Berita

Siti Nurbaya/Net

Jaya Suprana

ARTIKEL JAYA SUPRANA

KLHS Pabrik Semen Kendeng

SELASA, 28 MARET 2017 | 07:48 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

RMOL memberitakan sebuah wawancara dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar dengan ringkasan sebagai berikut:

RMOL: Hingga kini sudah sampai mana Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) pabrik Semen di Kendeng?  

Menteri LHK: Ada masalah Di dalam Undang-Undang 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup itu dijelaskan bahwa apabila ada beberapa persoalan, satu terjadi kerusakan lingkungan, kedua ada pencemaran, ketiga ada keresahan sosial maka menteri harus turun, mendalami dan mengambil langkah-langkah.  


Justru kata-kata KLHS itu muncul dari masyarakat . Oleh karena itu, Presiden bilang untuk membereskan KLHS-nya. Nah sekarang itu lagi kita beresin.


RMOL: Saat ini sejauh mana?  

Menteri LHK: Sekarang KLHS yang dibikin oleh ahli-ahli di supervisi oleh KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) dan KSP (Kantor Staf Kepresidenan) .

Para ahlinya sedang menyusun sejak hari Senin dan ini akan diterusin sampai empat hari. Dalam diskusinya para ahli sudah menemukan indikasi-indikasi bahwa dilihat dari uji Q-max dan Q-min. Q itu artinya debit, debit maksimun dan debit minimun.

Sama saja seperti tanaman punya titik toleransi terhadap suhu terendah dan suhu tertinggi. Suhu terendah itu kalau iklim Indonesia itu muncul di jam 2-3 pagi. Kalau suhu tertinggi kalau di kita itu jam 11, bukan jam 2. Artinya bumi lagi menyerap sekuat-kuatnya energi dari matahari dan pada jam 2-3 pagi, bumi lagi benar-benar memancarkan energinya. Makanya dingin. Air juga begitu, ada Q-maksimum dan Q-minimum.

Nah pohonan ada derajat tertentu pada rentang ini. Kalau dia berubah, mati pohonnya. Sama ini di sungai juga begitu. Kalau berubah Q-max dan Q-min, mati. Kan air itu menetes dari karst itu, kan kalau kartsnya terganggu, daya tetesnya itu berkurang. Sehingga Q nya itu jadi rusak. Itu sebetulnnya teori- teori yang mereka bangun dan mereka pelajari.


RMOL: Indikasi apa lagi yang ditemukan mengalami kerusakan?  

Menteri LHK : Tim itu juga sudah pernah menguji dengan menaruh garam di ujung sini, di ujung sana tiba-tiba terasa asinnya. Berarti ada aliran di situ. Kemudian indikasi lainnya adalah kelelawar, jadi kelelawar ini ada nggak, kelelawar yang ini ada nggak, kelelawar jenis itu ada nggak, nah kalau semakin berkurang berarti river kita terganggu. Sebab kelelawar itu kan binatang penyerbu.  

RMOL: Selain dari para ahli-ahli tersebut, data lain dari mana?


Menteri LHK: Indikasi-indikasi itu ada, makanya dengan indikasi yang ada, nanti ditambah lagi dengan data dan informasi yang ada. Apakah dari (Kementerian) ESDM nanti kalau misalnya Semen Indonesia mau menyerahkan datanya yang katanya ada, saya rasa bagus sekali.

RMOL: Ibu sudah minta data dari Semen Indonesia?

Menteri LHK: Kita sudah minta datanya, tapi tidak pernah dapat dari pmprov Jateng. Itulah sebabnya saya minta ke Pak Jonan. Tim bekerja keras empat hari ini dan KLHS nya akan diselesaikan pada bulan Maret ini , untuk yang cadangan air tanah waduk putih. Untuk seluruh pegunungan Kendengnya, itu nanti.

Wawancara RMOL dengan Menteri LHK membawa harapan bagi penyelesaian kemelut polemik pabrik semen di kawasan pegunungan kapur Kendeng. Insya Allah, keputusan Presiden Jokowi berdasar KLHS KLHK dan KSP akan berpihak kepada perjuangan para petani Kendeng membela Ibu Bumi. [***]

Penulis adalah pendiri Pusat Studi Kelirumologi dan Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Iran Tak Terima Dituding Langgar Gencatan Senjata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 10:21

Riak Penolakan Jokowi di Lampung, Baliho Sambutan Raib

Sabtu, 27 Juni 2026 | 10:01

Ramai di Medsos, Purbaya Respons Pajak Pencairan JHT BPJS Ketenagakerjaan

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:59

Ajukan Kasasi, Kerry Riza Anggap Putusan PT DKI Janggal

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:46

Harga Minyak Anjlok ke Level 71 Dolar AS

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:39

bank bjb Perluas Kolaborasi dengan Whuush Ojol, Kadin Jabar dan MUJ

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:38

AS Serang Target Militer Iran, Balas Serangan Drone terhadap Kapal Kargo di Selat Hormuz

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:21

Emas Antam Naik Usai Mandek Dua Hari Beruntun

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:09

Trump Sebut Iran Lakukan Pelanggaran Bodoh Terkait Pelanggaran Gencatan Senjata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:51

Emas Rebound 1,3 Persen usai Data Inflasi AS

Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:33

Selengkapnya