Berita

Enggar­tiasto Lukita/Net

Bisnis

Pasokan Kurang, Enggar Mau Impor Gula & Daging

Kemendag Persiapkan Kebutuhan Pangan Jelang Puasa
KAMIS, 23 MARET 2017 | 09:32 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mulai ancang-ancang mempersiapkan kebutuhan pangan untuk bulan Ramadhan. Antara lain, memperketat pengawasan distribusi dan menyiapkan opsi impor untuk bahan pokok yang pasokannya diproyeksi kurang.

Kemarin, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggar­tiasto Lukita mengumpulkan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) daerah di Kantornya.

Politisi Partai Nasdem tersebut mengajak jajaran pemerintah daerah tersebut untuk mening­katkan sinergi untuk menyiap­kan kebutuhan pangan bulan Ramadhan dan menjaga stabilitas harga.


Enggar ingin ketersediaan barang dan stabilitas harga ter­jaga dua pekan sebelum bulan Ramadhan.

"Saya akan mulai melakukan pemantauan ketat mulai H-14, tidak lagi baru melakukan pe­mantauan pada H-7. Itu kami akan lakukan hingga H+2 Ra­madan," tegas Enggar.

Enggar meminta, Kadisperindag lebih intensif mengawal rantai distribusi. Karena, hal tersebut sangat penting meng­ingat rantai distribusi pangan cukup panjang. Dari produksi hingga ke konsumen (end user) mencapai 6 sampai 7 tahapan.

Menurutnya, ketidakhadiran pemerintah di lapangan selama ini, menjadi penyebab pihak-pihak tertentu memanfaatkan kesempatan untuk meraup untuk besar.

"Ada ketidakefektifan dalam tata niaga. Celah itu kerap dimanfaatkan oknum tertentu untuk meraup keuntungan sepi­hak," terangnya.

Dia menyebutkan salah satu contoh bukti adanya ketidakefisienan dalam distribusi pangan. Seperti, belum lama ini Menteri Pertanian Amran Sulai­man menemukan pengiriman beras dari Jakarta ke Sumatera. Lucunya, Sumatera juga kirim beras ke Jakarta. "Ini kan tidak efisien, beras kok seperti bolak-balik. Untuk kebutuhan Jakarta, seharusnya diambil pasokan dari Jawa Barat seperti Indramayu," terangnya.

Untuk stok pangan, Enggar menargetkan seluruh Provinsi, Kabupaten/Kota sudah memi­liki stok untuk memenuhi ke­butuhan selama bulan Puasa dari jauh-jauh hari. Berapa stok, berapa putaran per hari, per bulan, dan perkembangan­nya akan dibahas lebih jauh antara pemerintah pusat dengan daerah.

Enggar memastikan pemerintah tidak akan impor beras untuk memenuhi kebutuhan Ra­madhan dan Idul Fitri. Karena, produksi beras dalam negeri mampu mencukup kebutuhan nasional. Bahkan, beberapa provinsi seperti Jawa Timur, Jawa Barat dan Sulawesi Se­latan memiliki kelebihan stok beras.

Enggar mengakui ada provinsi yang kekurangan stok beras. Masalah ini nanti bisa diatasi dengan mengirimkan beras dari daerah yang sur­plus.

Jika beras surplus, berbeda dengan beras dan daging. Menu­rut Enggar, stok kedua komodi­tas tersebut minim. Sehingga, pemerintah berencana melaku­kan impor.

Enggar menerangkan, kebutu­han gula konsumsi mencapai 3,3 juta ton per tahun. Sementara, produksi dalam negeri hanya mampu menghasilkan 2,2 juta ton per tahun. Dia menjamin volume impor tidak akan lebih dari selisih kebutuhan gula yang tidak mampu dipenuhi produsen dalam negeri.

"Kita akan mulai datang­kan gula dari Australia, supaya tidak hanya dari Thailand saja. Harganya juga sudah sama," kata dia.

Untuk daging, Kemendag be­rencana akan melakukan impor dari India.

Jangan Anggap Remeh Data Pangan

Deputi Gubernur Bank Indo­nesia (BI) Sugeng mengingatkan tentang pentingnya data pangan. Menurutnya, data pangan modal awal untuk memperbaiki kondisi pangan di Tanah Air. Karena, jika tidak ada data akurat dan terpercaya, dapat berimplikasi pada pengambilan keputusan yang keliru.

"Seperti masalah tingginya harga daging. Kita harus punya data yang akurat. Saat mengumpulkan data jumlah sapi, itu harus diteliti dengan tepat, apakah semua sapi itu siap dikonsumsi atau disembelih," kata Sugeng seperti dikutip mediaonline, kemarin.

Setelah memiliki data, lanjut Sugeng, jangan ditelan mentah-mentah. Data yang dimiliki harus dipetakan lagi.

"Jadi cara mengambil data dalam survei itu penting, ka­lau tidak kita sudah confident ternyata hasilnya me­leset, jadi kita tidak siap untuk impor," imbuhnya. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Fuad Bawazier: Kekayaan Alam Indonesia Dikuasai Segelintir Orang

Jumat, 19 Juni 2026 | 22:19

Nanik Deyang Langsung Ditelepon DPR Usai Didemo Mahasiswa

Jumat, 19 Juni 2026 | 22:08

Eks Dirjen Kuathan Emosional Bela Leonardi: Ini Perjuangan Negara

Jumat, 19 Juni 2026 | 21:53

Koperasi Karyawan Forwarder, Bukan Alat Konflik tapi Jembatan Keseimbangan

Jumat, 19 Juni 2026 | 21:37

Mahasiswa Bubarkan Diri Usai Bertemu Dasco Cs

Jumat, 19 Juni 2026 | 21:27

Fuad Bawazier Curiga Ada Penghambat di Lingkaran Istana

Jumat, 19 Juni 2026 | 21:19

IDEacraft Sulap Produk Dekorasi Rumah Menjadi Peluang Usaha Berkat Pemberdayaan BRI

Jumat, 19 Juni 2026 | 21:04

DPR Langsung Telepon Bahlil Menjawab Keresahan Mahasiswa

Jumat, 19 Juni 2026 | 20:35

Jalani Tes Kesehatan, Roy Suryo dan Dokter Tifa Selangkah Lagi ke Meja Hijau

Jumat, 19 Juni 2026 | 20:33

Penangkapan Roy Suryo dan Dokter Tifa Bukti Jokowi Sakti Mandraguna

Jumat, 19 Juni 2026 | 20:22

Selengkapnya