Megawati Soekarnoputri/Net
Entah serius atau bercanda, kemarin, Megawati Soekarnoputri mulai bicara soal pensiun sebagai ketum PDIP. Kalau benar Mega lengser keprabon, lantas siapa yang akan menggantikan? Nama yang pas cuma ada dua: Puan Maharani atau Prananda Prabowo. Pertanyaannya, apakan dua anak Mega ini siap diberi tanggung jawab memimpin Banteng. Lantas, siapa yang paling berpeluang?
Ucapan mau pensiun ini diutarakan Mega saat memberi sambutan acara HUT ke-17 Banteng Muda Indonesia di Menteng, Jakarta Pusat. Putri presiden Soekarno ini bilang, rencananya itu sudah ada sejak setahun yang lalu. Namun, lanjut Mega, keinginannya selalu gagal.
Soalnya di tiap Kongres PDIP, ia selalu dipilih secara aklamasi untuk kembali memimpin partai. "Saya berkata pada diri saya, mereka (kader) itu kok nggak kapok-kapok (milih saya). Saya sebetulnya sudah dari tahun lalu sudah mau pensiun," kata Mega.
Mega bilang, tak mudah menjadi ketua umum parpol. Apalagi perempuan seperti dirinya. "Yang saya kadang-kadang pikir, republik ini kok setelah ditinggal Bung Karno jadi begini ya," ujar dia. Kendati begitu, dia mengaku harus terus mengemban tanggung jawab partai politik sampai jabatan selesai. Sebab, para kader telah memilihnya memimpin partai berlambang banteng ini.
Bukan sekali ini saja, Mega mengungkapkan rencanan pensiun. Di acara perayaan ultahnya yang ke-70 di Teater Taman Ismail Marzuki (TIM), 23 Januari lalu, Mega juga sempat mengungkapkan hal yang sama. Tapi entah kapan waktunya. Yang jelas, sambil berkelakar Mega mengatakan, jika pensiun ia ingin menjajal kemampuannya sebagai produser.
Maklum saja, acara perayaan yang digabung dengan pagelaran Teater Kebangsaan Tripikala, Tertawa bersama Mega, disesaki penonton. "Percobaan pertama saja sudah begini penuh, banyak yang minta diundang," kata Mega saat itu.
Jika Mega pensiun, siapa penggantinya? Ketua DPP PDIP Hendrawan bercerita, Megawati adalah politisi paling senior. Tentu saja melihat kiprah, perangai dan kemampuan setiap kader. Dalam AD/ART disebutkan bahwa siapa ketua umum selanjutnya diusulkan oleh Ibu Mega. Namun Hendrawan berpandangan siapa pengganti Megawati harus keturunan dari keluarga Soekarno. "Karena trah Bung Karno ini yang menjadi pemersatu dan perekat," ujarnya.
Putra dan putri Megawati saat ini adalah Prananda Prabowo dan Puan Maharani. Lalu siapa yang akan menggantikan Mega? Hendrawan bilang hak itu sepenuhnya adalah hak prerogatif Ibu Mega. "Kami kader tidak mau diadu-adu atau dibuat kubu-kubuan," ujarnya.
Pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio mengatakan, alasan Mega memasukkan kedua anaknya sebagai pengurus PDIP tak lain adalah untuk melanjutkan dinastinya di PDIP. Puan menjabat sebagai Ketua DPP bidang Politik dan Keamanan dan kemudian nonaktif karena menjadi menteri. Sementara Prananda ditunjuk menjadi Ketua DPP bidang Ekonomi Kreatif.
Siapa yang akan menggantikan Mega, Hendri bilang sulit menganalisanya. "Karena itu tadi, ini adalah hak Mega," kata Hendri, kemarin. Soal bagaimana peta kekuatan Puan dan Prananda di PDIP, kata Hendri, juga masih sulit dibaca.
Pengamat politik senior UI Arby Sanit mengatakan, kalau Mega ingin pensiun, ia harus mempersiapkan dahulu penggantinya. Tak bisa tiba-tiba pensiun. Soalnya partai bisa oleng. Siapa penggantinya? Arby mengatakan sampai sekarang belum ada sosok yang bisa menyamai kehebatan Mega atau mendekat untuk memimpin partai.
"Karena itu jika Mega mau pensiun, paling tidak harus mempersiapkan proses regenerasi ini dalam 5-10 tahun ke depan. Karena itu persiapannya harus mulai dari sekarang," kata Arby, saat dikontak
Rakyat Merdeka, tadi malam.
PDIP sangat sulit mencetak pemimpin baru karena, pusat kepemimpinan hanya ada di Megawati. Begitu personal dan dengan gaya yang kharismatik. Kata Arby, bisa saja Mega menunjuk putrinya Puan Maharani sebagai pengganti. Tapi tetap saja harus ada persiapan yang matang. Karena ini menyangkut jaringan manusia berkuasa dalam partai.
Jika tidak dipersiapkan dengan baik, partai akan guncang. Ibaratnya seperti anak ayam kehilangan induk. "Jika tidak akan berantakan partai yang didirikan dan dibangunnya itu," ujarnya.
Senada disampaikan pakar politik dari Universitas Parahyangan Bandung Prof Asep Warlan Yusuf. Dia bilang, ada dua alasan kenapa Mega masih mau jadi ketum partai. Pertama belum ada regenerasi kepemimpinan. Kedua, Mega masih tidak percaya orang lain untuk memimpin PDIP.
Jika kondisi ini terus menerus, Asep memprediksi Mega akan menjadi ketua umum PDIP seumur hidup. "Tampaknya tak akan ada yang bisa menggantikan Mega," tutupnya. ***