Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Hentikan Angkara Murka Divide Et Empera!

SENIN, 17 APRIL 2017 | 07:50 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

KETIKA sanubari saya sedang gundah gulana merisaukan Ibu Pertiwi menangisi kemelut perpecahan sedang merundung Tanah Air Angkasa tercinta, adalah sahabat saya yang berwawasan pengetahuan luas, Baduraman Dorpi Parlindungan mengingatkan saya kepada sejarah kelicikan dan kedurjanaan kaum penjajah memecahbelah Nusantara di masa lalu.

Vereenigde Oostindische Compagnie yang berambisi menguasai Nusantara untuk dikuras habis sebagai sumber kesejahteraan Kerajaan Belanda, memang melihat kenyataan peta politik pada masa itu bahwa masyarakat Islam paling memiliki potensi mempersulit angkara murka penjajah dalam mewujudkan kehendak menguasai Nusantara.

Sejarah memang membuktikan bahwa perlawanan paling gigih terhadap angkara murka penjajah di Indonesia memang dilakukan oleh masyarakat Islam Nusantara di bawah pimpinan para tokoh seperti Sultan Agung, Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Tjut Nyak Dien, Laksamana Malahayati, para santri Jawa Timur.


Maka secara sistematis dan masif, penjajah Belanda konsisten dan konsekuen melakukan jurus angkara murka divide et empera alias memecahbelah demi menguasai seperti yang dilakukan Inggeris dan Amerika Serikat terhadap masyarakat Islam di kawasan Timur Tengah sampai ke masa kini.

Spanyol dan Amerika Serikat juga menghadapi perlawanan paling sengit dari masyarakat Islam di Filipina. Maka kaum penjajah juga secara intensif melakukan politik divide et empera terhadap umat Islam demi mampu menguasai Filipina.

Pendek kata kaum penjajah memang senantiasa meyakini kebenaran makna peribahasa "bersatu kita teguh bercerai kita runtuh" maka kaum penjajah selalu bersemangat menceraiberaikan masyarakat yang ingin mereka kuasai!

Rezim Orba melanjutkan politik  divide et empera warisan kaum penjajah demi mempertahankan kekuasaan yang sudah terlanjur mereka nikmati. Rezim Orba lupa kenyataan bahwa yang mereka pecah belah bukan kaum penjajah namun negara, bangsa dan rakyat mereka sendiri.

Maka demi kembali menghadapi masa kini dan masa depan, sebaiknya segenap pihak yang sedang asyik saling curiga, saling benci, saling lapor, saling fitnah dan saling mencelakakan sesama bangsa sendiri, berkenan menghentikan angkara murka divide et empera yang tanpa tersadari sedang mereka lakukan terhadap sesama warga negara dan bangsa sendiri.

Jangan lupa pada kenyataan bahwa kaum penjajah sebenarnya sudah berhasil (dengan susah payah) diusir ke luar dari persada Nusantara maka mereka yang kini kita curigai, benci, fitnah bahkan celakakan bukanlah kaum penjajah namun sesama warga bangsa dan negara Indonesia yang sudah berdaulat sejak 17 Agustus 1945.

Maka sebaiknya kita jangan mewarisi apalagi melestarikan jurus politik angkara murka divide et empera kaum penjajah. Jangan hanya akibat mabuk kekuasaan dan haus kekayaan lalu kita sampai tega hati tidak segan memecah-belah bangsa, negara dan rakyat kita sendiri.

Maka marilah kita berhenti memecah belah negara, bangsa dan rakyat kita sendiri demi bersatu terpadu dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika bukan sekedar sebagai slogan politik demi memusuhi sesama bangsa, negara dan rakyat sendiri namun sebagai bekal perjuangan bersama demi mencapai cita-cita terluhur bangsa Indonesia yaitu masyarakat aman, adil dan makmur. MERDEKA!. [***]

Penulis adalah penggagas Gerakan Kebanggaan Nasional

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Istana Minta Kritik terhadap BI Dijadikan Evaluasi Penguatan Komunikasi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:23

Kursi Dua Wamen Kosong, Pemerintah Belum Siapkan Pengganti

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:10

Mensesneg soal Kabar Said Iqbal Masuk Kabinet: Masih Didiskusikan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:59

Mubes V Kosgoro 1957 Digoyang Penolakan Daerah

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:52

AS Hantam Iran dengan Sanksi Baru, Jaringan Penyelundupan LPG Jadi Target

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:37

Istana Bantah Isu Menkeu dan Gubernur BI Bakal Dicopot

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:31

Prasetyo Hadi: Sinergi Pemerintah, DPR, dan BI Kunci Jaga Stabilitas Ekonomi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:20

Bank Indonesia Sudah Intervensi, Mengapa Rupiah Tetap Melemah?

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:08

Menkeu Purbaya Bantah Omzet Warteg Turun Jadi Bukti Daya Beli Lesu

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:47

Daftar Komoditas Dirilis, Danantara SDI Siap Kendalikan Rezim Baru Ekspor RI

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:21

Selengkapnya