Berita

Sri Mulyani Indrawati/Net

Politik

Prodem: Bila Jokowi Masih Butuh, Kirim Sri Mulyani ke Amerika atau Uni Eropa

MINGGU, 16 APRIL 2017 | 22:19 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Di bawah kendali Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, tim ekonomi Kabinet Kerja bukan saja tidak inovatif, tetapi juga terkesan lebih melindungi kelompok pengusaha dan meminggirkan kepentingan rakyat.

Program pengampunan pajak atau tax amnesty yang dipromosikan SMI juga gagal, hanya mampu mendaptkan Rp114 triliun dari target Rp165 triliun.

Demikian pandangan Sekjen Sekretaris Jenderal Jaringan Aktivis Prodem Satyo P dalam keterangan kepada redaksi.


“Kita seperti kembali ke masa lalu, melalui hari hari ketika dia pertama kali direkrut oleh SBY. Pada saat itu salah satu tugas SMI adalah memuluskan upaya klien besarnya yaitu BCA dan Paulus Tumewu mendapatkan pengampunan pajak dan meloloskan pengemplang pajak,” ujar Satya.

Dia juga mengatakan, mengutip pernyataan mantan Menko Perekonomian Kwik Kian Gie beberapa tahun, bahwa Sri Mulyani selalu membocorkan hasil rapat tim ekonomi kepada IMF, Bank Dunia, dan Kedutaan AS.

Satya juga menyoroti kebijakan pemangkasan APBN Rp 133,8 triliun, yang mencakup pemotongan belanja kementerian/lembaga Rp 65 triliun dan transfer ke daerah Rp 68,8 triliun.

“Pemotongan anggaran ini patut disinyalir untuk menyenangkan kartel internasional dengan retorika murahan untuk meraih kepercayaan publik dan membuat dunia usaha menjadi lebih yakin dalam melakukan aktivitas ekonomi,” masih kata Satya.

“Padahal ujung-ujungnya Rp 221 triliun dari APBN 2017 hanya untuk bayar utang!” sambung dia.

Dengan pertimban itu semua, menurut Satya, apabila Presiden Joko Widodo masih mau menggunakan SMI, sebaiknya dia diberi jabatan lain, yakni Dubes di Amerika Serikat atau di Uni Eropa.

Sebagai mantan Direktur Pelaksana World Bank dan juga mantan Direktur Eksekutif IMF serta mengantongi penghargaan dari lembaga keuangan asing, tentu jabatan itu lebih pas untuk SMI.

“Dia perlu diberi kesempatan melakukan negosiasi keuangan dan perdagangan bagi Republik Indonesia ketimbang menjadi Menteri yang selalu kontra produktif dan memperdalam jurang kemiskinan bagi rakyat Indonesia,” demikian Satya. [dem]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Sita Aset Rp22 Miliar Milik Anwar Sadad, Mulai Rumah hingga SPBE

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:42

UPDATE

Ketika Seekor Ayam Lebih Berharga dari Nyawa Seorang Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 00:21

Disoal Kader, Pergantian Pengurus AMPI Langgar Aturan Organisasi?

Senin, 27 Juli 2026 | 00:20

Inilah Skuad Timnas Indonesia di Piala AFF 2026

Senin, 27 Juli 2026 | 00:00

Program Pembangunan Prabowo Memperhatikan Aspek Keberlanjutan

Minggu, 26 Juli 2026 | 23:29

Gaza for Israel Jika Kita Tetap Diam

Minggu, 26 Juli 2026 | 23:20

‘API’ Jaringan Umat

Minggu, 26 Juli 2026 | 23:01

Pakar Hukum: Tersangka Korupsi Bisa Ditetapkan Meski Belum Diperiksa

Minggu, 26 Juli 2026 | 22:45

Kaesang Pilih Dapil Neraka Lawan Puan, Kejar Legitimasi atau Sensasi?

Minggu, 26 Juli 2026 | 22:37

Kapitra Ampera Labeli Febrie Adriansyah Maling Gede

Minggu, 26 Juli 2026 | 22:14

ICW Dapat Bocoran Timses Prabowo-Gibran Sodok Posisi Gantikan Ketua Ombudsman RI

Minggu, 26 Juli 2026 | 21:50

Selengkapnya