Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Jangan Terlalu Seret Holding BUMN Ke Ranah Politik

RABU, 22 MARET 2017 | 09:22 WIB | LAPORAN:

Komisi VI DPR jangan menyeret upaya pembentukan holding BUMN ke dalam ranah politik. DPR seharusnya berpikir dalam konteks yang lebih luas.

"Politisnya jangan terlalu besar. Jangan terlalu diseret ke arah sudut pandang politik. DPR harusnya melihat dari sisi manfaat dan kepentingan bangsa dan negara,” kata Guru besar Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Ina Primiana

Pakar ekonomi dan bisnis ini menegaskan, harusnya DPR melihat bahwa pembentukan holding BUMN bisa memperkuat perusahaan negara dan juga meningkatkan efisiensi. Selama aset-aset yang dimiliki kuat dan SDM yang ditempatkan memiliki kompetensi dan integritas yang memadai, maka menurutnya tidak masalah.


"Karena banyak orang kita yang pintar, yang penting adalah the right man on the right place," lanjut Ina, yang juga peneliti dari Lembaga Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

Jika selama ini BUMN tidak berkembang karena mereka bekerja secara sendiri-sendiri, maka tidak ada salahnya ingin berkembang dan menghimpun kekuatan melalui holding.

Sementara itu, pengamat politik senior Arbi Sanit menilai sikap Komisi VI DPR terkesan mencari-cari dalih melalui penolakan terhadap PP Nomor 72 tahun 2016. Sebab, imbuh Arbi, keberadaan holding dikhawatirkan menjadi ancaman bagi para politisi untuk bisa mengambil rente ke BUMN-BUMN tersebut.

"Holding akan membuat satu pintu. Politisi akan sulit masuk melalui sistem tersebut, dibandingkan dengan kondisi saat ini yang terdiri atas banyak pintu," kata Arbi.

Dalam perspektif itulah Arbi menegaskan, anggota DPR memang sengaja menafikkan manfaat pembentukan holding. Termasuk di antaranya, dengan adanya holding, maka efisiensi akan meningkat. Begitu pula dengan peningkatan daya saing dengan luar, negeri, semua seperti tidak dilihat oleh politisi Senayan.[wid]


Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Trump Singkirkan Opsi Senjata Nuklir di Perang Iran

Jumat, 24 April 2026 | 16:14

Pengamat Bongkar Motif Ekonomi di Balik Serangan Trump ke Iran

Jumat, 24 April 2026 | 15:44

BPKH Pastikan Nilai Manfaat Dana Haji Kembali ke Jemaah

Jumat, 24 April 2026 | 15:38

40 Kloter Berangkat di Hari Keempat Operasional Haji, Satu Jemaah Wafat

Jumat, 24 April 2026 | 15:31

AHY Pastikan Sekolah Rakyat hingga Tol Jogja-Solo Berjalan Optimal

Jumat, 24 April 2026 | 15:24

Bahlil Harusnya Malu, Tugas Menteri ESDM Dikerjakan Presiden

Jumat, 24 April 2026 | 15:13

Iran Bebaskan Tarif Hormuz untuk Rusia dan Sejumlah Negara

Jumat, 24 April 2026 | 14:46

KPK Periksa Saksi Terkait Rp8,4 Miliar yang Disebut Khalid Basalamah

Jumat, 24 April 2026 | 14:43

Anak Buah Zulhas Sangkal KPK: Jabatan Ketum Tak Bisa Diintervensi

Jumat, 24 April 2026 | 14:17

Dorong Kartini Melek Digital, bank bjb Genjot UMKM Naik Kelas

Jumat, 24 April 2026 | 14:16

Selengkapnya