Berita

Rizal Ramli/net

Bisnis

Kepretan Pertama Rizal Ramli Terbukti Benar

KAMIS, 23 MARET 2017 | 20:47 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Apa yang ditanam, itu yang akan dituai. Jika menanam inefisensi, maka yang dituai adalah kerugian. Nasihat bijak itu sudah banyak terbukti dalam kiprah perusahaan-perusahaan baik besar maupun kecil.  

Hari ini, tersiar berita kurang sedap tentang maskapai pelat merah, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Mengutip informasi Bursa Efek Indonesia, laba bersih GIAA sepanjang 2016 tercatat 8,06 juta dolar AS atau setara Rp 104,78 miliar dengan kurs Rp 13.000. Berarti, laba bersihnya merosot 89,41 persen‎ dibandingkan pencapaian sepanjang 2015 yang senilai 76,48 juta dolar AS.

Pendapatan perseroan yang dikabarkan meningkat 1,3 persen tidak bisa menutup beban perseroan yang melonjak ke 3,79 miliar dolar AS dari semulanya 3,73 miliar dolar AS pada sepanjang 2015.


Tak salah publik bertanya-tanya, pemborosan apa yang sudah diperbuat sang garuda? Soal itu, yang paling mudah diiingat adalah potensi pemborosan Garuda dari rencana pembelian 30 unit Airbus A350.

Rencana pembelian itu menjadi ramai karena ada satu orang yang bersuara lantang menentangnya. Namanya Rizal Ramli. Kritiknya terhadap pembelian 30 unit pesawat badan lebar itu ia lontarkan satu hari setelah dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Menko Maritim dan Sumber Daya.

Isu inefisiensi Garuda menjadi "kepretan" pertama yang Rizal lancarkan dari dalam pemerintahan Jokowi.  Rizal berpendapat, rute internasional tidak akan menjadi ladang untung bagi Garuda Indonesia. Contohnya, Singapore Airlines, yang punya kinerja keuangan kurang baik. Rizal menyebut, rute ke Amerika dan Eropa akan membuat maskapai Garuda merugi karena tingkat keterisian penumpangnya hanya 30 persen, jauh lebih kecil dari penerbangan domestik dan regional Asia. Rizal kala itu menyarankan Garuda lebih dulu memperkuat cengkeramannya di pasar regional selama lima sampai tujuh tahun ke depan.

Kepretan itu mendapat sambutan panas dingin dari rekan-rekan Rizal di dalam kabinet. Terutama dari Menteri BUMN, Rini Soemarno. Alasannya sepele, Rizal dianggap tidak berhak mencampuri urusan Garuda yang notabene di bawah koordinasinya. Bukan substansi kritik yang dipersoalkan Rini, melainkan kewenangan. Serangan ke Rizal juga datang dari Teten Masduki yang masih menjabat di Tim Komunikasi Presiden. Teten mengklaim, presiden sendiri yang menegur Rizal Ramli hanya karena tidak menyampaikan kritik atas kebijakan pemerintah secara internal.

Kritik Rizal soal pemborosan Garuda Indonesia menjadi kenyataan di waktu sekarang. Sebelum kabar laba anjlok mengemuka hari ini, Januari lalu, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mewanti-wanti Direksi Garuda Indonesia untuk tidak bermain-main dengan rencana pengembangan armada pesawat.

BPK mengingatkan agar Garuda tidak mengulang kesalahan pembelian pesawat sehingga menghasilkan pemborosan hingga US$ 94 juta per unit. Ultimatum ini datang berdasarkan hasil audit laporan keuangan Garuda Indonesia dalam kurun waktu 2011-2015. Beberapa poinnya sudah disampaikan BPK ke Direksi Garuda saat itu.

Berangkat dari kasus ini, dapat disimpulkan bahwa adalah lebih baik jika para menteri memiliki sikap mental yang lebih terbuka kepada masukan dan kritik, tanpa pandang siapa yang melontarkan masukan dan kritik itu. Sudah saatnya BUMN dikelola dengan profesional oleh orang yang juga profesional, bersih dan terbuka terhadap masukan. Bukan cuma bisa mempersoalkan batas wewenang dan hal remeh temeh yang tak substansial.

Kepretan pertama Rizal Ramli dapat kita jadikan pelajaran. [ald]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya