Berita

Jaya Suprana

Jaya Suprana

Pemimpin Pilihan Rakyat

SABTU, 29 APRIL 2017 | 05:17 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

THE South China Morning Post memberitakan sebuah berita dengan judul "Jakarta vote winner must repair damage" (Pemenang Pilkada Jakarta harus memperbaiki kerusakan). Judul tersebut disusul sub-judul "Anies Baswedan shamelessly used Islam to claim the governorship of Indonesia’s capital from the incumbent, Basuki Tjahaja Purnama, an ethnic Chinese Christian  In doing so, Indonesia’s reputation for religious tolerance and pluralism has suffered". (Anies Baswedan tidak malu menggunakan Islam untuk mengklaim tahta gubernur Ibukota Indonesia dari petahana, Basuki Tjahaja Purnama, seorang etnik China-Nasrani. Dengan berbuat begitu, reputasi Indonesia dalam toleransi agama dan pluralism tercemar).

Kemudian sebuah kalimat menegaskan bahwa "Purnama went through to the second round of voting, but lost despite being widely acknowledged as being among the best administrators Jakarta has ever had. The preferred choice of President Joko Widodo, he was tipped to be a future national leader. (Purnama kalah pada putaran dua pilkada meski secara luas dianggap sebagai salah satu gubernur Jakarta terbaik. Sebagai pilihan presiden Joko Widodo, dia diharapkan menjadi pemimpin nasional masa depan).

Dapat dimengerti bahwa sebagai media China maka secara sadar atau tidak sadar The South China Morning Post berpihak ke pihak tertentu . Kalimat "Anies Baswedan shamelessly used Islam to claim the governorship of Indonesia’s capital from the incumbent, Basuki Tjahaja Purnama, an ethnic Chinese Christian In doing so, Indonesia’s reputation for religious tolerance and pluralism has suffered" mengesankan bahwa sang penulis kalimat sudah ikut tertular Islamophobia .


Lazimnya, kata "shameslessly" tidak digunakan pada suatu pemberitaan yang benar-benar obyektif. Kalimat yang menegaskan bahwa "Purnama went through to the second round of voting, but lost despite being widely acknowledged as being among the best administrators Jakarta has ever had" mengesankan sang penulis kalimat tidak sadar bahwa pemerintah Jakarta di bawah komando Basuki Tjahaja Purnama melakukan penggusuran rakyat  dengan cara yang sempurna melanggar hukum sesuai vonis majelis hakim PTUN Jakarta sekaligus juga melanggar HAM seperti yang dinyatakan oleh LBH Jakarta.

Fakta bahwa Basuki Tjahaja Purnama kalah pilkada akibat tidak dipilih oleh mayoritas rakyat  Jakarta sebenarnya tidak perlu dipersolek demi diperelok dengan kosmetik dalih  intoleransi, antipluralis apalagi SARA.  Sementara dari kalimat “The preferred choice of President Joko Widodo, he was tipped to be a future national leader” dapat disimpulkan bahwa sang penulis kalimat menggunakan asumsi  pilihan presiden Jokowi demi menggiring keyakinan pembaca bahwa Basuki Tjahaja Purnama adalah pemimpin masa depan bangsa, negara dan rakyat Indonesia.

Tidak jelas apakah sang penulis berita berani memberitakan bahwa Basuki Tjahaja Purnama adalah pilihan presiden Jokowi berdasar wawancara langsung dengan presiden Jokowi atau sekedar asumsi wishfull thinking. Di alam demokrasi Orde Reformasi adalah sah mengharapkan setiap warga Indonesia untuk menjadi pemimpin negara, bangsa dan rakyat Indonesia namun seyogianya juga secara demokratis yaitu atas pilihan rakyat bukan pilihan presiden.

Akhirnya dari segenap kesimpulan dapat dimahfumi bahwa media asing bukan media Indonesia memang tidak mengenal mazhab jurnalisme tabayyun. [***]

Penulis adalah anggota dewan penasehat Serikat Media Siber Indonesia. 

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Manusia Nusantara dan Karakteristiknya

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:59

Diduga Terlibat Korupsi, Wali Kota Pematangsiantar Dilaporkan ke KPK

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:40

Telkom Bidik Peluang AI di Berbagai Sektor Industri Lewat Alcosystem

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:20

Bahlil: Bagi Golkar, Kosgoro ‘Seng Ada Lawan’

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:57

Film Pesta Babi Dianggap jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:33

Banyak Orang Cemas dengan Ekonomi Indonesia, Chatib Basri jadi Solusi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:15

Membongkar Jaringan Korupsi Terstruktur Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:55

Penangkapan 320 WNA Jaringan Judol jadi Kado Manis Hari Bhayangkara

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:30

Kasus Silmy Karim Harus jadi Momentum Reformasi Total Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:10

Purbaya Bantah Isu Mundur dari Menkeu: Saya Lebih Suka Maju!

Sabtu, 06 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya