Berita

Gatot Nurmantyo/Puspen TNI

Jaya Suprana

Dihujat Gara-Gara Baca Puisi

JUMAT, 26 MEI 2017 | 10:54 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

ALKISAH, Denny J.A menulis puisi "Sungguh Jaka tak mengerti. Mengapa ia dipanggil polisi. Ia datang sejak pagi. Katanya akan diinterogasi. Dilihatnya Garuda Pancasila Tertempel di dinding dengan gagah. Terpana dan terdiam si Jaka. Dari mata burung garuda Ia melihat dirinya. Dari dada burung garuda. Ia melihat desa. Dari kaki burung garuda. Ia melihat kota. Dari kepala burung garuda.  Ia melihat Indonesia. Lihatlah hidup di desa Sangat subur tanahnya Sangat luas sawahnya. Tapi bukan kami punya.

Lihat padi menguning. Menghiasi bumi sekeliling Desa yang kaya raya. Tapi bukan kami punya. Lihatlah hidup di kota Pasar swalayan tertata Ramai pasarnya. Tapi bukan kami punya. Lihatlah aneka barang Dijual belikan orang Oh makmurnya . Tapi bukan kami punya. Jaka terus terpana. Entah mengapa. Menetes air mata Air mata itu ia yang punya. Masuklah petinggi polisi. Siapkan lakukan interogasi Kok Jaka menangis? Padahal ia tidak bengis?

Jaka pemimpin demonstran. Aksinya picu kerusuhan. Harus didalami lagi dan lagi. Apakah ia bagian konspirasi? Apakah ini awal dari makar? Jangan sampai aksi membesar? Mengapa pula isu agama Dijadikan isu bersama? Mengapa pula ulama? Menjadi inspirasi mereka? Dua jam lamanya. Jaka diwawancara. Kini terpana pak polisi. Direnungkannya lagi dan lagi.


Terngiang ucapan Jaka. Kami tak punya sawah. Hanya punya kata. Kami tak punya senjata hanya punya suara .  Kami tak tamat SMA. Hanya mengerti agama. Tak kenal kami penguasa. Hanya kenal para ulama. Kami tak mengerti. Apa sesungguhnya terjadi. Desa semakin kaya, tapi semakin banyak saja. Yang bukan kami punya. Kami hanya kerja, tapi mengapa semakin susah? Kami tak boleh diam. Kami harus melawan. Bukan untuk kami, tapi untuk anak anak kami.

Pulanglah itu si Jaka. Interogasi cukup sudah. Kini petinggi polisi sendiri. Di hatinya ada yang sepi. Dilihatnya itu burung garuda menempel di dinding dengan gagah. Dilihatnya sila ke lima Keadian Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia kini menangis itu polisi cegugukan tiada henti. Dari mulut burung garuda terdengar merdu suara
."  

Saya menghayati  puisi Denny J.A. sebab kebetulan saya sedang merisaukan derita rakyat ditindas oleh bangsa sendiri setelah Bung Karno dan Bung Hatta mempoklamirkan kemerdekaan Indonesia dari penindasan bangsa asing.  Namun kerisauan makin mencengkeram sanubari saya akibat Panglima TNI, Gatot Nurmantyo dihujat akibat membacakan puisi Denny J.A. “Tapi Bukan Kami Punya”   ketika menghadiri Rapimnas Partai Golkar 22 Mei 2017. GN dihujat senasib SBY dihujat akibat bikin puisi untuk lagu.  Bahkan Rendra masuk penjara baca puisi.

Maka saya teringat pada presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy yang menyampaikan orasi legendaris mengenang penyair Robert Forst  di  Amherst College 26 Oktober 1963 “When power leads men towards arrogance, poetry reminds him of his limitations. When power narrows the areas of man’s concern, poetry reminds him of the richness and diversity of his existence. When power corrupts, poetry cleanses. For art establishes the basic human truth which must serve as the touchstone of our judgment” yang lebih baik tidak saya alih-bahasakan agar tidak kehilangan sukma makna sejatinya.

Kini bukan sekedar kerisauan namun kesedihan menyelinap ke dalam lubuk sanubari saja akibat ternyata  merisaukan derita rakyat termasuk aib yang hukumnya wajib untuk dihujat oleh sesama warga Indonesia yang sedang asyik mengumbar angkara murka kebencian di tengah kemelut perebutan tahta kekuasaan.[***]

Penulis adalah pembelajar kasih sayang



Populer

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

UPDATE

RI Tak Boleh Tunduk atas Bea Masuk 104,38 Persen Produk Surya oleh AS

Jumat, 27 Februari 2026 | 10:16

DPR: Penagihan Pajak Tanpa Dasar Hukum yang Jelas Namanya Perampokan

Jumat, 27 Februari 2026 | 10:09

Suara Rakyat Terancam Hilang Jika PT Dinaikkan

Jumat, 27 Februari 2026 | 10:09

Bursa Cabut Status Pemantauan Khusus 14 Saham, Resmi Keluar dari Mekanisme FCA

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:57

IHSG Dibuka ke Zona Merah, Anjlok ke Level Terendah 8.093 Pagi Ini

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:41

Komisi III DPR Ingatkan Aparat Tak Main Hukum Terhadap ABK Fandi

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:38

Perjanjian Dagang RI-AS Perkuat Hilirisasi

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:36

Laba Bersih Astra International Turun 3,3 Persen di 2025, Jadi Rp32,77 Triliun

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:31

185 Lapangan Padel Belum Berizin, Pemprov DKI Segera Bertindak

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:16

Bursa Asia Melempem Jelang Akhir Pekan

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:06

Selengkapnya