Berita

Rizieq Syihab/Net

Politik

Wassalam Bib....?

Habib Rizieq Tak Ikut Aksi 313
RABU, 29 MARET 2017 | 09:28 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Jumat lusa, sejumlah ormas Islam akan kembali turun ke jalan menuntut penahanan Ahok yang sudah menjadi terdakwa kasus dugaan penodaan agama Islam. Hanya saja dalam aksi bertajuk Bela Islam 313 ini, Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab tidak akan hadir. Padahal, dia adalah motor tiga aksi sebelumnya, yaitu 411, 212 jilid pertama dan 212 jilid kedua. Ada apa Bib? Wassalam Bib…?
 
Tanda-tanda Rizieq tak akan turun demo Ahok lagi sebenarnya sudah mulai terbaca saat aksi 212 jilid dua di Gedung DPR. Saat itu, Rizieq dengan tegas menyatakan tidak perlu lagi ada demo-demo besar. "Setelah aksi 212 jilid kedua ini, saya minta umat Islam tidak lagi menggelar demo besar-besaran. Kita kedepankan upaya dialog dan musyawarah," ujar Rizieq yang bicara dari atas mobil komando di depan Gedung DPR/MPR, 21 Februari 2017.

Rizieq dan para komandan aksi yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI, seperti Bachtiar Natsir dan Munarman, sekarang ini sedang terlilit kasus dan harus bolak-balik ke Polisi. Rizieq diusut kasus penodaan Pancasila di Polda Jawa Barat, Rizieq juga digoyang kasus chat bernada porno dengan tersangka kasus makar, Firza Husein. Sedangkan Bachtiar Nasir diusut kasus penggunaan dana yayasan, dan Munarman yang Jubir FPI sedang berurusan di Polda Bali.


Apakah karena sedang berurusan dengan kasus ini sehingga Rizieq tak ikut "memanaskan" aksi 313? Entah lah. Yang pasti, ada tidak adanya Rizieq, aksi 313 tetap akan digelar. Persiapannya sudah matang, bahkan pendukungnya tak hanya ada di dalam negeri, di luar negeri aksi ini sudah menggema. Beberapa penduduk Indonesia sudah membentangkan spanduk dan foto-foto dukungan terhadap aksi ini.

Motor aksi 313 ini adalah Forum Umat Islam (FUI). Woro-woro aksi ini sudah disebar oleh Sekjen Forum FUI Al Khathathath lewat video yang diuggah di Youtube, kemarin.

Dalam video itu, Khathathath menyeru kepada seluruh umat Islam turun ke jalan. Dia menyebut tuntutan aksi ini masih sama dengan aksi 212.

"Aksi ini menuntut kepada presiden agar mencopot Ahok dari jabatannya sebagai gubernur, sebagaimana ketentuan dalam undang-undang," kata Khathath. Undang-undang yang dimaksud adalah UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam Pasal 83 disebutkan kepala daerah yang sudah menyandang status terdakwa harus diberhentikan sementara.

Dia menjelaskan, aksi akan dimulai dengan shalat Jumat di Masjid Istiqlal dilanjutkan dengan dzikir dan tausiah sebelum berjalan kaki menuju ke depan Istana Merdeka. Dia juga meminta para peserta aksi menggunakan pakaian serba putih atau mengenakan seragam ormas. "Bawa bendera ormas masing-masing. Kalau nggak punya bawa bendera tauhid kita. Ayo bersama-sama kita ke Jakarta," ajaknya.

Menurut Khathath, aksi akan diikuti 50-100 ribu orang. Dia mengaku sudah berkomunikasi dengan sejumlah ormas.

Kuasa hukum GNPF MUI yang juga kuasa hukum Rizieq, Patria Ampera sudah tahu gelaran aksi tersebut. Hanya saja, dia belum tahu apakah Rizieq akan ikut turun dalam aksi tersebut. "Saya belum sempat menanyakan langsung," kata Patria, saat dikontak.

Ditanya kenapa Rizieq belakangan ini jarang muncul dalam aksi-aksi serupa? Patria tak tahu alasan pastinya. "Yang jelas bukan lantaran kasus yang menjeratnya," ucapnya.

Juru Bicara FPI Slamet Maarif menjelaskan, secara organisasi pihaknya tidak ikut dalam aksi tersebut. Begitu juga Rizieq. Dia memastikan pemimpin FPI itu tak akan bergabung dengan rangkaian aksi, baik dalam shalat Jumat maupun saat berorasi di depan Istana. "Aksi ini digagas oleh FUI. Tapi kami tidak melarang setiap warga negara siapa pun ikut dalam aksi tersebut," kata Slamet saat dikontak, kemarin. Menurut dia, meski tak bergabung turun ke jalan, FPI senantiasa mendukung Aksi 313. Dia juga berharap aksi berjalan damai.

Polda Metro Jaya belum menerima surat pemberitahuan rencana aksi 313. Meski begitu, Direktur Intelijen dan Keamanan Polda Metro Jaya Kombes Merdisyam mengaku pihaknya sudah mengetahui rencana tersebut dari media sosial dan bersiap-siap melakukan antisipasi. Termasuk berapa jumlah orang yang hadir dalam aksi tersebut. "Sedang kami data," kata Merdisyam.

Akankah tuntutan massa untuk keempat kalinya ini terkabulkan? Pengamat politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio pesimit. Kata dia, sangat kecil kemungkinan aksi menuntut pemberhentian Ahok ini didengar Presiden Jokowi. Kata dia, Jokowi sepertinya tidak akan menggubris tuntutan tersebut. "Undang-undang saja yang sudah jelas perintahnya untuk menonaktifkan gubernur terdakwa tidak didengar, apalagi ini tuntutan dari aksi yang sangat kental aroma politisnya," kata Hendri saat dikontak Rakyat Merdeka, tadi malam.

Selain itu, lanjut Hendri, tokoh-tokoh aksi 212 perlahan-lahan mundur atau tidak menampakkan diri lagi. Seperti halnya Rizieq Syihab dan Bachtiar Nasir. Kenapa Rizieq tidak segencar dan tidak selantang dulu? Menurut Hendri, saat ini posisi Rizieq sudah tidak sebebas dulu. "Dia harus menghadapi berbagai perkara hukum yang pastinya menyita waktu dan tenaga," ungkapnya.

Publik pun akhirnya membaca bahwa kasus-kasus yang menjerat Rizieq Cs untuk meredam suara mereka. Ada beberapa perkara hukum yang membelit Rizieq yang satu di antaranya sudah berstatus sebagai tersangka. Yaitu kasus penodaan Pancasila dan pencemaran nama baik terhadap orang yang sudah meninggal. Sementara kasus lain adalah gugatan seorang anggota hansip terkait pernyataan Rizieq yang menyebut "jenderal berotak hansip". Pernyataan itu ditujukan kepada Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan dalam silang pendapat ihwal logo "palu arit" di uang kertas yang baru.

Rizieq juga dilaporkan karena dianggap melakukan fitnah yang meresahkan masyarakat dan tidak dapat dipertanggungjawabkan mengenai logo yang mirip palu arit di uang kertas yang baru. Perkara yang teranyar adalah kasus dugaan penyerobotan tanah seluas 8,4 hektar di dekat kediaman Rizieq, Megamendung, Bogor, Jawa Barat. ***

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

Mengapa 2026 adalah Momentum Transformasi, Bukan Resesi?

Senin, 13 April 2026 | 00:01

Armada Pertamina Terus Distribusikan Energi di Tengah Tantangan Global

Minggu, 12 April 2026 | 23:40

KSAL Sidak Kesiapan Tempur Markas Petarung Marinir

Minggu, 12 April 2026 | 23:11

OTT: Prestasi Penegakan Hukum atau Alarm Kegagalan Sistem

Minggu, 12 April 2026 | 22:46

Modus Baru Pemerasan Bupati Tulungagung: Dikunci Sejak Awal

Minggu, 12 April 2026 | 22:22

Ketum Perbakin Jakarta: Brimob X-Treme 2026 Ajang Pembibitan Atlet Nasional

Minggu, 12 April 2026 | 22:11

Isu Kudeta Prabowo Dinilai Bagian Konsolidasi Politik

Minggu, 12 April 2026 | 21:47

KPK Duga Adik Bupati Tulungagung Tahu Praktik Pemerasan

Minggu, 12 April 2026 | 21:28

Brimob X-Treme 2026: Dari Depok untuk Panggung Menembak Dunia

Minggu, 12 April 2026 | 21:08

Polisi London Tangkap 523 Demonstran Pro-Palestina

Minggu, 12 April 2026 | 20:06

Selengkapnya