Berita

Sri Mulyani/net

Bisnis

Justru Rakyat Khawatir dengan Kinerja Sri Mulyani

SENIN, 10 JULI 2017 | 17:32 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

  Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani tidak perlu khawatir meski utang RI tembus Rp 3.600 triliun karena angkanya masih dibawah 30 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) mendapat kritikan keras.

Pernyataan Sri Mulyani ini dinilai ngawur, menyesatkan, dan hanya alibi atas ketidakmampuan menggenjot pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

"Yang bikin khawatir itu bukan besarnya utang karena masih dibawah 30% PDB, tapi kemampuan SMI meningkatkan pertumbuhan ekonomi," kata analis ekonomi politik, Abdulrachim K, kepada redaksi, Senin (10/7).


Abdulrachim menjelaskan, tim ekonomi pemerintah Jokowi-JK dimana salah satu pilarnya disokong Sri Mulyani terbukti tidak mampu menggenjot pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pada tahun 2016 pertumbuhan ekonomi yang dicapai hanya 5,1%. Pencapaian ini kalah dari Filipina yang tumbuh 6,8% dan Vietnam 6,2%.

Menurut dia, cara berpikir Sri Mulyani yang mengandalkan pendapatan pajak untuk menutup utang tanpa pertumbuhan ekonomi yang maksimal sangatlah aneh. Sebab bukankah kalau ekonomi tumbuh lebih tinggi maka pendapatan pajak bisa lebih tinggi sehingga bisa membangun infrastruktur lebih banyak, lapangan pekerjaan lebih banyak dan bisa membayar hutang.

Malah sudah terbukti juga kemampuan Sri Mulyani menggenjot penerimaa  pajak sangat minin. Meski ada program tax amnesty pendapatan pajak 2016 hanya sebesar Rp 998 triliun, atau sekitar 73,6% dari target APBN Perubahan 2016 sebesar Rp 1.355 triliun. Sementara tahun 2015 ketika Sri Mulyani belum masuk kabinet, total pendapatan pajak adalah sebesar Rp 1.060 triliun, atau sekitar 81,9% dari target APBN Perubahan 2015 sebesar Rp 1.294 triliun.

"Memperbanyak pendapatan pajak tidak cukup dengan reformasi pajak. SMI selalu hanya menyebut reformasi pajak karena bisanya cuma itu. Reformasi pajak kalau pertumbuhannya kecil maka pendapatan pajaknya juga kecil. Sedangkan untuk menambah pertumbuhan, SMI tidak tahu caranya. Piye!" kata aktivis 77/78 itu.

Tambah ngawur menurut dia, Sri Mulyani justru membesar-besarkan masalah yang bukan wilayahnya. Di depan kongres Diaspora pidatonya malah membahas sulit tidur karena takut uang negara dikorupsi.

"Itu urusan KPK. Kasih saja KPK anggaran yang cukup untuk menambah jumlah penyidik yang banyak," tutup Abdulrachim.[san]

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya