PT Garuda Indonesia (PerÂsero) Tbk menilai tingginya persaingan harga tiket antarÂmaskapai menjadi salah satu penyebab turunnya perolehan laba bersih perseroan sebeÂsar 9,36 juta dolar Amerika Serikat atau setara Rp 124,5 miliar Tahun 2016. Angka ini anjlok hingga 88 persen bila dibandingkan dengan laba bersih tahun sebelumnya yang mencapai 78 juta dolar AS setara Rp 1,03 triliun.
Direktur Utama Garuda IndoÂnesia M Arif Wibowo mengataÂkan, tren industri penerbangan di Asia Pasifik mengalami tekaÂnan selama lima tahun terakhir. Selain itu, adanya perlambatan ekonomi turut mempengaruhi daya beli masyarakat.
"Laba bersih kuartal IV Tahun 2016 sebesar 53 juta dolar AS, naik dibanding periode sama taÂhun sebelumnya 26,5 juta dolar AS. Secara keseluruhan turun hanya 9,36 juta dolar AS. Tapi, kami tetap dapat mempertahÂankan kinerja positif," ujarnya, di Jakarta, kemarin.
Alasan kondisi ekonomi tersebut, kata dia, mengacu pada kajian kinerja penerbanÂgan Asia Pasific yang dipubÂlikasikan Bloomberg, passenÂger yield industri penerbangan Asia Pasifik dalam 5 tahun terakhir mengamali tren penuÂrunan yang cukup signifikan, dari USC 9,6 per kilometer (km) pada tahun 2012 menjadi USC 6,2 per km di 2016.
Namun demikian, trafik penÂumpang tercatat menunjukkan tren peningkatan dari 511,6 juta penumpang di 2012 menjadi 632,8 juta penumpang di 2016.
"Kajian ini menunjukkan penerbangan di kawasan Asia Pasifik meski meningkat dari sisi trafik penumpang, tapi ada penurunan yield karena sebagian besar maskapai turut melakukan ekspansi dalam strategi penerbangan bisnisÂnya," katanya.
Menurutnya, capaian positif kinerja perusahaan terjadi pada pendapatan usaha (
operatÂing revenue), yakni naik dari 3,815 miliar dolar AS di 2015 menjadi 3,863 miliar dolar AS tahun ini atau naik 1,3 persen.
Selain itu, hingga akhir 2016, pihaknya berhasil menÂgangkut total sebanyak 35 juta penumpang baik Garuda Indonesia dan Citilink.
"Available seat kilometres/ASK (kapasitas kursi pesawat) jumlahnya 58,7 juta atau naik 13,3 persen dari sebelumnya 51,9 juta. Sementara untuk jumlah penumpang diangkat (
revenue passenger kilometres/RPK) 43,4 juta di 2016 atau naik 8,3 persen dibanding 2015 sebanyak 40 juta," terangnya.
Lebih lanjut dikatakannya, pihaknya juga mampu memÂpertahankan perkembangan bisnis kargo yang mengalami peningkatan jumlah angkutan kargo mencapai 18,22 persen. Hal ini dikarenakan adanya optimalisasi ruang kargo.
Di antaranya, sambung dia, memaksimalkan komoditas yang memiliki imbal hasil tinggi, membangun sinergi dengan sektor industri logistik lainnya dalam memaksimalÂkan jangkauan dan layanan produk kargo udara Garuda hingga menjangkau aspek layanan
door to door.Ke depan, pihaknya akan terus memperbesar kapasitas bisnis kargo melalui rute-rute penerbangan internasional yang kami layani. Saat ini, poÂsisi Garuda untuk market share sebesar 41,7 persen di pasar domestik dan 26,93 persen untuk pasar internasional.
"Untuk kargo angkutan 2016 mencapai 415,824 ton atau naik 18,22 persen dari capaian periode yang sama 351,724 ton. Secara keseluruhan, jumÂlah pendapatan pasar kargo mencapai 219,15 juta dolar AS, naik 16,65 persen dibanding 2015 hanya 187,87 juta dolar AS," tandasnya. ***