Berita

Nusantara

Prof Mudrajad Bertekad Jadikan UGM TOP

RABU, 22 MARET 2017 | 22:56 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

. Prof Mudrajad Kuncoro maju dalam pemilihan rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan niatan ingin menjadikan kampus perjuangan sebagai kampus paling top di Indonesia. Salah satunya, memperbaiki peringkat UGM dalam jajaran perguruan tinggi terbaik di dunia.

"Tidak usah tinggi-tinggi, lima tahun kedepan saya menentukan UGM masuk 10 besar universitas terbaik di ASEAN. Moso sekarang nomor 12. Berarti nanti kita mengalahkan UI, ITB dan UKM (Universitas Kebangsaan Malaysia)," kata Mudrajad saat berbincang dengan redaksi sesaat sebelum memberikan pemaparan tentang Indonesia Raya Incorporated (IRI) di Rakernas PPAD 2017 di Jakarta, Rabu (22/3).

Mudrajad saat ini tercatat sebagai ilmuwan terkemuka ke-13 di Indonesia dan sudah menulis 43 buku. Dia berkomitmen akan menggeser rangking UI dan ITB dalam jajaran universitas terbaik. Ia menjamin UGM menorehkan prestasi di level dunia.


"Peringkat UGM kalah dari UI dan ITB. Dari tahun ke tahun peringkat UGM stagnan, malah cenderungnya turun dan selalu di bawah UI. Kita kan gambarannya world class university, nanti dengan strategi UGM goes international kita benahi semuanya," kata sosok calon rektor UGM periode 2017-2022 ini.

Program yang telah disusun Mudrajad antara lain membentuk UGM Publication Center yang bertugas mencatat dokumentasi, meningkatkan publikasi dan sitasi para dosen UGM dengan sistem informasi terpadu.

Mudrajad mengatakan dirinya memiliki visi UGM TOP, alias UGM Terdepan, Optimal dan Proaktif. Maksudnya, terdepan dalam pendidikan riset, pengabdian dan ilmu, optimal dalam karya dengan komitmen dan kerja keras, serta proaktif dalam mencari solusi masalah nasional dan daerah.

Selain itu Mudrajad juga telah menyusun strategi bagaimana UGM goes nasional dan goes local jika dirinya terpilih menjadi rektor. Dengan program UGM goes national, target yang ingin disasar Mudrajad adalah menjadikan UGM terdepan, optimal dan proaktif dalam pembangunan nasional dan menyelesaikan masalah bangsa.

Karenanya, kata dia, dirinya akan mengarahkan model pendidikan, penelitian dan pengabdian civitas UGM berorientasi pada ilmu, kebijakan publik dan teknologi tepat guna, berorientasi kerakyatan, membangun desa, kampung dan daerah tertinggal.

"Jadi, UGM itu think thank and patner in progress. UGM menjadi pemberi solusi dari setiap permasalahan yang dihadapi pemerintah, bisnis maupun rakyat khususnya terkait isu-isu strategis pada level nasional. Misalnya membantu pemerintah pusat mengatasi masalah kemiskinan, ketimpangan, daya saing, pertumbuhan yang melemah," katanya.

Mengenai UGM goes local, jelas Mudrajad, UGM berarti harus proaktif dalam pembangunan ekonomi, sosial, politik dan budaya lokal. Pangkal utama agar peran ini bisa dijalankan, UGM perlu menyediakan program applicable bagi dunia usaha, pemerintah, dan rakyat lokal.

"Penelitian yang dilakukan para peneliti UGM tidak berhenti pada penemuan produk baru, proses baru, paten baru yang levelnya pilot project, namun  harus berdampak positif bagi pembangunan ekonomi sosial politik dan budaya lokal," katanya.

Hal penting lain yang disorot Mudrajad adalah krisis guru besar di UGM. Dia berkomitmen mendorong dosen S3 menjadi guru besar. Dari 324 guru besar yang ada di UGM saat ini, sebut dia, 40 persen diantaranya berusia di atas 60 tahun, sementara dalam 5 tahun kedepan minimal ada 50 diantara mereka pensiun.

"Saat ini guru besar hanya 24 persen dari jumlah dosen S3. Dibandingkan ITB, kita kalah jauh. Mereka punya guru 71 persennya dari dosen S3. Jadi nanti yang sudah bisa naik jadi guru besar kita dorong dan kita fasilitasi baik di fakultas dan universitas, kita permudah prosesnya," katanya.

"Minimal lima tahu kedepan kita punya 50 guru besar baru. Syukur-syukur bisa dua atau tiga kali lipatnya. Yang penting kita mempercepat prosesnya, kita bantu insentif untuk seremonialnya," paparnya.

Program andalan Mudrajad lainnya yang sekaligus membedakan dengan calon rektor lainnya adalah program UGMcare. Program yang disebutnya mirip Obamacare di AS ini diperuntukkan bagi para tenaga pendidikan UGM yang telah pensiun.

"Kalau sakit mahasiswa yang ditanggung BPJS itu hanya mahasiswa S1, S2 S3, sementara pensiunan tidak ditanggung. Kita perbaiki ini, kita kerjasama dengan BPJS. Gampang kok, kita punya rumah sakit akademik, kita punya medical center, kita punya koperasi, kenapa tidak kita sinergikan saja. Jadi kalau sakit kita beli obat di koperasi, kita sudah punya apotekinya dengan diskon khusus, kalau bisa free," tukasnya.[dem]

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya