Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Lagi-lagi Lagi Lagi

SABTU, 24 JUNI 2017 | 08:55 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SEBAGAI naskah selingan menjelang Lebaran, saya ajak anda menelusuri fenomena kelirumologis dalam penggunaan kata.

Terbukti bahwa cukup banyak kata yang sebenarnya keliru atau minimal kurang tepat namun akibat terus-menerut digunakan oleh masyarakat luas secara keliru maka lama kelamaan kekeliruan penggunaan kata malah disepakati dianggap sebagai benar.

Apalagi jika kekeliruan penggunaan kata bukan dikoreksi namun malah dibenarkan oleh kamus. Misalnya istilah "konsumerisme" yang sebenarnya bermakna "mazhab melindungi konsumen" akibat terus-menerus digunakan dalam arti "perilaku konsumtif berlebihan" maka makna yang keliru malah menjadi lebih benar akibat dibenarkan oleh masyarakat yang menggunakan istilah konsumerisme sebagai perilaku konsumtif berlebihan.


Ketika saya mencoba mengoreksi kekeliruan istilah "konsumerisme" agar kembali ke makna yang benar, malah saya dihujat sebagai sok pinter bahkan menyesatkan oleh berbagai pihak yang sudah terlanjur menganggap kekeliruan yang mereka lakukan sebagai yang benar.

Celakanya Kamus Besar Bahasa Indonesia malah memaknakan "konsumerisme" sebagai perilaku konsumti berlebihan maka makin mantaplah kekeliruan penggunaan istilah "konsumerisme" di Indonesia.

Sama halnya dengan kata "graha" yang bermakna buaya kemudian berubah menjadi gedung akibat gedung di mana Pak Harto menunaikan tugas kepresidenannya disebut sebagai Bina Graha.

Harus saya akui bahwa di masa Pak Harto masih berkuasa saya tidak berani melakukan koreksi terhadap kekeliruan sebutan "graha" agar selamat dari hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi pada kenyataan memang banyak buaya-buaya politik berkeliaran di sekitar Pak Harto di masa beliau berkuasa.

Istilah "fraksi" tetap digunakan untuk kelompok-kelompok di DPR mungkin akibat pada kenyataan kemelut di dalam DPR memang selalu bersuasana terpecah-belah bahkan tercerai-berai. Dalam bahasa Inggeris jelas istilah yang digunakan untuk kelompok di parlemen adalah "faction" bukan "fraction".

Namun yang akhir-akhir ini sedang membingungkan saya adalah penggunaan kata "lagi" dalam arti "sedang" seperti "aku lagi makan" atau "dia lagi tidur" atau "kamu lagi apa?" padahal saya sudah terlanjur terbiasa menggunakan kata "lagi" dalam makna "kembali" seperti "aku tidur lagi meski sudah tidur" atau "dia makan lagi meski sudah makan".

Suasana makin membingungkan akibat keanekaragaman Kamus Besar Bahasa Indonesia memaknakan kata "lagi" sebagai berikut: 1. sedang (dalam keadaan melakukan dan sebagainya); masih: "jangan berisik, ayah lagi tidur". 2. tambah sekian (atau sedemikian) pula:  "tunggu sebentar lagi". 3. kembali (berbuat dan sebagainya) seperti semula; berulang seperti semula; pula: "kemarin sudah menonton, sekarang hendak menonton lagi" ; 4. dan; serta; juga: "anak itu pandai lagi rajin"; "istrinya muda, cantik, lagi kaya"; 5. partikel yang dipakai untuk menekankan kata atau kalimat yang mendahuluinya (mengandung makna; sama sekali, betul-betul, amat sangat, dan sebagainya):   "penderitaan rakyat tergusur sudah tidak tertahan lagi".

Sementara kata "lagi-lagi" dimaknakan sebagai berulang lagi, kembali lagi.

Dengan demikian tidaklah keliru apabila saya kreatif menyusun sebuah kalimat sebagai berikut "Lagi-lagi saya tertidur lagi meski sebenarnya lagi makan meski orang lain tidak lagi makan sebab lagi puasa, lagi pula rasa ngantuk tidak tertahan lagi maka saya tidak bisa tunggu sebentar lagi, langsung tidur lagi saja". [***]

Penulis adalah pendiri Pusat Studi Kelirumologi

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Manusia Nusantara dan Karakteristiknya

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:59

Diduga Terlibat Korupsi, Wali Kota Pematangsiantar Dilaporkan ke KPK

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:40

Telkom Bidik Peluang AI di Berbagai Sektor Industri Lewat Alcosystem

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:20

Bahlil: Bagi Golkar, Kosgoro ‘Seng Ada Lawan’

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:57

Film Pesta Babi Dianggap jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:33

Banyak Orang Cemas dengan Ekonomi Indonesia, Chatib Basri jadi Solusi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:15

Membongkar Jaringan Korupsi Terstruktur Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:55

Penangkapan 320 WNA Jaringan Judol jadi Kado Manis Hari Bhayangkara

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:30

Kasus Silmy Karim Harus jadi Momentum Reformasi Total Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:10

Purbaya Bantah Isu Mundur dari Menkeu: Saya Lebih Suka Maju!

Sabtu, 06 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya