Berita

Foto: RMOL

Politik

Korea Utara Pantas Kecewa pada Manuver Malaysia

JUMAT, 31 MARET 2017 | 00:57 WIB | LAPORAN:

Pemerintah Republik Rakyat Demokratik Korea atau Korea Utara dinilai pantas kecewa pada Malaysia yang tidak melibatkan Korea Utara dalam penyelidikan sebab kematian warganegara Korea Utara di KLIA pertengahan Februari lalu.

Bahkan, ada kesan Malaysia lebih mempercayai informasi dari pihak lain. Hal ini sudah barang tentu dianggap Korea Utara sebagai tindakan yang tidak bersahabat, dan memicu kecurigaan bahwa Malaysia ikut permainan pihak lain untuk menekan Korea Utara.

Demikian disampaikan Sekjen Himpunan Persahabatan Indonesia-Korea Utara, Teguh Santosa, dalam Urun Rembug Kelirumologi bertajuk “Sengkarut Korut” di Balairung Jaya Suprana Institute, Kelapa Gading, Jakarta, Kamis malam (30/3).


"Inilah sebabnya mengapa pihak Korea Utara curiga Malaysia ikut memanipulasi informasi mengenai kejadian itu. Konsekuensi dari tuduhan Korea Utara ini pun cukup serius, Dubes Korea Utara untuk Malaysia dikenakan status persona non grata," ujar Teguh.

Urun Rembug Kelirumologi ini dipandu langsung oleh budayawan Jaya Suprana.

Menurut Teguh yang juga mengajar di FISIP Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, status persona non grata yang diberikan Malaysia untuk Dubes Korea Utara dapat dipahami. Demikian juga dengan status persona non grata yang diberikan Korea Utara untuk Dubes Malaysia sebagai balasan.

"Aksi saling usir Dubes ini adalah hal yang wajar dalam hubungan antarnegara," ujar Teguh lagi.

Teguh mengatakan, keengganan Malaysia melibatkan Korea Utara untuk menyelidiki sebab-sebab kematian warganegara Korea Utara perlu dikritik oleh komunitas internasional. Kalau dibiarkan, ini akan menjadi norma baru dan preseden buruk dalam praktik hubungan internasional.

Bayangkan, bila ada warganegara Indonesia yang meninggalkan dunia di negara lain yang kurang bersahabat dengan Indonesia. Lalu, pihak Indonesia tidak dilibatkan dalam proses penyelidikan. Alih-alih, negara tempat kejadian perkara malah mengeluarkan cerita versi mereka yang bisa menyudutkan Indonesia.

“Saya rasa apa yang dilakukan Malaysia terhadap Korea Utara ini menarik untuk dikaji lebih jauh. Jangan sampai ini menjadi norma baru yang bisa terjadi di masa depan di negara manapun,” demikian Teguh. [wah]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

Mengapa 2026 adalah Momentum Transformasi, Bukan Resesi?

Senin, 13 April 2026 | 00:01

Armada Pertamina Terus Distribusikan Energi di Tengah Tantangan Global

Minggu, 12 April 2026 | 23:40

KSAL Sidak Kesiapan Tempur Markas Petarung Marinir

Minggu, 12 April 2026 | 23:11

OTT: Prestasi Penegakan Hukum atau Alarm Kegagalan Sistem

Minggu, 12 April 2026 | 22:46

Modus Baru Pemerasan Bupati Tulungagung: Dikunci Sejak Awal

Minggu, 12 April 2026 | 22:22

Ketum Perbakin Jakarta: Brimob X-Treme 2026 Ajang Pembibitan Atlet Nasional

Minggu, 12 April 2026 | 22:11

Isu Kudeta Prabowo Dinilai Bagian Konsolidasi Politik

Minggu, 12 April 2026 | 21:47

KPK Duga Adik Bupati Tulungagung Tahu Praktik Pemerasan

Minggu, 12 April 2026 | 21:28

Brimob X-Treme 2026: Dari Depok untuk Panggung Menembak Dunia

Minggu, 12 April 2026 | 21:08

Polisi London Tangkap 523 Demonstran Pro-Palestina

Minggu, 12 April 2026 | 20:06

Selengkapnya