Berita

Politik

Kegilaan Massal Ahoker

JUMAT, 21 APRIL 2017 | 22:16 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

ALAS, pasca pilgub usai, semua Ahoker sedang alami post defeated syndrome. Kasian. Mereka stress. Deritanya lebih parah dari Pre Menstrual Syndrome atau sindrom prahaid (PMS). Kalau kelamaan, mereka bisa kena Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Menurut Victoria Lemle Beckner, "Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) is one of the most difficult conditions for anyone to bear."

Saya tau, pastilah berat bagi Ahoker menerima fakta pilgub. Sakitnya tuh di sini. Nyesek. Malu. Mau ditaro di mana muka mereka. Duuuh, ngga bisa dibayangin rasanya.


Seperti penderita PTSD lain, Ahoker jadi gampang marah dan tiba-tiba punya problem kecemasan (anxiety). Mereka merasakan unexplained aches and pains (rasa sakit aneh). Mereka jadi sulit konsentrasi, gairah kerja turun, ketagihan bikin video absurd dan nyepam status galau. Ada Ahoker setengah bugil bikin video mengutuki warga DKI sambil hambur-hamburin duit receh. Keoknya Ahok memperburuk mental health issues mayoritas Ahokers.

Tak bisa dipungkiri, Ahoker menderita post defeated syndrome akut. Ada lima ciri khasnya.

Pertama: Anger atau Marah. Ahoker tersentak. Ngga percaya Ahok kalah telak. Ekspresinya adalah kalimat "How did we loose it". Hasil pilgub memang rada jaw dropping. Ahoker melongo, mulutnya mengangah. Mereka nyaris gila. Tak bisa menerima kenyataan.

Di hari kedua pasca kekalahan, Ahoker mengalami: Depression.

Mereka butuh aktifitas soul-searching. Ada yang saling berpelukan, sambil bercucuran air mata. Ada yang masuk kamar sambil teriak-teriak. Histeris. Ahoker tipe moaning moaner menangis di depan tv screen menonton hasil rekapitulasi data KPU. Suara Ahok Jarot semakin terjun bebas.

Silent type Ahoker akan diam-diam berdoa. Menghadap Tuhan dalam kamar gelap. Segelap hati mereka yang patah. Kasian.

Pesan saya, sebaiknya Ahoker menghindari diri dari mendengar celoteh Jamie Redknapp. Coz, dia akan membuat Ahoker lebih frustasi. He is telling you how shit your "timses" dari PDIP, Golkar, Nasdem berbaju kotak-kotak. Jangan dengarkan yo. He will only push you further down into your pit of depression.

Setelah dua tahap marah-marah dan depresi, para penderita post defeated syndrome akan masuk tahap selanjutnya. Tahap ketiga adalah HOPE, atau nyari-nyari pembenaran.

Benerkan? Mayoritas Ahoker merilis banyak alasan kekalahan Ahok. Sekenanya. Seenaknya. Ngasal. Ada yang saling tuding, cakar-cakaran di antara mereka sendiri. Ngakak. Pokoknya lucu deh liat tingkah Ahoker mental illness.

Alasan mereka seputar, Tuhan punya rencana lain. Bad luck, cheating opposition, Ahok mau dijadiin menteri dan lain-lain dan sebagainya. Banyak deh. Intinya, ngareeep.

Lalu, Stage Four: Bargaining. Ahoker, macam GM, menggunakan awalan kalimat "kalau saja, kalau saja". Misalnya, Kalau saja Anies ngga mainin isue SARA, Ahok bakal menang...bla, bla, bla. Padahal yang paling mainin SARA ya Ahoker. Di tahap ini, Ahoker seakan mulai bisa terima kenyataan. Walau masi tetep gagal move on. Karena closing statemennya masih bilang Ahok is still the best. GM bilang prestasi Ahok tak tertandingi.

NGAKAAAKKK...!!

Finally, Acceptance. Tahap terakhir mereka terima kenyataan, Ahok kalah dan tidak disukai banyak orang. Entah kapan. Ada yang cepat, ada yang lambat. Tergantung kadar kegilaan si Ahoker partikelir.

In friendly jest, semua Ahoker berada dalam kondisi mass lunatic (kegilaan massal). Terma "lunatic" berarti "an informal term referring to a person who is considered mentally ill, dangerous, foolish or unpredictable, conditions once attributed to lunacy."

Kita yang waras, sudah pasti mesti maklum. Celoteh mereka tidak perlu digubris dengan serius. Ngga usah dimasukin ke hati. Apa pun status, lontaran caci maki dan fitnah mereka, it won't change a thing. Ngga merubah fakta Anies Sandi menang telak. Ketawain mereka aja dengan ringan. Ngga perlu dimarahi. Kasian mereka. [***]

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya