Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

OPINI JAYA SUPRANA

Sambung Menyambung Menjadi Satu, Itulah Indonesia!

SABTU, 01 APRIL 2017 | 06:49 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SEJAK dahulu kala, sukma Nusantara senantiasa "Bhinneka" yang tampil jelas pada kenyataan keanekaragaman kerajaan, agama, suku, ras, kebudayaan, hayati serta alam. Dapat dikatakan bahwa Nusantara merupakan kawasan paling mahakayaraya keragaman di planet bumi ini.

Kebutuhan atas "Tunggal Ika" baru mulai hadir di persada Nusantara mulai tahun 1928 melalui SUMPAH PEMUDA yang untuk pertama kali secara eksplisit menggelorakan semangat SATU NUSA, SATU BANGSA, SATU BAHASA.

Sebenarnya tidak ada dikotomi pada Bhinneka Tunggal Ika yang serta merta berarti tidak ada masalah perpecahan pada bangsa Indonesia sebab sosok Nusantara sejak dahulu kala memang bukan kesatuan namun kebhinekaan.


Setelah Republik Indonesia diproklamirkan kedaulatannya baru kebutuhan atas persatuan dan kesatuan tampil sebagai satu di antara lima sila Pancasila yang disepakati sebagai landasan falsafah negara Indonesia berbingkaikan Bhinneka Tunggal Ika.

Yang terjadi pada Republik Indonesia adalah proses pemersatuan alias penunggal-ikaan dari das Sein yaitu Bhinneka dengan sasaran das Sollen yaitu Tunggal Ika.

Saya tidak setuju politisasi kekuatiran bahwa ke-Bhinnekaan-Tunggal-Ikaan sedang terancam perpecahan. Pada kenyataan yang sebenarnya terjadi adalah sekedar suatu dinamika penunggal-ikaan kebhinekaan sebagai proses perjuangan dari das Sein Bhinneka untuk melebur menjadi satu pada das Sollen Tunggal Ika pada sosok NKRI.

Kesan perpecahan pada hakikatnya sekedar merupakan suatu gejala psiko-sosial sesaat pada konteks sempit yang dimanfaatkan sebagai genderang politik paranoid mengandung resiko selfulfilling prophecy alias ramalan yang membenarkan kenyataan. Sesuatu yang sebenarnya begini apabila terus menerus dianggap begitu maka lama kelamaan yang semula begini itu malah benar-benar bisa menjadi begitu.

Sebaiknya politik paranoid yang meyakini ancaman terhadap Bhinneka Tunggal Ika jangan malah dibenarkan sambil dibesar-besakan agar jangan sampai sang ancaman yang sebenarnya tidak ada malah menjadi ada.

Yang penting perbedaan pendapat wajib dikendalikan agar jangan sampai lepas kendali menjadi kebencian yang apabila terus memuncak akan meledak menjadi kekerasaan! Perbedaan kekuatan antara yang kuat dengan yang lemah jangan disalahgunakan oleh yang kuat untuk menindas yang lemah! Perbedaan kekuasaan antara penguasa dengan rakyat jangan disalahgunakan penguasa untuk menguasai rakyat! Perbedaan bukan ancaman namun malah energi analog hukum fisika bahwa perbedaan antara kutub plus dan minus justru merupakan sumber energi elektrikal.

Maka perbedaan opini, tafsir, mazhab, ideologi, agama, budaya apalagi di alam demokrasi pasca reformasi justru merupakan sukma Bhinneka yang justru jangan sampai dipaksakan untuk menjadi seragam, uniform, tunggal, sama sebangun seperti yang secara sadar mau pun tidak sadar dipaksakan oleh rezim Orde Baru yang syukur alhamdullilah sudah diambil alih oleh Orde Reformasi.

Bhinneka justru merupakan roh Nusantara yang setelah proklamasi kemerdekaan Repubik Indonesia menjadi satu saling melekat bahkan melebur menjadi satu dengan Tunggal-Ika di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka jangan Bhinneka dipecah-belah, dipisahkan dari Tunggal Ika.

Semangat Bhinneka Tunggal Ika tersurat dan tersirat pada syair lagu ciptaan W.R. Soepratman: Dari Barat Sampai Ke Timur, Berjajar Pulau Pulau, Sambung Menyambung Menjadi Satu, Itu Lah Indonesia, Indonesia Tanah Airku, Aku Berjanji Padamu, Menjunjung Tanah Airku, Tanah Airku Indonesia. [***]

Penulis adalah pembelajar makna Bhinneka Tunggal Ika

Populer

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

UPDATE

RI Tak Boleh Tunduk atas Bea Masuk 104,38 Persen Produk Surya oleh AS

Jumat, 27 Februari 2026 | 10:16

DPR: Penagihan Pajak Tanpa Dasar Hukum yang Jelas Namanya Perampokan

Jumat, 27 Februari 2026 | 10:09

Suara Rakyat Terancam Hilang Jika PT Dinaikkan

Jumat, 27 Februari 2026 | 10:09

Bursa Cabut Status Pemantauan Khusus 14 Saham, Resmi Keluar dari Mekanisme FCA

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:57

IHSG Dibuka ke Zona Merah, Anjlok ke Level Terendah 8.093 Pagi Ini

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:41

Komisi III DPR Ingatkan Aparat Tak Main Hukum Terhadap ABK Fandi

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:38

Perjanjian Dagang RI-AS Perkuat Hilirisasi

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:36

Laba Bersih Astra International Turun 3,3 Persen di 2025, Jadi Rp32,77 Triliun

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:31

185 Lapangan Padel Belum Berizin, Pemprov DKI Segera Bertindak

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:16

Bursa Asia Melempem Jelang Akhir Pekan

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:06

Selengkapnya