Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Kelirumologi Makar

MINGGU, 07 MEI 2017 | 08:25 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SATU di antara sekian banyak karya yang dipersembahkan demokrasi kepada rakyat Indonesia adalah kebebasan mengungkap pendapat.

Maka wajar apabila Ketua Setara Institute, Hendardi menyayangkan pernyataan Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, yang menyebut isu upaya makar sebagai hoax atau informasi sesat.  

Hendardi menegaskan, seharusnya TNI sebagai elemen institusi negara memberi dukungan kepada institusi penegak hukum, dalam hal ini Polri, yang sedang melakukan penyidikan dugaan kasus makar. Pernyataan Gatot dapat dikategorikan sebagai obstruction of justice (menghalangi proses hukum). Apalagi, Gatot adalah tokoh yang berpengaruh.  


Setara Institute menilai pernyataan Panglima TNI lebih menyerupai pernyataan politikus sekaligus menggambarkan persoalan di dalam tubuh TNI. Karena itu, Presiden Joko Widodo perlu bersikap.

Di sisi lain adalah juga wajar bahwa di alam demokrasi Hendardi dianggap keliru oleh Koordinator Forum Rakyat Lieus Sungkharisma.

Tokoh yang tidak mau disebut Tionghoa ini mengatakan, tidak ada yang salah dari pernyataan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dalam acara salah satu stasiun televisi swasta pada kamis 4 Mei 2017 lalu itu. “Menurut saya, apa yang dikatakan Jenderal Gatot Nurmantyo benar. Tidak ada yang salah dari pernyataan beliau,” ujar Lieus dalam siaran persnya, Sabtu 6 Mei 2017.

Dia menganggap Hendardi telah gagal paham terhadap pernyataan Panglima TNI, yang menyatakan tersinggung jika Aksi Bela Islam dikaitkan dengan upaya makar. Lieus meyakini bahwa pernyataan Gatot adalah sebuah fakta yang terjadi sepanjang aksi yang diikutinya bersama massa umat muslim. “Sebagai orang yang ikut turun ke lapangan bersama-sama massa umat Islam, sejauh ini saya melihat tidak ada indikasi makar itu,” demikian penegasan Lieus.

Menurut dia, umat Islam hanya menginginkan tegaknya keadilan. Di sisi lain lagi, adalah wajar pula bahwa sebagai pendiri Pusat Studi Kelirumologi, saya mengungkap pendapat dari sisi lain yaitu berdasar hasil wawancara langsung dengan beberapa warga Indonesia yang ditangkap atas tuduhan makar.

Dari investigasi tabayyun tersebut,  sama sekali tidak ditemukan niatan melakukan makar pada diri para tertuduh di samping pada kenyataan tidak ada yang memiliki kemampuan untuk melakukan makar. Makan mungkin, tapi bukan makar.

Para warga yang dituduh ingin melakukan makar sebenarnya sekedar merasa tidak puas dengan situasi kondisi bangsa dan negara Indonesia pada masa kini terutama pada fakta bahwa kesenjangan sosial yang makin lebar antara yang mahakayaraya dengan yang mahamiskinpapa.  

Sebagai solusi, Pusat Studi Kelirumologi menyarankan penghentian perilaku saling menyalahkan, sibuk mencari “siapa” yang salah sebab dikuatirkan akan memecah-belah persatuan Indonesia. Sebaiknya sepak-terjang saling menyalahkan digantikan dengan upaya bersama mencari “apa” sebenarnya yang keliru pada kenyataan kehidupan bangsa Indonesia di masa kini.

Demi kemudian secara bersama pula melalui musyawarah mufakat dicari solusi yang terbaik demi membentuk masa depan yang lebih baik ketimbang masa kini. Sesuai sukma Kelirumologi yaitu ikhtiar mendeteksi kekeliruan kemudian menelaah kekeliruan untuk mencari kebenaran. Demi persatuan Indonesia.[***]

Penulis adalah pendiri Pusat Studi Kelirumologi


Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

Kasum TNI Buka Rakernas Taekwondo Indonesia 2026

Jumat, 17 April 2026 | 03:56

Gubernur Luthfi Ajak Kadin Berantas Kemiskinan Ekstrem di Jateng

Jumat, 17 April 2026 | 03:42

Halalbihalal dan Syal Palestina

Jumat, 17 April 2026 | 03:21

Soenarko Minta Prabowo Jangan Diam soal Kasus Ijazah Jokowi

Jumat, 17 April 2026 | 02:59

BGN Minta Pemprov Sulteng Gandeng Influencer Lokal Tangkal Hoax MBG

Jumat, 17 April 2026 | 02:49

Prabowo Jangan Lagi Pakai Orang Jokowi Buntut Penangkapan Ketua Ombudsman

Jumat, 17 April 2026 | 02:24

Penyidik Kejati Angkut Sejumlah Berkas Usai Geledah Kantor Dinas ESDM Jatim

Jumat, 17 April 2026 | 01:59

Aktivis dan Purnawirawan TNI Gelar Aksi di DPR soal Kasus Ijazah Jokowi

Jumat, 17 April 2026 | 01:45

Purbaya Anggap Santai Peringatan S&P: Defisit Kita Masih Terkendali

Jumat, 17 April 2026 | 01:25

Anak TK Pun Tidak Percaya Motif Pelaku Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus

Jumat, 17 April 2026 | 00:59

Selengkapnya