Berita

Agrobisnis/net

Hukum

Syngenta Indonesia Ciptakan Bisnis Agrobisnis Lebih Baik

MINGGU, 11 JUNI 2017 | 02:10 WIB | LAPORAN:


PT Syngenta Indonesia mengalami pertumbuhan bisnis yang cukup baik. Hal itu terlihat dari pendapatan global yang ditorehkan perusahaan sebesar USD 12,8 miliar sampai saat ini.

"Untuk pendapatan atau revenue secara global mencapai USD 12,8 miliar," jelas President Director Syngenta Indonesia Parveen Kathuria dalam keterangannya, Sabtu (10/6).

Menurut Parveen, sedangkan untuk pendapatan di Indonesia sendiri, angkanya belum spesifik. Meskipun demikian, Indonesia merupakan pasar yang sangat besar, mengingat Indonesia menjadi negara dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan memiliki lahan pertanian yang sangat luas hingga kini.

Menurut Parveen, sedangkan untuk pendapatan di Indonesia sendiri, angkanya belum spesifik. Meskipun demikian, Indonesia merupakan pasar yang sangat besar, mengingat Indonesia menjadi negara dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan memiliki lahan pertanian yang sangat luas hingga kini.

Dengan faktor inilah, Syngenta tidak ragu untuk menginvestasikan dananya di berbagai negara, termasuk Indonesia untuk menciptakan iklim agrobisnis lebih baik ke depannya.

"Secara global, kami menginvestasikan Rp 50 miliar per hari yang digunakan untuk mengedepankan bidang pertanian ataupun berbagai benih melalui inovasi teknologi berkelas yang dapat  menghadirkan kualitas hidup yang lebih baik," ujarnya.

Selain itu, Syngenta Indonesia juga memiliki dua pabrik, seperti di Pasuruan, Jawa Timur dan di Gunung Putri, Jawa Barat. Pabrik di Pasuruan fokus untuk pengembangan benih, khususnya jagung. Sedangkan pabrik Gunung Putri fokus pada pengembangan crop chemical atau obat kimia untuk tanaman.

"Dengan kata lain, Site Syngenta di Gunung Putri merupakan site Formulation, Filling and Packing (FF&P) untuk produk perlindungan tanaman Syngenta," ucap Parveen.

Site FF&P Syngenta Gunung Putri  memiliki total kapasitas produksi sebesar 58 juta liter per tahun dengan produksi utamanya adalah Herbisida, Gramoxone, sebesar 86 persen diikuti oleh insektisida dan fungisida.

"Sekitar 80-85 persen dari produksi site FF&P Syngenta Gunung Putri ditujukan untuk pasar lokal Indonesia sementara sisanya sebesar 10-15 persen diekspor ke beberapa negara seperti Filipina, Thailand, dan negara lainnya," ungkap Parveen.

Site FF&P Syngenta Gunung Putri sendiri mendapatkan nilai tertinggi dalam Community Engagement dan mendapatkan penghargaan sebagai salah satu dari lima perusahaan terbaik di Bogor. PT Syngenta Indonesia bukan pemain baru di dunia agrobisnis Indonesia. Perusahaan yang berkantor pusat di Swiss ini menggeluti bisnis bibit, pupuk, pestisida, dan bahan pelindung tanaman lainnya. Baik tanaman sayuran maupun tanaman pangan dan perkebunan.

Di Indonesia, Syngenta berkantor di Jakarta dan mengawasi tiga wilayah komersial antara lain Jawa, Sumatera dan Indonesia bagian timur. 80 hingga 85 persen hasil produknya ditujukan untuk pasar lokal, sementara sisanya diekspor ke beberapa negara seperti Filipina, Thailand dan negara lainnya. Hingga kini, Syngenta Indonesia telah memiliki tak kurang 700 karyawan yang memiliki pabrik perlindungan tanaman di Gunung Putri, Bogor yang didirikan pada 1981.

Pabrik seluas 12 ribu meter persegi di atas tanah selebar 32 ribu meter persegi yang terletak tak jauh dari timur Jakarta itu merupakan site formulation, filling and packaging (FF&P) untuk produk perlindungan tanaman. Total kapasitas produksinya bisa mencapai 58 juta liter per tahun. Produksi utamanya adalah herbisida, gramoxone, yang 86 persennya diikuti oleh insektisida dan fungisida.[san]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

KPK Panggil 13 Saksi Kasus Mantan Wamen Imipas Silmy Karim

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:22

Gugatan PT KSS, Ahli Nilai Keputusan Kemenhub Timbulkan Konsekuensi Hukum

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:21

Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:12

Laporan HAM PBB Sebut Israel Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:01

Jakarta 499 Tahun: Birokrasi Modern Belum Cukup Tanpa Perspektif HAM.

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:00

BKKBN: 8,1 Juta Keluarga di Indonesia Berisiko Stunting

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:41

Kisah Mantri Perempuan BRI Tempuh Pegunungan Toraja untuk Layani Nasabah di Wilayah 3T

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:29

Konbes–Munas NU Ploso Diwarnai Aksi Intimidasi dan Motif Kepentingan Pribadi

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:28

Prabowo Dianugerahi Lencana Emas Adi Bakti Tani-Nelayan Maha Utama

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:24

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Bupati Muara Enim Edison

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:18

Selengkapnya