Fenomena Pilkada DKI Jakarta yang sangat panas hingga terseret ke ranah agama ternyata membawa pengaruh bagi anak-anak.
Konflik politik Pilkada DKI yang kerap intoleran mengakibatkan anak-anak kerap mengkafirkan sesamanya.
"Kalau dibiarkan kondisi itu berbahaya bagi tumbuh kembang anak karena telah tertanam benih-benih intoleran dan sikap kebencian sejak dini terhadap sesama warga yang berbeda pilihan, apalagi hal itu terjadi pada anak usia SD," terang Ilma Sovri Yanti Ilyas dari Satgas Perlindungan Anak di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa, (28/3).
Ia pun mengimbau kepada orang tua, guru masyarakat untuk tidak melibatkan anak dalam konflik politik Pilkada atau di manapun.
"Orang tua, guru dan masyarakat mengajarkan dan membimbing kembali anak-anak yang terpapar dampak negatif dari Pilkada dengan menanamkan kembali nilai-nilai toleran, saling menghormati dan menghargai serta menjaga kebersamaan terhadap sesama warga negara Indonesia," pintanya.
Begitu pula penyelenggara pendidikan, khususnya kepala daerah dan dinas pendidikan agar menegur guru-guru yang melibatkan anak-anak dalam politik praktis atau mengajarkan sikap-sikap intoleran. KPUD juga menurut dia, harus menjatuhkan sanksi kepada parpol yang melibatkan anak dalam aktivitas politik.
[wid]