Berita

Politik

Pertemuan Kertanegara

RABU, 12 APRIL 2017 | 17:30 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

SENIN malam 10 April 2017, hujan membasahi bumi. Sebelum azan magrib, air mata langit turun deras di sekitar Kemang. My doctor drove me to Jalan Kertanegara, rumah Jenderal Prabowo Subianto.

Tiga puluhan jurnalis ngumpul di bawah tenda. Gerimis masih enggan berhenti. Mobil-mobil di parkir berderet. Lieus Sungkharisma kena macet. Seorang laskar memayungi saya memasuki kediaman, tempat anak-anak Begawan Ekonomi Dr. Soemitro dibesarkan. Ibu Bianti, kakak 08, menikah di rumah ini.

Ada Nanik Deyang, dua orang biksu muda, Hazmi Srondol di ruang tunggu kecil. Di samping gerbang utama. Setyoko, kader muda Partai Gerindra, bolak-balik angkut logistik. Sekjen Ahmad Muzani melintas. Nia, asisten Mbak Neno Warisman, masuk via pintu samping. Saya jadi tau, Mbak Neno ternyata ada di ruang utama. Srondol bicara banyak seputar masalah batiniah, moksa, manunggaling kawula gusti dan kebiadaban buzzer-buzzer Ahok.


Selepas sholat Isya, Neno Warisman ngajak masuk. Ustad Zaitun Razmin menelepon. Dia juga kena macet. Mbak Neno bawa saya temui Pak Prabowo. Bincang-bincang sebentar.

Ruang utama ramai. Mbak Titiek tiba. Disambut Ibu Bianti. Saya duduk di samping Pa Kwik Kian Gie. Bu Fahira Idris bilang saya mirip dengan Pak Kwik. "Seperti kakak beradik," kata Bu Fahira.

Pak Kwik bilang pertemuan ini sangat plural. Dia benar. Yang hadir mirip mozaik Indonesia. Dari spektrum perempuan, ada Chusnul Mariyah, Lies Marcoes, Fahira Idris, Agnes Tan (PIRA) dan lain-lain. Di deret depan saya, ada Presiden PKS Sohibul Imam dan Ketua Umum Partai Perindo Harry Tanoe.

Paling tidak ada tiga jenderal, Yunus Yosfiah, Joko Santoso dan Glen. Aktifis Buruh Said Iqbal duduk nyantai di samping musisi Ahmad Dhani. Haji Rhoma Irama tampak di sela-sela meja para ustad. Di seberangnya, sederet dengan kelompok perempuan ada delegasi agama Budha.

Dari unsur pengusaha ada Hasyim Djojohadikusumo, Harry Tanoe, Erwin Aksa. Tiba-tiba, Ahmad Dhani minta saya duduk di samping. "Ini kelompok proletar," kata Said Iqbal ketawa.

Selain lintas ideologi dan pemikiran, pertemuan ini juga lintas generasi. Ada Pa Amien Rais, Din Samsudin, Hidayat Nurwahid, kader Golkar dan Perindo. Said Iqbal bilang saya paling muda.

Suasana akrab. Saling sapa. Selfie. Diskusi serius. Diiringi derai tawa. Tak ada ketegangan sedikit pun. Rasa persaudaraan tinggi. Mungkin karena semua yang hadir punya keprihatinan serupa terhadap situasi bernegara. Saat ini, ada sekelompok penguasa yang hendak mempertahankan kekuasaannya dengan menghalalkan segala cara.

Pak Prabowo bilang situasi politik sekarang lebih intens dibandingkan kondisi sebelum meletus Kerusuhan Mei 98. Amien Rais menyatakan negara dan bangsa sedang dalam kondisi berbahaya. Ada sekelompok orang menguasai ekonomi dan politik sekaligus. It is surely a way to tyrrany.

Saya kira, mantan Ketua MPR Amien Rais benar. Negara dalam bahaya ketika sekelompok taipan mencengkram. "Swastanisasi negara" pasti terjadi. Duit mereka bisa beli hukum, media dan alat kekerasan. Sebuah konglomerasi bisa sewa polisi dan tentara gusur pemukiman warga. Gubernur boneka berkilah gunakan hak diskresi (sebagai justifikasi). Dan warga dituding sebagai "penyabot tanah negara".

Peraih gelar doktor dari University of Sydney Australia Ibu Chusnul Mariyah mengatakan Pemilu 2014 adalah fabricated election. Kita ditipu oleh berbagai rekayasa pencitraan. Dia mengutip hasil riset Oxfam yang menyimpulkan empat orang terkaya di Indonesia memiliki harta lebih banyak dari sejuta orang WNI.

Haji Lulung pamit paling cepat. Tampaknya dia sibuk. Sebelum pulang, saya sempat diskusi dengan Mardhani Ali Sera. Dia bilang, timnya menemukan 160 ribu nama dalam DPT Jakarta yang jelas fiktif. Itu bisa diketahui dari NIK aneh.

Saya kira KPUD ngga bisa apa-apa. DPT berasal dari Dukcapil. Ini salah satu modus kecurangan yang dilakukan oleh kelompok powerful. [***]

Penulis adalah aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtak).


Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Lazismu Kupas Fikih Dam Haji: Daging Jangan Menumpuk di Satu Titik

Jumat, 15 Mei 2026 | 02:12

Telkom Gandeng ZTE Perkuat Pengembangan Infrastruktur Digital

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:51

Menerima Dubes Swedia

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:34

DPD Minta Pergub JKA Dikaji Ulang dan Kedepankan Musyawarah di Aceh

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:17

Benarkah Negeri ini Dirusak Pak Amien?

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:42

Pendidikan Tinggi sebagai Arena Mobilitas Vertikal Simbolik

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:37

KNMP Diharapkan Mampu Wujudkan Hilirisasi Perikanan

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:22

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

Pembangunan SR Masuk Fase Darurat, Ditarget Rampung Juni 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 23:33

Harga Minyakita Masih Tinggi, Pengangkatan Wamenko Pangan Dinilai Percuma

Kamis, 14 Mei 2026 | 23:18

Selengkapnya