Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Kolonialisme Reklamasi

JUMAT, 21 APRIL 2017 | 15:27 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

PULAU-pulau reklamasi, di tangan Ahok cs, dikabarkan diiklankan di Tiongkok. Asumsinya, pulau palsu itu akan dibeli chinese upper class. Mereka akan membentuk koloni di sana. WNI akan diserap menjadi pembantu.

Pribumi komprador akan bekerja sama dalam bisnis. Menjadi second player. Suplier raw material. Saya kira, proyeksi ini bukan impian Presiden Suharto.

Umumnya, kolonialisasi (penjajahan) menggunakan kekuatan senjata. Brutal Invasion. Sejak abad 15, Eropa lakukan itu. Indian, aborigin, afrikan jadi korban.


Ada beberapa jenis kolonialisasi. Settler colony, dependency, plantation dan trading post colony.

Australia adalah contoh settler colony, di mana terjadi pemindahan penduduk secara masif ke new zone. Akhirnya, new comers lebih banyak dari pribumi. Kolonialisasi gradual sukses. Aborigin jadi pariah di negeri sendiri. Ngga bisa apa-apa, diinjak rasial sovinisme bule dan common wealth.

Dependency colony diciptakan via tekanan senjata oleh colonizer yang mengendalikan pemerintahan lokal. India contohnya.

Budak-budak Afrika dikirim ke Jamaica ngebon di kebun-kebun pisang, tebu, kopi, nenas dan sebagainya. Semakin lama, secara bergenerasi, mereka membentuk sebuah koloni. Berasimilasi dengan local people dan slave owners. Jenis kolonialisasi ini disebut 'plantation colony.'

Tipe terakhir kolonialisasi adalah trading post seperti Singapura. Motif awal kolonialisasi ini adalah niaga. Lama-lama pribuminya jadi minoritas dan termarginalisasi. Etnik Chinese menguasai ekonomi, culture kemudian politik. Jadilah Singapura the other Chinese state.

Pulau reklamasi berfungsi sebagai Terra nullius (empty land). Koloni baru bisa dibangun di sana. Pa Harto mungkin tak mengira para taipan dan komprador kolaboratornya akan masuk proyek yang dia inisiasi.

Bila benar, pulau reklamasi akan diisi penduduk dari Tiongkok maka itu akan jadi ancaman geo strategis. Ratusan ribu colonizer tepat berada di depan istana. Kekuatan uang mereka mudah jangkau pusat politik negara.

Aparatus kekerasan negara bakal jadi centeng. Tionghoa WNI menjadi kolaborator mereka. Negara pasti jatuh ke tangan "the bamboo network."[***]

Penulis merupakan Aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KOMTAK)




Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya