Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Saya Warga Indonesia, Titik

MINGGU, 16 APRIL 2017 | 07:25 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SEORANG sahabat saya (yang tidak perlu saya sebutkan namanya agar tidak menjadi sasaran bully-bully di tengah suasana politik paranoid menjelang Pilkada putara dua) memberitahu bahwa saya digolongkan ke golongan “Lima Tenglang Tidak Pilih Tenglang”.

Penggolongan itu merupakan kehormatan bagi diri saya sebab  saya digolongkan ke satu golongan bersama Lieus Sungkharisma, Yusuf Hamka, Hari Tanoesoedibyo dan Kwik Kian Gie yang saya hormati sebagai para tokoh nasionalis dengan semangat kerakyatan yang senantiasa berpihak ke wong cilik. Namun saya selalu merasa kurang sreg disebut Tenglang. Saya tidak merasa bahwa diri saya adalah Tenglang atau Tionghoa atau Cina atau apapun sebab orang tua saya terlanjur mendidik saya untuk meyakini bahwa diri saya adalah warga Indonesia lalu titik tanpa embel-embel predikat apapun.

Silakan hujat saya sebagai Kirno (Mungkir Cino) pengkhianat, munafik atau apapun juga namun apa boleh buat saya memang sudah terlanjur meyakini diri saya adalah seorang warga Indonesia titik. Mohon dimaafkan bahwa saya yang lahir-tumbuh-kembang di lahan kebudayaan Jawa lebih bisa menghayati ajaran kebudayaan Jawa seperti  ojo dumeh, rukun agawe santoso, ngono yo ngongo ning ojo ngono, jer basuki mawa beya, eling lan waspada dan tentu saja Pancasila ketimbang ajaran Khonghocu, Lao Tse atau Maozedong.


Sebagai warga Indonesia , saya pribadi memang lebih mengagumi Anoman ketimbang Sun Go Kong, Pangeran Diponegoro ketimbang Kwan Kong, Tjut Nyak Dien ketimbang Hua Mulan, Bung Karno ketimbang Sun Yat Sen , Bung Hatta ketimbang Chao En Lay, Soedirman ketimbang Yuan Shih Kay, Ronggowarsito ketimbang Qu Yuan, Taufik Ismail ketimbang Lu Hsun, Borobudur ketimbang Wanli Changcheng.

Dalam karya-karya musik saya juga menggunakan pentatonik slendro dan pelog Jawa bukan pentatonik China. Saya menulis naskah dan buku dalam bahasa Indonesia bukan Cina. Sukma saya lebih tergetar ketika mendengar Indonesia Raya ketimbang Zhōnghuá Míngúo. Saya juga kurang sreg terhadap “Tenglang Tidak Pilih Tenglang” yang terkesan  SARA karena saya yakin bahwa para tokoh nasionalis pro rakyat  seperti Lieus, Yusuf, Hary, Kwik, Yonan, Enggar, Marie, Tom, Tomy, Franky, Sugianto, Christianto, Anton, Hasan, Handaka dan lain-lain dalam memilih niscaya tidak memandang latar belakang SARA. Namun para beliau memang tidak akan memilih pemimpin yang sewenang-wenang dalam menatalaksana pembangunan infra struktur tega hati mengorbankan rakyat miskin dengan cara melanggar hukum, HAM, Pancasila serta Agenda Pembangunan Berkelanjutan yang telah disepakati oleh segenap anggota (termasuk Indonesia) Persatuan Bangsa Bangsa sebagai pedoman pembangunan planet bumi abad XXI tanpa mengorbankan alam dan manusia.

Siapapun yang berpihak ke rakyat niscaya akan memilih pemimpin yang bukan menyengsarakan namun menyejahterakan rakyat selaras dengan sila-sila kemanusiaan adil dan beradab serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia mau pun cita-cita terluhur bangsa Indonesia yaitu masyarakat adil dan makmur.[***]

Penulis adalah warga Indonesia, titik


Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Istana Minta Kritik terhadap BI Dijadikan Evaluasi Penguatan Komunikasi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:23

Kursi Dua Wamen Kosong, Pemerintah Belum Siapkan Pengganti

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:10

Mensesneg soal Kabar Said Iqbal Masuk Kabinet: Masih Didiskusikan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:59

Mubes V Kosgoro 1957 Digoyang Penolakan Daerah

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:52

AS Hantam Iran dengan Sanksi Baru, Jaringan Penyelundupan LPG Jadi Target

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:37

Istana Bantah Isu Menkeu dan Gubernur BI Bakal Dicopot

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:31

Prasetyo Hadi: Sinergi Pemerintah, DPR, dan BI Kunci Jaga Stabilitas Ekonomi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:20

Bank Indonesia Sudah Intervensi, Mengapa Rupiah Tetap Melemah?

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:08

Menkeu Purbaya Bantah Omzet Warteg Turun Jadi Bukti Daya Beli Lesu

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:47

Daftar Komoditas Dirilis, Danantara SDI Siap Kendalikan Rezim Baru Ekspor RI

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:21

Selengkapnya