Berita

Zeng Wei Jian/Net

Politik

Freedom Of Speech

KAMIS, 04 MEI 2017 | 13:49 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

DI Amerika, freedom of speech jadi pointer pertama dari Bill of Right. Tapi ada sambungannya. Yaitu kebebasan beragama, pers dan petisi.

Namun, klik liberal (bego) di Jakarta silap mengartikan freedom of speech jadi bebas sebebas-bebasnya. Ugal-ugalan.

Cobalah berkata, "fucking nigga" di Amerika. Anda bakal dijerat UU Anti Rasisme. Jadi, freedom of speech punya sederet syarat juga. Paling penting, jadilah pendukung freedom of speech yang jujur. Tidak hipokrit. Cerdas. Tidak muka dua.


Misalnya, ada segelintir sekuler ekstrim mencerca outfit para ulama dan habaib. Mereka gunakan derogatory terms. Berdaster-lah, kearab-araban-lah. Stigma "bukan Indonesia" dibangun. Fungsinya sebagai pondasi fitnah lanjutan. Lebih keji, kejam, dan sadis. Para ulama itu dituding anti keberagaman.

Padahal, para pem-bully suka pake blue jeans (celana penggembala sapi Amerika). Mereka diam, ngga berisik soal kostum biarawan Buddha. Biksu Theravada pake outfit ala Thailand. Sekte Mahayana jelas gunakan kostum Tiongkok. Non-Indonesia itu. Mana ada baju khas Indonesia berdasi dan jas seperti yang dipake pendeta protestan.

Nyata, ada kemunafikan dalam sikap para pem-bully itu. Hanya di sini, freedom of speech dijadikan alat kejahatan.

Di Amerika nggak begitu. Freedom of speech sepenuhnya berdasarkan itikad baik. Kesetaraan hak dalam berpendapat.

Di kasus penodaan Surat Al Maidah 51 lebih lucu lagi. Sejumlah netizen non muslim merilis opini sekaligus jadi hakim bagi Umat Islam. Dengan kepercayaan diri penuh. Tiba-tiba, mereka jadi lebih paham soal keislaman dibanding alim ulama yang seumur hidupnya bergumul dengan fiqih dan tauhid.

Ini anomali dari demokrasi dan freedom of speech. Dan hanya terjadi di Indonesia.

Saya kira, Indonesia tidak cocok dijadikan negara liberal versi John Stuart Mill yang bilang, "...there ought to exist the fullest liberty of professing and discussing, as a matter of ethical conviction, any doctrine, however immoral it may be considered." (On Liberty, 1859).

Moralitas masih mesti jadi pondasi sebuah nation. Salah satu sumbernya ya agama. Dan Islam adalah agama mayoritas di Indonesia. Sepantasnya, Islam diletakkan di posisi yang paling terhormat.[***]


Penulis Merupakan Aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KomTak) 

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya