkan

Kamis, 09 April 2026 | 06:04

Polisi di Jateng Dilaporkan Usai Rekam Polwan Mandi

Kamis, 09 April 2026 | 05:36

Tatanan Baru Dunia di Bawah Naungan Syariah Islam dan Khilafah

Kamis, 09 April 2026 | 05:26

Pemuda di Solo Tanam Ganja di Rumah

Kamis, 09 April 2026 | 05:10

Polda Sumsel Pamerkan 1.715 Unit Motor Hasil Curian

Kamis, 09 April 2026 | 04:20

Bandung Masuk 5 Besar Destinasi Wisata Terpopuler di Asia

Kamis, 09 April 2026 | 04:16

Pemprov Jateng Gratiskan Bea Balik Nama Kendaraan Bekas

Kamis, 09 April 2026 | 04:01

Mental Baja di Ujung Kiamat, Iran Tetap Berkata ‘Tidak’

Kamis, 09 April 2026 | 03:30

Jusuf Kalla Tersinggung Berat Omongan Rismon

Kamis, 09 April 2026 | 03:28

Selengkapnya